Winie Kaori: Pariwisata Bali Harus Didukung Pertanian dan Ekonomi Berkelanjutan

IMG-20260218-WA0064
Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota pada kegiatan BEIF 2026 di KEK Sanur, Denpasar, 18 Februari 2026.

DENPASAR | Dunia News Bali – Pelaku UMKM Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota menilai Bali Economic Investment Forum (BEIF) 2026 menjadi wadah penting mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta stakeholder pariwisata dalam memperkuat arah pembangunan ekonomi hijau di Bali.

Ia menegaskan kolaborasi merupakan garis utama untuk menciptakan kemandirian sektor pariwisata beserta ekosistem pendukungnya. Menurutnya, Bali tidak hanya bergantung pada industri wisata, tetapi memiliki potensi ekonomi dari hulu hingga hilir yang dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Hal tersebut disampaikan Winie Kaori di sela pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali masa bakti 2026–2031 yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertajuk Bali Economic Investment Forum (BEIF) 2026 di Bali International Hospital (BIH), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Denpasar, Rabu (18/2/2026).

Ia menyoroti ketimpangan pembangunan antara Bali Utara dan Bali Selatan yang kerap menjadi polemik. Namun menurutnya, kondisi tersebut masih memiliki solusi apabila ditangani melalui pendekatan ekonomi hijau dan pemecahan masalah berbasis kolaborasi.

Baca juga:  25 Pendonor Darah Sukarela Bali Raih Penghargaan SLKS Donor Darah 100 kali

“Forum BEIF 2026 berupaya menjawab persoalan kemacetan, sampah, hingga green economy melalui solusi dan problem solving,” ujarnya.

Winie menekankan pentingnya peningkatan keterampilan masyarakat Bali agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Masyarakat diharapkan mampu menjadi pelaku utama di sektor ekonomi, perdagangan, agrowisata hingga pariwisata.

“Kita membutuhkan peningkatan skill masyarakat Bali, dukungan akademisi, kebijakan pemerintah, dan peran pelaku usaha agar roda ekonomi berputar lebih kuat,” katanya.

Ia mencontohkan gerakan menanam sebagai langkah sederhana namun berdampak besar, karena selain mendukung pariwisata juga menjadikan lahan produktif serta berpotensi memenuhi kebutuhan komoditas ekspor.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki peluang besar di Bali, terutama komoditas rempah seperti cengkeh, kunyit, kayu manis, dan vanili yang bernilai jual tinggi dan cocok dikembangkan di Pulau Dewata.

Karena itu, Winie berharap sinergi antara petani, pelaku usaha, dan pemerintah dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Mari mulai menanam dari sekarang dengan memanfaatkan lahan kosong untuk komoditas ekspor,” pungkasnya.

Baca juga:  57 Pengurus Baru Warnai Muscab Hanura Bali, Wirajaya Wisna: "Kita Paling Solid"

Kegiatan tersebut turut dihadiri mantan Gubernur Bali dua periode Made Mangku Pastika, Ketua BPD PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), serta Prof. I Nyoman Sunarta sebagai moderator.

Seminar menghadirkan lima narasumber, antara lain Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja, perwakilan Pemkab Badung I Made Agus Aryawan, Kepala DPMPTSP Provinsi Bali I Ketut Sukra Negara, perwakilan Kadin Bali Gede Wiratha, serta President Director PT Swire Investment Indonesia BIH KEK Bali Beach Sanur Ainsley Mann.

Gubernur Bali Wayan Koster membuka sekaligus meresmikan kegiatan yang mengusung tema “Green Investment sebagai Penggerak Utama Menuju Indonesia Emas 2045”.

Turut hadir Ketua Umum DPP NCPI Gusti Kade Sutawa, Ketua DPW NCPI Bali Agus Maha Usadha, Ketua Panitia BEIF 2026 I Made Mendra Astawa, serta Kepala Bidang Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dispar Bali I Ketut Yadnya Winarta. (red/dnb)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan