DENPASAR | Dunia News Bali – Semangat emansipasi perempuan kembali digaungkan dalam menyambut Hari Kartini melalui kegiatan arisan gotong royong Teras Ayung bertema “Kartini Masa Kini” yang digelar di UC Silver Bali, Jumat (10 April 2026).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi perempuan untuk memperkuat peran, keberanian, dan kemandirian di era modern.
Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan perempuan dari beragam latar belakang, serta melibatkan penyandang disabilitas dari Yayasan Cahaya Mutiara Ubud sebagai bentuk nyata semangat inklusivitas dan kesetaraan.
Acara berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, sekaligus menjadi ruang refleksi untuk memaknai kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam konteks kehidupan perempuan masa kini.

Ketua Umum DPC HIPPI Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, menegaskan bahwa perempuan masa kini harus memiliki keberanian dalam menjaga diri serta martabatnya, sekaligus berperan aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
“Perempuan harus berani berkata tidak terhadap segala bentuk kekerasan. Kita mampu melindungi diri, menjaga harkat dan martabat, serta membangun nilai diri melalui komunikasi, sikap, dan tindakan,” ujarnya.
Ia juga mendorong perempuan untuk terus mengembangkan keterampilan, berani bermimpi, serta menciptakan peluang baru sebagai wujud nyata semangat Kartini masa kini.

Sementara itu, Ketua DPD HIPPI Bali, Dr. AAA. Ngurah Tini Rusmini Gorda, menegaskan bahwa Kartini masa kini adalah perempuan yang mampu mengimplementasikan gagasan emansipasi melalui keterlibatan aktif di berbagai bidang.
Menurutnya, emansipasi bukanlah upaya untuk mengalahkan pihak tertentu, melainkan bagaimana perempuan dapat berkontribusi bagi keluarga dan bangsa melalui pendidikan.
“Melalui pendidikan, perempuan bisa terlibat secara aktif untuk kepentingan keluarga dan bangsa. Setiap zaman akan melahirkan inovasi-inovasi dari pemikiran Kartini,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan era digital yang menuntut perempuan untuk lebih sadar terhadap perkembangan teknologi, terutama dalam mendampingi anak-anak di lingkungan keluarga.
“Perempuan harus aware terhadap teknologi, sehingga anak-anak tidak keluar dari pengawasan keluarga.
Pendampingan harus terus diedukasi dan diadvokasi agar anak tidak terpapar dampak negatif teknologi,” ujarnya.
Terkait budaya patriarki, ia menekankan pentingnya komunikasi dan pembagian peran agar perempuan mampu menyetarakan diri dan berani menyuarakan pendapat.
“Budaya patriarki perlu dikomunikasikan. Yang penting adalah berbagi peran, sehingga hal-hal negatif tidak menjadi penghalang bagi perempuan untuk maju,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam menghadapi kekerasan, perempuan perlu dibekali pendidikan dan kemandirian ekonomi agar memiliki posisi tawar yang kuat.
“Kalau ingin speak up, perempuan harus punya ilmu. Pendidikan adalah kunci, dan kemandirian ekonomi akan memperkuat posisi perempuan sehingga kekerasan bisa diminimalkan,” ungkapnya.

Kehadiran penyandang disabilitas dalam kegiatan ini turut memperkuat pesan inklusivitas dan kesetaraan. Salah satu peserta, Ni Made Ratni dari Yayasan Cahaya Mutiara Ubud di Tampaksiring, yang telah tergabung sejak tahun 2014, menyampaikan bahwa Hari Kartini menjadi simbol penting bagi perempuan untuk mandiri dan berdaya.
“Hari Kartini menunjukkan bahwa perempuan bisa lebih mandiri. Tidak hanya tinggal di rumah, tetapi juga dapat berkarier, berkarya, dan menginspirasi banyak orang,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti masih adanya ketimpangan kesempatan bagi perempuan, terutama yang telah menikah, yang kerap dibatasi pada peran domestik.
Padahal, menurutnya, perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk bekerja sekaligus mengurus keluarga.
Ratni menilai tantangan terbesar saat ini adalah masih kuatnya budaya patriarki di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki seharusnya memiliki kesempatan yang setara dalam berbagai aspek kehidupan.
“Perempuan bisa bekerja dan mengurus anak, dan laki-laki juga seharusnya bisa berbagi peran tersebut,” tegasnya.
Di lingkungan yayasan, nilai kesetaraan tersebut telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam berbagai aktivitas.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga mempertegas bahwa semangat Kartini masa kini adalah tentang keberanian, kesetaraan, serta pemberdayaan perempuan secara inklusif di berbagai lini kehidupan. (Ich)



