BI Waspadai Dampak Geopolitik, Siapkan Strategi Jaga Ekonomi Bali

IMG-20260422-WA0160

DENPASAR | Dunia News Bali – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bali di tengah dinamika geopolitik global. Melalui Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, berbagai langkah strategis disiapkan agar kinerja ekonomi daerah tetap terjaga dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan BALINOMICS yang digelar pada 21 April 2026. Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga media, guna memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Bali yang pada 2025 mencapai 5,82 persen (yoy), melampaui rata-rata nasional. Capaian ini juga menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, didukung oleh inflasi yang tetap terkendali.

Namun demikian, BI mengingatkan adanya risiko dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi Bali. Gangguan konektivitas penerbangan internasional, khususnya dari kawasan Eropa, serta kenaikan harga tiket menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Baca juga:  Diduga Tahan Rp6 Miliar Uang Service Karyawan, Hotel Holiday Inn Bali Jadi Sorotan!

Berdasarkan asesmen terbaru, kondisi tersebut diperkirakan dapat menimbulkan potensi kerugian ekonomi Bali hingga 0,05 persen. Untuk itu, BI menyiapkan empat pilar utama guna menjaga ketahanan ekonomi daerah, yakni memperkuat sektor pariwisata sebagai backbone, mendorong investasi sebagai sumber pertumbuhan baru, mengembangkan sektor pertanian untuk diversifikasi ekonomi, serta mempercepat digitalisasi UMKM.

Dalam forum diskusi, para narasumber juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan fiskal dari sisi supply untuk menjaga momentum pertumbuhan pada triwulan I 2026. Strategi front-loaded fiscal dinilai efektif dalam mempercepat perputaran ekonomi, terutama melalui belanja modal pemerintah.

Digitalisasi turut menjadi sorotan sebagai katalis pertumbuhan. Perkembangan transaksi digital, termasuk optimalisasi QRIS lintas negara (cross border), dinilai mampu meningkatkan kemudahan dan kenyamanan wisatawan dalam bertransaksi, sekaligus memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi global.

Selain itu, diversifikasi ekonomi menjadi agenda penting. Ketergantungan tinggi terhadap sektor pariwisata dinilai perlu diimbangi dengan penguatan sektor lain. Data menunjukkan sekitar 50 persen kontribusi pariwisata nasional berasal dari Bali, yang sekaligus mencerminkan tingginya ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor tersebut.

Baca juga:  Strategi Nindihin Bali ala Koster

Pengalaman saat pandemi menjadi pelajaran penting bahwa struktur ekonomi yang terlalu terfokus pada pariwisata rentan terhadap guncangan. Oleh karena itu, transformasi ekonomi berbasis diversifikasi dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan ekonomi Bali.

Ke depan, BI juga menekankan pentingnya pengelolaan persepsi publik melalui komunikasi yang akurat dan berimbang, terutama terkait isu geopolitik global. Peran media dinilai krusial dalam menjaga optimisme dan stabilitas ekonomi daerah.

Sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran Program Pendidikan Kebanksentralan 2026 yang melibatkan lima perguruan tinggi di Bali. Program ini bertujuan meningkatkan literasi ekonomi, kapasitas akademik, serta mencetak SDM unggul yang mampu mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia. (red)

Berita Terpopular