Alarm Merah Ekosistem Bali: Setelah Degradasi Tanah, Lima Danau Kritis Dikepung Sedimentasi dan Invasi ‘Red Devil’

DENPASAR | dunianewsbali – Sektor hulu lingkungan hidup Pulau Bali kini berada dalam status “alarm merah”. Belum usai perkara anjloknya kadar organik tanah sawah tersisa 1%, kini lima danau purba di Bali yang menjadi urat nadi pasokan air bagi kehidupan dan pertanian—Danau Batur, Beratan, Tamblingan, Buyan dan Yeh Malet—dilaporkan dalam kondisi kritis akibat pencemaran akut, pendangkalan drastis, hingga invasi predator asing.

Hal tersebut diungkapkan secara blak-blakan oleh Pakar Pertanian Organik sekaligus Kelompok Ahli Gubernur Bali, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. (15/5/2026). Ia menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa tindakan radikal, kualitas air di danau-danau Bali yang bertipe kaldera terkungkung (tanpa inlet dan outlet alami) akan merosot dari kelas tiga menuju kelas empat alias tidak layak pakai.

Pakar Pertanian Organik Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S.

Kronologi Krisis Danau Bali: Mengapa, Di mana, dan Kapan Terjadi?

Krisis ini telah berlangsung secara akumulatif dalam beberapa tahun terakhir dan mencapai puncaknya baru-baru ini saat fenomena kematian ikan massal melanda Danau Batur akibat hilangnya pasokan oksigen di dalam air (eutrofikasi).

Berdasarkan hasil pemetaan data lapangan terbaru, berikut adalah anatomi ancaman di lima danau Bali:

Pencemaran Kimia & Limbah Cair: Penggunaan pestisida serta pupuk sintetik dari aktivitas pertanian di sekitar danau, ditambah limbah domestik dan restoran yang merembes melalui tekstur tanah berpasir, telah membuat air danau “terlalu subur” secara kimiawi hingga mengubah warna Danau Batur menjadi hijau pekat.

Baca juga:  KEK Kura-Kura Bali dan Jejak Pelepasan Hutan: Fakta di Balik Polemik

Pendangkalan Agresif: Sedimentasi akibat erosi lahan membuat kedalaman danau menyusut drastis. Danau Buyan yang semula memiliki kedalaman 140 meter kini tersisa hanya kisaran 80 meter. Sementara Danau Batur menyusut dari 120 meter menjadi berkisar 64 hingga 80 meter saja.

Invasi Spesies Asing (Red Devil): Keberadaan keramba jaring apung diperparah dengan ledakan populasi ikan Red Devil yang kini menguasai 60% ekosistem danau. Ikan predator agresif ini mampu bertahan di kondisi minim oksigen, sehingga dengan cepat menghabisi populasi ikan lokal. Sementara di Danau Beratan dan Buyan, ekosistem mulai diganggu oleh ikan zebra.

Jenis ikan red devil yang menjadi ancaman ekosistem danau di Bali

“Danau-danau kita terbentuk dari letusan gunung purba, sifatnya terkungkung. Sederhananya, tidak boleh ada bahan kimia atau limbah apa pun yang masuk ke sana karena kotorannya akan mengendap selamanya,” tegas Prof. Kartini.

Dampak Berantai: Keringnya Mata Air Purba di Tampaksiring

Dampak nyata dari tertutupnya pori-pori dasar danau akibat sedimentasi tebal ini mulai dirasakan di hilir. Jalur interkoneksi air bawah tanah kuno kini mulai tersumbat.

Prof. Kartini menceritakan sebuah fakta historis unik untuk menggambarkan kondisi ini. Pada zaman kolonial Belanda, para peneliti pernah melakukan uji lacak aliran air dengan menuangkan zat pewarna merah di Danau Batur. Hasilnya, warna merah tersebut muncul di kompleks mata air suci Tampaksiring, Gianyar.

Baca juga:  Energi vs Ruang Hidup: Rencana LNG Serangan Didorong Dievaluasi Menyeluruh

“Sekarang, debit mata-mata air di bawah (hilir) seperti di Tampaksiring itu terus mengecil. Ini bukti nyata bahwa sedimentasi di hulu telah menyumbat pori-pori bumi tempat keluarnya air. Endapan lumpur ini harus segera disedot, namun opsi ini belum menjadi prioritas pemikiran kita bersama,” ungkapnya.

Evaluasi 7 Tahun Perda: Komitmen Pemerintah vs Mentalitas “Kerja Sendiri”

Sebagai bagian dari Kelompok Ahli Gubernur, Prof. Kartini mengapresiasi keseriusan jajaran pemerintah daerah yang sebenarnya telah membentuk berbagai Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan, baik untuk penanganan sampah maupun lingkungan hidup. Bahkan, pengerukan sedimen dan gulma baru-baru ini berhasil mengembalikan estetika Danau Yeh Malet.

Danau Batur Kintamani, salah satu danau besar di Bali

Namun, ia mengkritik keras mandeknya implementasi Perda No. 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik yang sudah menginjak usia 7 tahun. Menurutnya, regulasi yang matang belum didukung oleh sinergi anggaran dan metode eksekusi di lapangan.

“Masalah utamanya adalah belum jalannya prinsip 3K: Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi. Instansi-instansi kita masih bekerja sendiri-sendiri. Aturan dan sosialisasi sampah sudah siap, tapi yang hilang adalah pendampingan intensif. Mengubah perilaku masyarakat mengelola sampah itu adalah urusan membangun karakter, tidak bisa instan,” urai Prof. Kartini.

Solusi Integrasi: Mengawinkan Sampah Kota dengan Penyelamatan Hulu

Sebagai jalan keluar konkret, Prof. Kartini mendesak pemerintah untuk segera mengintegrasikan pengelolaan sampah perkotaan dengan penyelamatan ekosistem air hulu.

Seluruh kawasan pemukiman, hotel, dan restoran di wilayah hulu wajib memiliki sistem pengolahan limbah mandiri agar tidak ada rembesan domestik yang masuk ke badan air.

Baca juga:  Pansus TRAP DPRD Bali Temukan Dugaan Manipulasi Lahan di Sempadan Danau Beratan

Di sisi lain, potensi 900 ton pupuk organik per hari yang bersumber dari 65% sampah domestik Bali harus segera didistribusikan secara masif untuk mendukung pertanian organik total di sekitar danau. Jika sektor pertanian di sekitar danau beralih penuh ke sistem organik, maka aliran residu beracun ke danau dapat dihentikan, tanah marginal Bali subur kembali, dan kelestarian ekosistem air dapat terjaga secara kontinu.

“Sekarang saatnya kita buka semua data apa adanya, tidak ada lagi yang bisa atau perlu ditutupi. Semua pihak, termasuk rekan-rekan jurnalis, harus menyebarluaskan kondisi riil ini agar seluruh masyarakat sadar dan bergerak bersama demi masa depan anak cucu Bali,” pungkasnya. (Brv)

Berita Terpopular

Scroll to Top