DENPASAR | Dunia News Bali – Festival Penjor 2026 di Desa Adat Serangan, Denpasar Selatan, kembali digelar sebagai wujud pelestarian budaya Bali sekaligus memperkuat kolaborasi antara masyarakat adat dengan PT Bali Turtle Island Development (BTID). Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
Antusiasme para yowana tampak tinggi dalam proses pembuatan penjor yang sarat makna filosofis. Dalam ajaran Hindu di Bali, penjor melambangkan gunung yang suci sebagai simbol kemakmuran, kesucian, dan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bendesa Adat Serangan, Nyoman Gede Pariatha, mengapresiasi dukungan BTID yang sejak awal menjadi penggagas sekaligus pendukung penyelenggaraan festival, baik dari sisi pendanaan maupun operasional.
Menurutnya, biaya pembuatan satu penjor dapat mencapai lebih dari Rp5 juta sehingga kolaborasi tersebut sangat membantu masyarakat dalam mempertahankan tradisi. Ia menyampaikan hal itu di sela Festival Penjor, Kamis (25/6/2026).
Festival tahun ini diikuti lima banjar, yakni Banjar Ponjok, Banjar Kaja, Banjar Kawan, Banjar Peken, dan Banjar Dukuh. Sementara Banjar Tengah belum dapat berpartisipasi sehingga jumlah peserta berkurang dibanding sebelumnya yang melibatkan enam banjar.
Pariatha menjelaskan, Festival Penjor menjadi bagian dari rangkaian Pujawali Pura Dalem Sakenan yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan pada 17 Juni 2026 dan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026.
Menurutnya, tujuan utama festival bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur serta menjadi wadah kreativitas generasi muda dalam membuat penjor sesuai pakem tradisi.
Ia mengungkapkan semangat para peserta terlihat dari proses pengerjaan yang dilakukan hingga larut malam selama satu hingga dua bulan. Hal itu dinilai mencerminkan rasa tanggung jawab generasi muda dalam melestarikan warisan budaya dan memahami makna spiritual penjor sebagai bagian penting dari perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan hubungan harmonis antara BTID dan Desa Adat Serangan telah terjalin dengan baik melalui berbagai program kolaborasi.
Menurutnya, Festival Penjor merupakan salah satu bentuk dukungan perusahaan terhadap pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan pemuda desa menjelang Hari Raya Kuningan dan Pujawali Pura Dalem Sakenan.
Zefri menjelaskan, Festival Penjor 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga sejak diinisiasi BTID. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya yang sepenuhnya didukung perusahaan, tahun ini kegiatan juga mendapat dukungan dari sejumlah sponsor lain.
BTID sendiri mengalokasikan anggaran sekitar Rp50 juta untuk mendukung penyelenggaraan sekaligus memberikan apresiasi kepada para pemenang lomba.
Selain Festival Penjor, BTID juga secara rutin mendukung berbagai kegiatan masyarakat Desa Adat Serangan, termasuk pembinaan kepemudaan dan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia melalui beragam perlombaan.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu dewan juri, I Gede Arum Gunawan, S.Ag., M.Ag., yang juga Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menjelaskan bahwa penilaian lomba tidak hanya mengutamakan keindahan visual.
Aspek terpenting adalah kelengkapan sebelas unsur wajib dalam penjor sebagaimana tercantum dalam Lontar Dharmaning Uparena. Setelah unsur tersebut terpenuhi, penilaian dilanjutkan pada aspek estetika, harmonisasi bentuk dan warna, serta kekuatan struktur penjor. Pelanggaran terhadap ketentuan yang telah disepakati akan memengaruhi nilai peserta.
Melalui Festival Penjor, masyarakat Desa Adat Serangan berharap tradisi yang menjadi identitas budaya Bali ini terus lestari sekaligus mampu menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab generasi muda untuk menjaga warisan leluhur. (rz)