BADUNG | Dunia News Bali – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai berdampak terhadap mobilitas wisatawan. Kemacetan di sejumlah titik, terutama di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), bahkan menyebabkan anggota pelaku usaha perjalanan wisata kesulitan mengantar wisatawan menuju bandara.
Ketua DPD Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., mengungkapkan situasi tersebut menjadi perhatian serius bagi industri pariwisata. Ia berharap persoalan pasokan BBM segera teratasi agar tidak mengganggu jadwal perjalanan wisatawan, termasuk keberangkatan melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Menurut Winastra, kendala paling terasa saat ini dialami kendaraan berukuran kecil, khususnya mobil van yang banyak digunakan untuk mengangkut wisatawan. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perjalanan wisata harus menyesuaikan jadwal kegiatan agar perjalanan tetap berjalan sesuai rencana.
“Dengan situasi ini, memang terjadi kemacetan sehingga ada anggota ASITA yang tidak bisa ke airport karena macet di sekitar pom bensin,” ujar Winastra di sela-sela pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali Tahun 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).
Musda XV ASITA Bali tahun ini mengusung tema “Repositioning the Future of Tourism”.
Winastra berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memperhatikan kelancaran akses jalan, terutama ruas yang menjadi jalur utama menuju bandara. Menurutnya, pengaturan dan kelancaran lalu lintas perlu menjadi perhatian agar wisatawan tidak sampai tertinggal penerbangan akibat kemacetan yang dipicu antrean BBM.
“Harapan kami adalah ruas jalan yang dipakai untuk menuju tempat-tempat, misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang. Itu yang kita harapkan,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, Winastra menyebut hingga saat ini belum ada pembatalan perjalanan wisata yang diterima pihaknya. Namun, wisatawan yang sudah berada di Bali mulai menyesuaikan agenda kunjungan, terutama untuk menghindari kawasan yang mengalami kepadatan.
ASITA Bali, lanjutnya, mengarahkan kegiatan wisata yang sebelumnya direncanakan di kawasan Bali Selatan ke destinasi lain yang relatif lebih lengang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus mengurangi risiko terjebak kemacetan.
“Untuk sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, ASITA Bali membawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit keramaiannya,” jelas Winastra.
Ia menambahkan, persoalan BBM dan dampaknya terhadap lalu lintas terjadi di berbagai wilayah Bali. Karena itu, situasi tersebut perlu dipahami dan disikapi bersama oleh seluruh pemangku kepentingan agar dampaknya terhadap aktivitas pariwisata tidak semakin meluas.
Winastra menegaskan, keberlanjutan pasokan BBM menjadi hal penting bagi industri perjalanan wisata, mengingat kelancaran transportasi merupakan bagian dari pelayanan kepada wisatawan.
Ia berharap kelangkaan BBM di Bali tidak berlangsung terlalu lama. Kepastian kondisi di lapangan juga diperlukan agar pelaku industri pariwisata dapat memberikan penjelasan yang tepat kepada mitra perjalanan di luar negeri.
“Harapan kita jangan terlalu lama. Kalau situasinya terus berlanjut seperti ini, saya kurang tahu. Jadi, harapan kita jangan terlalu lamalah,” tutupnya.
Di sisi lain, Winastra juga menyoroti pentingnya pengembangan pariwisata regeneratif (regenerative tourism), yakni pendekatan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi destinasi dan masyarakat lokal.
Menurutnya, wisatawan semestinya tidak hanya menikmati keindahan Bali, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat setempat.
Ia mencontohkan kegiatan wisata di desa wisata yang melibatkan pengunjung dalam penanaman pohon, pelestarian alam, serta interaksi dan berbagi manfaat dengan masyarakat lokal.
“Ke depan, setiap wisatawan yang datang ke Bali tidak hanya berkunjung, tetapi bagaimana mereka berkontribusi terhadap destinasi itu sendiri,” ujarnya.
Bagi ASITA Bali, penguatan pariwisata regeneratif perlu berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur dan kelancaran transportasi. Dengan demikian, Bali tidak hanya mampu menjaga kualitas pengalaman wisatawan, tetapi juga memastikan aktivitas pariwisata memberikan manfaat berkelanjutan bagi destinasi dan masyarakat. (dnb13)