BANGLI | Dunia News Bali – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, kembali mendapat pengakuan internasional. Desa adat yang dikenal dengan kebersihan lingkungan, arsitektur tradisional, serta kelestarian budayanya itu masuk dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi majalah perjalanan internasional Condé Nast Traveller 2026.
Pengakuan tersebut, sebagaimana diberitakan Kompas.com pada 11 Oktober 2026, menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata budaya yang memiliki daya tarik hingga tingkat dunia.
Keistimewaan Penglipuran tidak hanya terletak pada panorama desa yang tertata rapi, tetapi juga pada kehidupan masyarakat adat yang secara turun-temurun menjaga keseimbangan antara budaya, manusia, dan alam. Deretan rumah tradisional Bali, lingkungan yang bersih, serta suasana desa yang asri menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu ciri khas Penglipuran adalah penerapan filosofi tata ruang Tri Mandala, yang membagi kawasan desa menjadi Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Konsep tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan kehidupan spiritual, sosial, dan lingkungan.
Selain itu, sekitar 40 persen wilayah Desa Penglipuran merupakan kawasan hutan bambu. Kawasan ini tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, tetapi juga berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.
Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas perhatian media internasional terhadap desa wisata tersebut.
Menurutnya, masuknya Penglipuran dalam daftar 53 desa dan kota kecil terindah di dunia merupakan sebuah kehormatan. Namun, hal yang lebih penting adalah pengakuan terhadap konsistensi masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur selama ratusan tahun.
Masyarakat Penglipuran dinilai berhasil mempertahankan arsitektur tradisional, melestarikan hutan bambu, serta menjadikan kebersihan dan keharmonisan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sumiarsa menegaskan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen masyarakat dalam menjalankan nilai-nilai filosofi Tri Hita Karana, yang mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Keindahan Penglipuran bukanlah sesuatu yang diciptakan hanya untuk kepentingan pariwisata. Keindahan ini tumbuh dari budaya dan cara hidup masyarakat kami. Pariwisata hadir kemudian, dan menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan bahwa perkembangan pariwisata tidak menghilangkan jati diri desa,” ujarnya.
Pengakuan internasional tersebut menjadi momentum bagi Desa Wisata Penglipuran untuk semakin memperkuat arah pengembangan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif (regenerative tourism).
Melalui pendekatan ini, keberhasilan sektor pariwisata tidak semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan maupun pendapatan yang dihasilkan. Lebih dari itu, pariwisata diharapkan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, pelestarian budaya, serta kesejahteraan masyarakat setempat.
Sejumlah upaya terus dilakukan pengelola desa wisata, mulai dari pelestarian hutan bambu, penghijauan, pengelolaan sampah, pemeliharaan rumah adat dan fasilitas desa, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada wisatawan.
Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik masyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara lebih luas.
“Kami memiliki visi bahwa pariwisata harus mampu menjadikan Desa Penglipuran lebih baik dari sebelumnya. Lingkungan harus semakin terawat, budaya semakin kuat, masyarakat semakin sejahtera, dan wisatawan mendapatkan pengalaman yang semakin berkualitas. Inilah makna pariwisata regeneratif yang ingin kami wujudkan di Penglipuran,” jelas Sumiarsa.
Selain menjaga kelestarian lingkungan dan budaya, Penglipuran terus mengembangkan pengalaman wisata yang lebih autentik dan edukatif. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati keindahan jalan utama desa serta arsitektur rumah tradisional, tetapi juga diperkenalkan pada kehidupan masyarakat secara langsung.
Berbagai aktivitas budaya ditawarkan untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Di antaranya menyaksikan pertunjukan Barong Macan, mempelajari pembuatan loloh atau minuman herbal tradisional Bali, melukis di atas bambu, menikmati kuliner khas Penglipuran, hingga membeli produk kerajinan hasil karya masyarakat setempat.
Melalui pengalaman tersebut, wisatawan diharapkan tidak sekadar berkunjung untuk berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali.
Pengelola desa turut mengajak pengunjung berperan aktif menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang disediakan, menghormati adat dan tradisi setempat, serta mendukung perekonomian warga melalui pembelian produk UMKM lokal.
“Kami ingin wisatawan pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan indah. Kami berharap mereka membawa pengalaman tentang bagaimana masyarakat hidup harmonis dengan alam dan budaya. Kami juga ingin setiap kunjungan memberikan manfaat positif bagi desa dan masyarakat,” ungkap Sumiarsa.
Perhatian yang kembali diberikan oleh media perjalanan internasional diharapkan mendorong semakin banyak wisatawan dari berbagai negara untuk mengenal Desa Wisata Penglipuran lebih dekat.
Bagi pengelola dan masyarakat adat, pengakuan tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas destinasi, menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, serta mengembangkan inovasi pariwisata tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.
“Kami mengundang wisatawan dari seluruh Indonesia dan berbagai belahan dunia untuk datang dan merasakan langsung keindahan Desa Penglipuran. Silakan menikmati suasana desa, mengenal masyarakat kami, mencicipi kuliner tradisional, serta melihat berbagai produk UMKM yang dibuat oleh warga,” ajak Sumiarsa.
Ia menegaskan, penghargaan dan pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir. Tanggung jawab yang lebih besar adalah memastikan Penglipuran tetap menjadi desa yang indah, hijau, lestari, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
“Bagi kami, penghargaan dan pengakuan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab untuk terus menjaga Penglipuran. Kami ingin mewariskan desa yang bukan hanya tetap indah, tetapi semakin hijau, semakin lestari, dan semakin menyejahterakan masyarakatnya. Karena pariwisata yang berhasil bukan hanya membuat wisatawan bahagia, tetapi juga membuat desa dan masyarakatnya memiliki masa depan yang lebih baik,” tutupnya. (dnb13)