Koster Dorong Model Driver Online Berbasis Desa Adat, Bisa Diterapkan di Ubud dan Sanur

IMG-20260309-WA0018

DENPASAR | Dunia News Bali – Gubernur Bali, Wayan Koster, menerima audiensi komunitas pengemudi taksi online yang tergabung dalam Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC) di Jayasabha, Denpasar, Minggu (8/3) pagi. Dalam pertemuan tersebut, Gubernur menyatakan dukungan terhadap keberadaan komunitas driver berbasis krama desa adat yang beroperasi di kawasan pariwisata Nusa Dua.

Menurut Koster, model pengelolaan transportasi yang melibatkan langsung masyarakat adat merupakan langkah positif dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di Bali, khususnya di wilayah destinasi wisata.

“Bagus sekali jika desa adat dan krama desa sendiri yang menjalankan layanan di wilayahnya. Saya tentu sangat mendukung,” ujar Koster.

Ia juga meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali untuk membantu mempercepat proses perizinan bagi para pengemudi yang belum melengkapi legalitas operasionalnya. Menurutnya, keberadaan TNDC tidak hanya membuka peluang ekonomi bagi warga lokal, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi wisatawan.

“Ini ekonomi kerakyatan yang memberdayakan warga lokal di Nusa Dua. Apalagi banyak driver yang mampu berbahasa Inggris, itu sudah sangat baik,” tambahnya.

Baca juga:  Divergent Mind: Membaca Kebebasan Berpikir Made Romi Sukadana Lewat Lukisan

Lebih lanjut, Koster mendorong agar konsep serupa dapat diterapkan di destinasi wisata lainnya di Bali, sehingga manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.

“Kalau bisa dipolakan juga di desa-desa tujuan wisata lainnya seperti Ubud dan Sanur. Ini sangat baik untuk pemerataan ekonomi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengingatkan para pengemudi untuk selalu menjaga persatuan dan kerukunan di antara sesama driver, serta menjunjung tinggi etika dan sopan santun saat melayani wisatawan.

“Selalu jaga persatuan, rukun sesama saudara driver. Jangan bertengkar. Jaga sopan santun dan etika dalam menjalankan tugas,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Taruna Nusa Dua Driver Online, I Made Arta, menjelaskan bahwa TNDC merupakan komunitas pengemudi yang berbasis krama adat di kawasan Nusa Dua. Hingga saat ini, komunitas tersebut menaungi sekitar 516 driver yang telah beroperasi sejak tahun 2019.

Menurut Arta, komunitas TNDC dibangun melalui sinergi dengan pemerintah serta dilengkapi legalitas dan wadah koperasi. Sistem yang dijalankan juga mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Baca juga:  Bali Perkuat Ketahanan Pangan dengan Luncurkan Sapatani dan Fitur Baru SiGapura

“Komunitas ini berbasis krama adat di Nusa Dua. Yang dapat mengambil penumpang di kawasan tersebut adalah krama adat setempat. Kami juga tidak memiliki masalah dengan pengemudi konvensional,” ujarnya.

Ia menambahkan, para driver TNDC berkomitmen menjalankan arahan pemerintah daerah sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali, termasuk menerapkan prinsip Tri Hita Karana dalam aktivitas mereka.

“Kami selalu menjaga etika, berpakaian rapi, bahkan pada hari-hari tertentu menggunakan pakaian adat Bali,” katanya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, desa adat, dan komunitas driver, Gubernur Koster berharap sistem transportasi pariwisata di Bali dapat berjalan lebih tertib, berbudaya, serta mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. (red)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan