Tabanan – dunianewsbali.com, Semangat menghidupkan kembali kejayaan peradaban Nusantara diwujudkan melalui kehadiran Museum Majapahit Tanah Lot yang berlokasi di kawasan Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali. Museum ini diresmikan oleh Bupati Tabanan pada 15 November 2025 dan resmi dibuka untuk umum sejak 30 November 2025.
Direktur Utama Museum Majapahit Tanah Lot, I Gusti Made Suryantha Putra (Gung Sena), mengatakan bahwa pendirian museum ini bukan sekadar proyek wisata, melainkan panggilan sejarah dan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga warisan peradaban Nusantara.
“Ini panggilan dari sejarah. Saya kebetulan berlatar belakang sejarawan, pernah menimba ilmu di Fakultas Sastra jurusan Sejarah Budaya. Dari situlah saya merasa terpanggil untuk ikut mewujudkan museum ini,” ujar Gung Sena kepada wartawan, Selasa, 31 Desember 2025, di Museum Majapahit Tanah Lot.
Ia menjelaskan, gagasan pembangunan museum ini sejatinya telah dirintis sejak lama, bahkan sempat terhenti selama sekitar 10 tahun. Baru setelah dirinya terlibat, proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun hingga akhirnya museum dapat berdiri dan beroperasi.
“Prosesnya panjang. Ada yang sudah bermimpi membuat museum ini selama 10 tahun tapi belum terwujud. Setelah saya terlibat, kami proses sekitar dua tahun, dari tanah kosong sampai jadi museum seperti sekarang. Syukur akhirnya bisa terwujud,” katanya.
Gung Sena menuturkan, museum ini baru beroperasi sekitar satu bulan, namun telah dirancang dengan visi jangka panjang sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan. Menurutnya, tujuan utama museum adalah memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa Nusantara pernah menjadi bangsa besar dengan peradaban yang maju.
“Tujuan utama kami membuat museum ini adalah memberikan edukasi kepada generasi mendatang bahwa negara ini, Nusantara ini, pernah menjadi negara yang besar. Jangan sampai kita hanya bengong melihat negara lain maju, padahal dari segi teknologi peradaban, kita sudah lebih dulu,” ujarnya.
Ia mencontohkan, sejak era Singhasari hingga Majapahit, Nusantara telah menguasai teknologi pengolahan logam seperti emas, perunggu, dan besi dengan kualitas tinggi. Selain itu, Majapahit juga dikenal memiliki kekuatan maritim yang sangat maju.
“Saya yakin Majapahit punya angkatan perang dan angkatan laut yang kuat, kapal-kapalnya luar biasa, cepat, kuat, dan bagus, sampai bisa menguasai wilayah-wilayah besar di sekitarnya,” kata Gung Sena.
Museum Majapahit Tanah Lot dirancang dengan pendekatan teknologi modern agar sejarah dapat disampaikan secara menarik dan relevan dengan generasi masa kini. Sena berharap, teknologi kekinian yang digunakan di museum ini mampu menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bangsa dan kebudayaan sendiri.
“Dengan adanya museum berbasis teknologi ini, mudah-mudahan anak-anak kita mulai mencintai bangsanya, mencintai kebhinekaan kita, Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Lebih jauh, Sena menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan Indonesia tidak terlepas dari warisan sejarah Majapahit. Ia menyebut Kitab Negara Kertagama sebagai salah satu sumber utama yang menginspirasi lahirnya Pancasila.
“Intisari museum ini adalah mengajak orang kembali kepada Pancasila, kembali kepada Kitab Negara Kertagama yang diambil oleh Bung Karno untuk menyatukan bangsa ini. Bung Karno juga terinspirasi dari Sumpah Palapa Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara,” jelasnya.
Selain sebagai museum, kawasan ini juga dikembangkan sebagai pusat kebudayaan. Salah satu rencana besar yang akan segera diwujudkan adalah pembangunan Singasana Majapahit, yang akan difungsikan sebagai pusat pengembangan budaya Majapahit di Bali.
“Singasana Majapahit itu nanti tempat raja, tempat mengembangkan kebudayaan Majapahit yang ada di Bali. Di Bali ini terjadi akulturasi budaya, ada Jawa, Cina, Romawi, dan lain-lain, hingga lahirlah budaya Bali yang indah seperti sekarang,” katanya.
Menurut Sena, Bali merupakan contoh nyata akulturasi budaya Nusantara yang masih hidup hingga kini. Ia bahkan menyebut Bali sebagai laboratorium atau museum hidup peradaban Nusantara.
“Bali ini unik. Bali bisa dibilang museum hidup Nusantara. Semua ada di Bali. Itulah kenapa kita harus mencintai Bali dan segala isinya,” ujarnya.
Museum Majapahit Tanah Lot berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 are atau kurang lebih 1.360 meter persegi, dengan total 20 zona pamer. Ke depan, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan area UMKM untuk mengembangkan produk-produk budaya bernilai historis dari Bali maupun Jawa.
“Kami ingin mengembangkan UMKM, mengangkat hasil-hasil budaya yang punya nilai sejarah dari masa lampau, agar bisa dikenal dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tutur Sena.
Untuk menjangkau masyarakat luas, pengelola menetapkan harga tiket yang terjangkau, yakni Rp20.000 untuk wisatawan domestik dan Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara. Tiket dapat dibeli langsung di loket DTW Tanah Lot.
Di akhir pernyataannya, Sena mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk datang dan mengenal kembali kebesaran sejarah bangsa melalui Museum Majapahit Tanah Lot.
“Mari kita lihat kebudayaan masa lalu Indonesia yang maha agung, maha kuat, dan maha indah. Supaya anak-anak kita bisa kembali mencintai kebudayaannya sendiri. Bantu kami untuk terus menjaga dan menyelamatkan kebudayaan Nusantara ini,” pungkasnya. (Brv)








