DENPASAR | Dunia News Bali – PT Pegadaian Kantor Wilayah VII Denpasar resmi meluncurkan Anjungan Teknologi Mesin (ATM) Emas Pegadaian di Denpasar, Bali, Rabu (15/10/2026). Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah baru Pegadaian dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan investasi emas berbasis teknologi.
Peresmian berlangsung di Kantor PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar, Jalan Niti Mandala, Renon, Denpasar, mulai pukul 09.00 WITA. Dari total 20 mesin ATM Emas yang tersedia di Indonesia, salah satunya kini beroperasi di Bali.
Pimpinan Cabang PT Pegadaian Kanwil VII Bali-Nusra, Edy Purwanto, mengatakan kehadiran ATM Emas merupakan bagian dari pengembangan layanan digital untuk mempermudah masyarakat melakukan berbagai transaksi emas.
Menurutnya, fasilitas tersebut mendukung layanan tabungan emas, pencetakan emas fisik, hingga kebutuhan transaksi yang berkaitan dengan emas. Masyarakat juga dapat mencetak emas dari saldo tabungan yang dimiliki melalui mesin tersebut.
“Peluncuran ATM Emas ini menambah kemudahan transaksi masyarakat melalui layanan Pegadaian berbasis teknologi. Kami ingin memberikan kemudahan agar masyarakat yang memiliki tabungan emas bisa mengambil emas fisiknya ketika dibutuhkan,” ujar Edy Purwanto seusai peresmian.
Ia menegaskan, Pegadaian juga ingin memberikan kepastian dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap ketersediaan emas fisik di balik produk tabungan emas yang ditawarkan.
Edy menyebutkan, Pegadaian memiliki stok emas dalam jumlah besar. Ia mengungkapkan bahwa persediaan emas yang dimiliki di Jakarta mencapai sekitar 150 ton.
“Kami sudah menyampaikan kepada pihak-pihak berwenang bahwa stok fisik emas kami di Jakarta cukup besar, yakni sekitar 150 ton. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan emas fisik di Pegadaian,” tegasnya.
Selain kemudahan transaksi, aspek keamanan menjadi perhatian dalam pengoperasian ATM Emas Pegadaian. Edy menyampaikan bahwa aplikasi yang digunakan telah dilengkapi sistem enkripsi untuk melindungi transaksi nasabah.
Pegadaian juga bekerja sama dengan perbankan dalam mendukung sistem pembayaran dan meningkatkan keamanan transaksi.
Menurut Edy, ATM Emas memiliki sistem pengamanan berlapis yang berbeda dari mesin ATM uang pada umumnya. Ia menyebut fasilitas tersebut menggunakan tiga lapisan keamanan, baik dari sisi perangkat lunak maupun perangkat keras.
“Saya rasa sistemnya cukup aman. Aplikasinya menggunakan enkripsi dengan standar teknologi terkini, sementara sistem pembayaran didukung kerja sama dengan perbankan. Dari sisi keamanan fisik, mesin ini juga memiliki tiga lapisan pengamanan,” jelasnya.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga kerahasiaan PIN dan menggunakan aplikasi resmi ketika melakukan transaksi.
Terkait pengembangan jaringan, Edy mengatakan Pegadaian akan mengevaluasi respons dan minat masyarakat sebelum menentukan lokasi penempatan mesin berikutnya.
Untuk sementara, ATM Emas Pegadaian di Denpasar baru tersedia satu unit. Namun, perusahaan membuka peluang penambahan mesin dalam waktu dekat, termasuk di kantor-kantor cabang Pegadaian dan lokasi lain yang dinilai memiliki potensi transaksi tinggi.
“Kami akan melihat animo masyarakat terlebih dahulu. Ke depan, kemungkinan mesin ini ditempatkan di cabang-cabang Pegadaian maupun lokasi lain yang memiliki banyak peminat. Saat ini di Denpasar baru satu unit, tetapi akan kami upayakan penambahan secepatnya,” katanya.
Edy juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memilih instrumen investasi emas. Menurutnya, calon investor perlu memastikan legalitas lembaga, rekam jejak penyedia layanan, serta kejelasan produk yang ditawarkan.
Ia menegaskan, Pegadaian tidak memaksa masyarakat untuk berinvestasi melalui satu lembaga tertentu. Namun, literasi keuangan dan kehati-hatian harus menjadi pertimbangan utama sebelum menempatkan dana.
“Kalau ingin berinvestasi emas, lihat siapa yang menawarkan. Pilih lembaga yang terpercaya, berizin, dan resmi, serta perhatikan rekam jejaknya. Masyarakat bebas memilih tempat bertransaksi, baik di toko emas, Pegadaian, maupun tempat lain. Yang terpenting, aset pelanggan harus terlindungi dan transaksi berlangsung dengan nyaman,” pesannya.
Edy tidak menampik bahwa kehadiran ATM Emas juga menjadi bagian dari upaya Pegadaian meningkatkan omzet perusahaan. Melalui fasilitas baru ini, Pegadaian berharap semakin banyak masyarakat mengenal dan memanfaatkan layanan tabungan emas.
Ia menekankan, masyarakat tidak harus membeli emas dalam jumlah besar untuk mulai berinvestasi. Melalui layanan digital Pegadaian, menabung emas dapat dimulai dengan nominal Rp10 ribu.
“Menabung emas tidak harus langsung satu gram. Mulai dari Rp10 ribu juga sudah bisa. Kami berharap masyarakat semakin yakin untuk menabung emas karena aksesnya semakin mudah,” ujarnya.
Dalam demonstrasi penggunaan mesin seusai acara peresmian, transaksi pencetakan emas diperagakan secara langsung. Edy menjelaskan, prosesnya relatif sederhana karena hanya memerlukan aplikasi Tring! by Pegadaian dan aplikasi perbankan untuk pembayaran.
Melalui aplikasi Tring!, nasabah melakukan pemindaian atau permintaan pencetakan emas. Setelah proses tersebut, nasabah melanjutkan pembayaran melalui aplikasi perbankan sesuai prosedur transaksi.
Untuk tahap awal, mesin menyediakan pilihan pencetakan emas dengan berat mulai dari 1 gram hingga 100 gram.
Edy mengatakan, ATM Emas dirancang agar masyarakat dapat memperoleh emas fisik secara lebih praktis tanpa melalui proses yang rumit. Ia kembali menegaskan bahwa sistem keamanan mesin tersebut dirancang berbeda dari ATM uang, dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat keras serta pengamanan berlapis.
Presiden Direktur Brinks Indonesia, Davidkerim Maksud, mengatakan mesin ATM Emas Pegadaian dikembangkan menggunakan teknologi yang dirancang di Indonesia, baik dari sisi perangkat lunak maupun perangkat keras.
“Mesin ini kami desain, baik software maupun hardware, asli di Indonesia. Bahkan, dari tujuh negara lain, sekarang kami menerima pesanan dari Indonesia,” ungkapnya singkat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peluncuran ATM Emas tidak hanya berkaitan dengan pengembangan layanan investasi, tetapi juga pemanfaatan teknologi dalam negeri untuk mendukung inovasi sektor keuangan.
Sementara itu, Kepala Divisi Bisnis Bullion, Kadek Eva Suputra, menilai emas masih memiliki prospek sebagai instrumen investasi di Indonesia. Menurutnya, emas telah menjadi bagian dari budaya masyarakat dan memiliki tingkat permintaan yang tinggi.
Ia mengatakan, berdasarkan catatan historis yang disampaikannya, kenaikan harga emas dalam rentang lima hingga sepuluh tahun terakhir rata-rata berada di kisaran 15 persen per tahun. Namun, ia mengingatkan bahwa angka historis tersebut bukan jaminan bahwa kenaikan serupa akan terus terjadi pada masa mendatang.
Kadek mendorong masyarakat untuk mulai membangun kebiasaan menabung emas secara konsisten dengan tujuan keuangan yang jelas.
“Kuncinya adalah mulai terlebih dahulu, kemudian konsisten menabung dan menentukan tujuan keuangan ke depan. Setelah memiliki tujuan yang jelas, masyarakat bisa menabung melalui Tring! mulai dari Rp10 ribu. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini dapat membantu mencapai tujuan keuangan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa produksi emas Indonesia berada di kisaran 100 ton per tahun. Sementara itu, tingginya minat investasi emas turut terlihat di wilayah Denpasar.
Menurut Kadek, penjualan emas di area Denpasar tercatat sekitar 140 kilogram pada periode sebelumnya dan meningkat menjadi 158 kilogram hingga September 2026.
“Angka tersebut menunjukkan minat investasi emas di Denpasar cukup tinggi. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat kita yang sejak dahulu terbiasa menyisihkan sebagian aset dalam bentuk emas, termasuk di kalangan ibu rumah tangga,” katanya.
Dari sisi kinerja perusahaan, Edy mengungkapkan bahwa target saldo tabungan emas Pegadaian secara nasional berada di angka 20 ton. Hingga September 2026, saldo tersebut diklaim telah melampaui 20 ton.
Pegadaian berharap capaian tersebut terus meningkat hingga penghujung tahun. Edy memperkirakan saldo tabungan emas nasional berpotensi mencapai 21–22 ton pada akhir 2026.
“Kami berharap sampai akhir tahun ini saldo tabungan emas secara nasional bisa mencapai sekitar 21 hingga 22 ton. Perkembangannya akan terus kami pantau,” tutupnya.
Dengan beroperasinya ATM Emas di Denpasar, Pegadaian berharap akses masyarakat terhadap investasi emas semakin mudah, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap layanan tabungan emas dan mendorong kebiasaan berinvestasi secara terencana. (dnb13)