Oleh: Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE., MM.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar
DENPASAR | Dunia News Bali – Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 14 Januari rupiah masih berada di kisaran Rp16.855 per dolar AS. Namun, pada 19 Januari, nilai tukar tersebut terus melemah hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar, yakni sekitar Rp16.955 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar valuta asing domestik.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari data kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada akhir Desember 2025, JISDOR masih berada di kisaran Rp16.720 per dolar AS, namun pada pertengahan Januari 2026 melemah menjadi sekitar Rp16.875 per dolar. Selama periode tersebut, pergerakan rupiah terbilang sangat fluktuatif, dengan rentang transaksi di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.980 per dolar AS. Bahkan, menurut catatan Reuters, posisi rupiah pada pertengahan Januari ini menjadi yang terlemah sejak April 2025.
Pelemahan rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, situasi geopolitik yang kembali memanas serta kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang cenderung proteksionis mendorong penguatan dolar AS. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana pengenaan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa, sehingga meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Selain itu, muncul kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, seiring adanya penyelidikan yang melibatkan pimpinan lembaga tersebut. Kondisi ini membuat pelaku pasar global bersikap lebih berhati-hati dan cenderung mengalihkan dana ke aset aman (safe haven), terutama dolar AS. Data ekonomi Amerika yang masih menunjukkan kinerja kuat juga membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bergeser ke pertengahan tahun, sehingga semakin memperkuat dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, perhatian investor tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Defisit anggaran tahun 2025 yang mendekati batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal. Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang cukup ambisius, yakni sekitar 8 persen pada tahun 2029, membutuhkan dukungan belanja negara yang besar. Apabila tidak dikelola secara hati-hati, kebijakan fiskal yang ekspansif berpotensi memperlebar defisit anggaran.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah, termasuk intervensi di pasar valuta asing. Namun, tekanan terhadap rupiah tetap meningkat seiring aksi jual investor asing. Bank Indonesia mencatat adanya penjualan bersih (net sell) surat berharga negara oleh investor asing sebesar Rp7,71 triliun dalam periode 12–14 Januari 2026.
Pelemahan rupiah membawa dampak luas bagi perekonomian nasional. Dari sisi perdagangan, harga barang impor menjadi lebih mahal karena harus dibayar dengan dolar AS yang nilainya semakin tinggi. Ketergantungan Indonesia terhadap impor, khususnya migas, berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM dan memberi tekanan tambahan pada anggaran negara. Kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri, pangan, dan energi, juga dapat memicu tekanan inflasi. Jika inflasi meningkat, daya beli masyarakat berisiko tergerus.
Bagi dunia usaha, khususnya UMKM dan industri yang bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan. Namun demikian, di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi sektor ekspor. Nilai tukar yang lebih lemah membuat produk Indonesia relatif lebih kompetitif di pasar internasional. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh sektor manufaktur, perkebunan, dan pertambangan untuk meningkatkan kinerja ekspor dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (red)