Ribuan Anak Muda Bali Ramaikan Festival Ogoh-Ogoh GWK 2026, Tradisi Kian Menguat

DSCF9002.jpg

Badung | dunianewsbali – Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kembali menjadi panggung pelestarian budaya Bali melalui Festival Ogoh-Ogoh 2026. Memasuki tahun keenam, festival ini sukses melibatkan ribuan generasi muda dan menegaskan bahwa tradisi tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Ogoh-ogoh yang identik dengan perayaan Hari Raya Nyepi bukan sekadar karya seni, melainkan simbol spiritual, ekspresi budaya, dan kebersamaan masyarakat Bali. Tahun ini, sebanyak 15 banjar dari Kecamatan Kuta Selatan tampil setelah melewati proses kurasi dari 33 pendaftar, Minggu (22/03/2026).

Sejak sore hari, kawasan Festival Park dipadati pengunjung yang menyaksikan parade ogoh-ogoh, sebelum dilanjutkan dengan perlombaan di Mandalaloka. Antusiasme publik terlihat dari ramainya pengunjung yang ingin melihat langsung karya-karya penuh detail dan makna tersebut.

Direktur Operasional GWK Cultural Park, Rossie Andriani, menilai peningkatan jumlah peserta menjadi indikator kuat tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap budaya.

“Pelaksanaan Festival Ogoh-Ogoh tahun ini mencerminkan kolaborasi yang baik antara peserta, komunitas, dan penyelenggara. Peningkatan jumlah peserta hingga hampir dua kali lipat menunjukkan kepedulian generasi muda Bali terhadap pelestarian budaya,” ujar Rossie.

Baca juga:  Samavartana Kursus Teologi Hindu Brahma Widya Angkatan Ke V Tahun 2023/2024

Ia menambahkan, festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang ekspresi bagi masyarakat Bali.

“Melalui festival ini, kami ingin menghadirkan ruang terbuka bagi karya masyarakat sekaligus menjadi etalase budaya yang dapat dinikmati wisatawan lokal maupun mancanegara,” katanya.

Di balik kemegahan ogoh-ogoh, tersimpan kerja keras para anggota Seka Teruna Teruni yang rela mengorbankan waktu dan tenaga selama berminggu-minggu. Mereka bahkan kerap bekerja hingga dini hari demi menyempurnakan karya.

“Kami ingin memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk lomba, tapi untuk menunjukkan identitas kami sebagai masyarakat Bali,” ujar salah satu perwakilan Seka Teruna Teruni.

Ia juga menyebut proses pembuatan ogoh-ogoh menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan.

“Di sini kami belajar bekerja sama, saling memahami, dan menjaga tradisi. Ini bukan sekadar membuat ogoh-ogoh, tapi membangun kebersamaan,” tambahnya.

Dari hasil penilaian dewan juri, Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa dari Banjar Bualu meraih juara pertama dengan karya Roga Sanggara Bumi. Juara kedua diraih Sekaa Teruna Setya Budhi dari Banjar Ubung lewat Pragola Mayuda Pralaya, sementara juara ketiga diraih Sekaa Teruna Widya Dharma dari Banjar Tengah dengan karya Asuri Bava. Banjar Bualu juga memenangkan kategori favorit pilihan pengunjung.

Baca juga:  Ritual Ngedetin ke Segara: Prosesi Sakral Penyempurnaan Karya Baligia di Pantai Ujung

Selain lomba, festival ini turut mendorong ekonomi kreatif melalui My Melali GWK Market yang digelar pada 21–23 Maret 2026. Berbagai UMKM dan brand lokal hadir menawarkan produk menarik kepada pengunjung.

Suasana semakin meriah dengan hadirnya Pemoeda Soeka Karaoke yang memberikan hiburan interaktif.

Festival Ogoh-Ogoh GWK 2026 bukan hanya perayaan budaya tahunan, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda Bali terus menjaga warisan leluhur.

“Selama kami masih ada, tradisi ini akan terus hidup,” tutup salah satu peserta dengan penuh keyakinan. (*)

Berita Terpopular