Bupati Badung Apresiasi Parade Ogoh-Ogoh Sulangai, Dorong Kreativitas Sekaa Teruna

20260313_193857

Badung | dunianewsbali – Semangat pelestarian seni dan budaya Bali terlihat kuat dalam parade ogoh-ogoh yang digelar di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Jumat (13/03/2026) malam. Kegiatan yang melibatkan sekaa teruna dari berbagai banjar adat tersebut mendapat apresiasi langsung dari Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa.

Dalam sambutannya, Adi Arnawa menilai kegiatan parade ogoh-ogoh yang digagas oleh Pemerintah Desa Sulangai merupakan langkah penting dalam memberi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas seni mereka.

Menurutnya, Bali dikenal sebagai daerah dengan pariwisata berbasis budaya, sehingga seni dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat harus terus dijaga oleh generasi muda.

“Pariwisata kita berbasis budaya. Di dalam budaya itu ada seni. Karena itu pemerintah harus memberi ruang kepada anak-anak muda kita untuk menampilkan karya-karyanya,” ujar Adi Arnawa di hadapan masyarakat yang memadati lokasi parade.

Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Desa Sulangai yang memberikan motivasi kepada sekaa teruna untuk terus berkarya. Menurutnya, dukungan terhadap kreativitas generasi muda merupakan investasi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali.

Baca juga:  Gema Perempuan Bali di Festival Mi Reng: Kolaborasi Kreatif yang Menjaga Denyut Gamelan Tetap Hidup

Sebagai bentuk dukungan, Bupati Badung juga memberikan bantuan dana kepada seluruh sekaa teruna peserta parade ogoh-ogoh. Bantuan tersebut diberikan sebesar Rp10 juta untuk masing-masing kelompok.

Adi Arnawa menjelaskan, pemerintah daerah memang berkomitmen memberikan perhatian terhadap kegiatan seni budaya yang digerakkan oleh generasi muda. Hal itu juga terlihat dalam ajang lomba ogoh-ogoh pada Badung Saka Fest yang menyediakan dana hibah besar bagi para peserta.

“Ini bukan untuk gaya-gayaan, tetapi sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap karya seni anak-anak muda Badung agar mereka semakin termotivasi untuk berkarya,” tegasnya.

Sementara itu, Perbekel Desa Sulangai, I Nyoman Sunarta, menjelaskan parade ogoh-ogoh tersebut melibatkan sekaa teruna dari tiga desa adat yang tersebar di enam banjar adat di wilayah Desa Sulangai.

Kegiatan ini merupakan rangkaian tradisi masyarakat dalam menyambut Hari Raya Nyepi sekaligus menjadi panggung kreativitas generasi muda desa.

“Pada 13 Maret 2026 ini masyarakat Desa Sulangai, khususnya sekaa teruna dari tiga desa adat dan enam banjar adat, melaksanakan parade ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi,” jelasnya.

Baca juga:  Yayasan Bakti Pertiwi Jati Gelar Ritus Memuliakan Sad Kreti Loka di Pura Luhur Pakendungan

Sunarta mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut didukung oleh anggaran desa melalui APBDes tahun 2026 sebesar Rp300 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan serta memberikan motivasi kepada para peserta.

Yang menarik, hadiah yang diberikan kepada masing-masing sekaa teruna bukan berupa uang, melainkan satu ekor sapi.

Menurut Sunarta, pemilihan hadiah tersebut memiliki makna tersendiri karena wilayah Petang dikenal sebagai daerah pertanian dengan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani.

“Kami ingin generasi muda juga bangga menjadi petani. Karena itu hadiahnya kami berikan satu ekor sapi untuk setiap sekaa teruna,” ujarnya.

Selain hadiah utama tersebut, pemerintah desa juga memberikan dukungan berupa konsumsi, perlengkapan kegiatan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya bagi para peserta parade.

Sunarta menegaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah memperkuat rasa persatuan di kalangan generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan seni, adat, dan budaya Bali.

“Yang paling penting adalah menumbuhkan rasa persatuan di antara generasi muda serta melestarikan seni, adat, dan budaya. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi,” katanya.

Baca juga:  Siwaratri, Nyepi, dan Misterinya: Ketika Sastra dan Astronomi Bertemu

Ia berharap parade ogoh-ogoh ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan berkembang menjadi tradisi budaya yang semakin kuat di Desa Sulangai.

“Menjaga budaya itu tidak mudah. Karena itu kegiatan seperti ini harus terus berlangsung agar tradisi tetap hidup dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (Brv)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan