LUWU TIMUR | Dunia News Bali – Pengempon Pura Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) di Desa Karambua, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menggelar rangkaian Karya Agung sebagai wujud bhakti dan pelestarian tradisi keagamaan.
Rangkaian upacara tersebut meliputi Memungkah, Rsigana, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, hingga Mekebat Daun. Puncak karya ini menjadi momentum penting yang menandai perjalanan panjang pura yang telah berdiri sejak tahun 1983.
Selama lebih dari empat dekade, Pura MGPSSR terus berkembang, baik dari sisi spiritual maupun jumlah pengempon. Jika pada awal berdirinya hanya diempon sekitar 20 kepala keluarga (KK), kini jumlah tersebut meningkat menjadi 48 KK yang tersebar di wilayah Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur.
Ketua Pura MGPSSR, Made Suana, menyampaikan bahwa pelaksanaan karya agung ini merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh pengempon sebagai bentuk tanggung jawab spiritual sekaligus penguatan nilai kebersamaan.
“Pelaksanaan upacara ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pengempon yang dengan penuh semangat bergotong royong,” ujarnya di sela kegiatan Nyenuk, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan karya agung tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dengan estimasi mencapai ratusan juta rupiah. Pembiayaan dilakukan secara swadaya melalui iuran wajib sebesar Rp4 juta per KK serta dana punia dari berbagai pihak, baik dari warga pengempon maupun masyarakat umum.
Made Suana juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh pengempon dan para donatur yang telah memberikan dukungan, sehingga karya ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Ketut Sumberjana menegaskan pentingnya menjaga persatuan di antara Semeton Pasek dengan tetap mengingat asal-usul leluhur atau eling ring kawitan.
Menurutnya, perbedaan yang ada di tengah masyarakat Pasek sejatinya hanya sebatas profesi dan tempat tinggal, bukan pada esensi persaudaraan.
“Pada hakikatnya Pasek itu satu. Di Sulawesi Selatan, para penglingsir memiliki komitmen untuk terus membangun Pura MGPSSR sebagai simbol pemersatu,” tegasnya.
Ia berharap, melalui pelaksanaan karya agung ini, nilai persaudaraan dan kebersamaan umat semakin kuat, serta dapat terus menumbuhkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Semoga ke depan Semeton Pasek tetap bersatu, selalu bhakti kepada Tuhan, dan tidak melupakan asal-usul,” ujarnya.
Adapun rangkaian upacara telah berlangsung sejak pertengahan Maret hingga awal April 2026. Dimulai dari Nanceb dan Nunas Tirta Pemuket pada 18 Maret, dilanjutkan Nunas Tirta Segara, Gunung, dan Campuhan (20 Maret), Ngaturang Pekolem (21 Maret), Ngingsah (23 Maret), serta Mulang Pedagingan dan Melaspas (28 Maret).
Rangkaian kemudian berlanjut dengan Melasti dan Mendak Siwi (29 Maret), Mepada (30 Maret), Meolahan (31 Maret), Tawur Rsigana (1 April), hingga mencapai puncak karya atau pujawali pada 2 April 2026.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Nganyarin dan Nglungsur Ayu (3 April), Nyenuk (4 April), serta ditutup dengan Mekebat Daun dan Nyinep pada 5 April 2026. (*)



