TABANAN | Dunia News Bali – Labyrinth Art Gallery yang berlokasi di kawasan Nuanu Creative City kembali menghadirkan pameran seni bertajuk Prints in Motion. Pameran ini dikembangkan bersama Devfto Printmaking Institute dan akan berlangsung hingga 26 Mei 2026. Menghadirkan 27 seniman dari lima negara, Indonesia, Prancis, Rusia, Swiss, dan Inggris, pameran ini menyoroti perkembangan seni cetak sebagai praktik kontemporer yang terus bergerak dan berevolusi.
Pameran tersebut menjadi bagian dari komitmen Nuanu dalam membuka ruang bagi eksplorasi artistik, pertukaran gagasan lintas budaya, serta peningkatan keterlibatan publik terhadap seni di Bali. Prints in Motion tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan pendekatan baru dalam memahami printmaking sebagai medium yang relevan di era seni kontemporer.
Selama ini, seni cetak kerap dipandang sebatas teknik reproduksi. Namun dalam pameran ini, printmaking diposisikan sebagai medium yang kaya kemungkinan—mulai dari eksplorasi visual hingga pendekatan konseptual. Beragam teknik seperti relief, intaglio, hingga litografi dipadukan dengan metode alternatif dan praktik lintas media, menegaskan bahwa batas antara teknik tradisional dan eksperimental kini semakin cair.
Sebanyak 27 seniman dengan latar belakang dan pendekatan beragam turut ambil bagian, di antaranya Alisa Alisova, Aryatama Nugraha, Cecil Mariani, Christian Kochalski, Dayu Sartika, Devy Ferdianto, Dewa Made Johana, Dodit Hartawan, Eddie Hara, Evan Aditya, Gabriel Aries Setiadi, Handoko Njotomuljono, I Made Aswino Aji, I Made Wiradana, Ida Bagus Putu Purwa, Louise Henryette, LuhDe Gita, Mila Alexander, Ni Nyoman Sani, Nurrachmat Widyasena, Nyoman Erawan, Sekarputi Sidhiawati, Soni Irawan, Ugo Untoro, Ustina Yakovleva, Valasara, dan Wayan Upadana. Melalui pengalaman dan praktik yang beragam, para seniman ini menunjukkan fleksibilitas printmaking sebagai medium yang mampu merespons dinamika seni kontemporer, baik secara teknis maupun konseptual.
Gallery Director Labyrinth Art Gallery, Kelsang Dolma, menilai pameran ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan perspektif baru terhadap seni cetak. Menurutnya, printmaking selama ini kerap dipandang terbatas pada aspek teknis, padahal medium ini memiliki potensi besar sebagai ruang eksplorasi yang terbuka, penuh proses, disiplin, sekaligus kejutan artistik.
Selain itu, pameran ini juga menegaskan pentingnya praktik kolektif dalam perkembangan printmaking masa kini. Karya-karya yang ditampilkan lahir dari lingkungan studio yang mendorong kolaborasi, pertukaran ide, dan eksplorasi teknik. Studio pun tidak lagi sekadar ruang produksi, melainkan menjadi ruang dialog kreatif antar seniman.
Founder Devfto Printmaking Institute, Devy Ferdianto, menekankan bahwa keberadaan ruang terbuka bagi seniman sangat penting untuk menjaga keberlanjutan praktik seni cetak. Ia menyebut, Devfto hadir sebagai wadah yang memungkinkan seniman terus belajar, bereksperimen, dan mengembangkan praktiknya di luar pendidikan formal, sekaligus tetap dekat dengan medium yang mereka tekuni.
Melalui Prints in Motion, Labyrinth Art Gallery mempertegas perannya dalam mendukung praktik seni kontemporer yang tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses kreatif di baliknya. Pameran ini diharapkan dapat memperkaya lanskap budaya Bali sekaligus mendorong interaksi yang lebih aktif dan reflektif antara seniman dan publik. (red)



