Dari Kuta Untuk Dunia: Perempuan, Budaya, dan Difabel Bersatu di Kartini Go Surf 2026

Screenshot_20260419_201846_ChatGPT

Badung | dunianewsbali – Gelaran Kartini Go Surf 2026 kembali menghadirkan semangat emansipasi dan inklusivitas di Pantai Kuta, Minggu (19/4/2026). Kegiatan yang telah memasuki tahun ke-12 ini diikuti oleh perempuan dari berbagai kalangan, baik umum maupun kaum difabel, yang bersama-sama menaklukkan ombak dengan balutan kebaya.

Ketua Komisi IV DPRD Badung yang juga Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Bali, I Nyoman Graha Wicaksana, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai Kartini Go Surf menjadi wadah positif dalam mendorong lahirnya atlet-atlet selancar perempuan.

“Kami dari Pemerintah Kabupaten Badung sangat mengapresiasi kegiatan ini yang sudah berjalan selama 12 kali. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa membumikan olahraga surfing sampai ke masyarakat bawah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa olahraga selancar memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi profesi. “Surfing ini tidak hanya sekadar hobi, tapi juga bisa menjadi profesi yang sangat baik,” tambahnya.

Sebagai Ketua PSOI Bali, ia turut menyoroti prestasi atlet selancar perempuan Bali seperti Lydia Kato dan Tania. Ia berharap para peserta Kartini Go Surf dapat mengikuti jejak mereka di kancah nasional maupun internasional.

Baca juga:  Seng di Tengah Sawah Jatiluwih Picu Kekhawatiran Wisatawan, Usaha Warga Ikut Terpuruk

Sementara itu, Ketua Panitia Kartini Go Surf, Bagus Made Irawan yang akrab disapa Piping, menjelaskan bahwa konsep kebaya bikini menjadi ciri khas acara ini sebagai bentuk kebanggaan budaya.

“Kalau orang surfing pakai bikini itu sudah biasa, pakai bodysuit sudah biasa. Kita bangsa Indonesia harus bangga dengan identitas kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, ide tersebut sudah digagas sejak 2010 dan terus dipertahankan sebagai simbol diferensiasi sekaligus penghormatan terhadap perempuan.

“Ini adalah perwujudan terima kasih saya kepada ibu saya. Kita tidak pernah ada tanpa Kartini kita,” katanya.

Piping juga menegaskan bahwa kegiatan ini terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang latar belakang. “Saya tidak pernah lihat dia pro atau amatir. Selama dia bisa berdiri di atas papan, silakan. Kalau mereka merasa terpanggil sebagai Kartini, tunjukkan,” ucapnya.

Semangat inklusivitas juga terlihat dari keterlibatan tim peselancar tuli binaan Yayasan Corti. Ketua Yayasan Corti Bali, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka bertujuan membangun kepercayaan diri dan kemandirian anak-anak difabel.

Baca juga:  Wisata Budaya Bertaraf Dunia, Penglipuran Meriahkan Imlek 2026 dengan Barong Landung

“Mengikuti Kartini Go Surf ini untuk membangun self-confidence mereka, bahwa mereka diterima secara inklusif. Kesetaraan sosial itu bukan sekadar wacana, tapi dipraktikkan langsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Yayasan Corti memberikan pendidikan berkelanjutan bagi anak tuli, termasuk pelatihan keterampilan seperti menjahit dan sablon. Bahkan dalam ajang ini, para peserta difabel mengenakan kebaya hasil karya mereka sendiri.

“Ini salah satu skill yang bisa mereka gunakan untuk mandiri, tidak menjadi beban keluarga, terutama dari kalangan kurang mampu,” jelasnya.

Menurutnya, anak-anak tuli justru memiliki fokus tinggi, termasuk saat belajar surfing. “Karena mereka tidak mendengar, mereka lebih fokus. Dalam tiga kali latihan saja sudah bisa seperti ini,” katanya.

Pada Kartini Go Surf 2026, enam anggota tim Corti turut ambil bagian, yakni Ayu Intan Melisa Maharani (20), Ni Komang Namira Dharma Yanti (17), Putu Indah Cahyani Dewi (18), Komang Ayu Krishna Kirana (18), Cecilia Astrid (19), dan Maria Fatima Seran (22).

Kartini Go Surf 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga simbol keberanian, kesetaraan, dan penghargaan terhadap peran perempuan. Di atas ombak Pantai Kuta, perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk difabel, menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya dan berprestasi. (Brv)

Berita Terpopular