DENPASAR | Dunia News Bali – Bali dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan wisata musik atau music tourism. Gagasan tersebut disampaikan Presiden United in Diversity (UID), Tantowi Yahya, yang mendorong hadirnya pusat konser dan festival musik kelas dunia di Bali Utara sebagai langkah strategis untuk menciptakan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Tantowi, selama ini Bali telah dikenal dunia sebagai destinasi wisata unggulan. Kekuatan merek pariwisata yang telah terbentuk selama puluhan tahun menjadi modal penting untuk menarik penyelenggaraan konser dan festival internasional berskala besar.
Selain memiliki daya tarik budaya yang kuat, Bali juga ditunjang oleh konektivitas penerbangan internasional, jaringan akomodasi yang luas, serta infrastruktur pariwisata yang relatif matang dibanding banyak destinasi lain di kawasan Asia.
“Bali bukan hanya destinasi wisata. Bali adalah pengalaman yang dicari wisatawan dunia. Ini menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain,” ujar Tantowi kepada awak media, Senin (15/6/2026).
Tren Wisata Musik Makin Menjanjikan
Perkembangan industri hiburan global menunjukkan bahwa konser dan festival musik kini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi daerah.
Tantowi mencontohkan keberhasilan Singapura saat menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menggelar konser The Eras Tour milik Taylor Swift. Kehadiran ribuan penggemar dari berbagai negara memberikan dampak signifikan terhadap sektor perhotelan, transportasi, restoran hingga perdagangan.

Fenomena serupa juga terlihat di Thailand yang dalam beberapa tahun terakhir aktif menarik berbagai festival musik internasional. Negara tersebut bahkan terus memperluas agenda hiburan global untuk memperkuat daya tarik wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
Melihat keberhasilan negara-negara tetangga tersebut, Bali dinilai memiliki peluang yang sama, bahkan berpotensi lebih besar karena sudah memiliki citra internasional yang kuat sebagai destinasi wisata dunia.
Dampak Langsung ke Berbagai Sektor Usaha
Wisata musik diyakini mampu memberikan manfaat ekonomi yang jauh melampaui industri hiburan itu sendiri. Kehadiran puluhan ribu penonton dari berbagai daerah maupun mancanegara akan menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak sektor.
Hotel, vila, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, UMKM hingga pekerja kreatif diperkirakan menjadi pihak yang merasakan dampak langsung dari penyelenggaraan konser berskala internasional.
Apalagi jika acara dikemas dalam bentuk festival yang berlangsung beberapa hari. Wisatawan biasanya tidak hanya datang untuk menonton konser, tetapi juga memanfaatkan waktu mereka untuk menikmati berbagai destinasi di Bali seperti Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, Canggu dan Uluwatu.
Tidak menutup kemungkinan, wisatawan tersebut juga melanjutkan perjalanan ke destinasi unggulan nasional lainnya seperti Lombok dan Labuan Bajo.
“Konser internasional dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus. Mulai dari industri perhotelan, transportasi, kuliner, UMKM, pekerja kreatif hingga pelaku seni lokal,” katanya.
Bali Harus Lebih Kompetitif
Meski memiliki potensi besar, Tantowi menilai Bali masih menghadapi sejumlah tantangan untuk menjadi tujuan utama konser internasional.
Salah satunya adalah persoalan biaya penyelenggaraan yang kompetitif serta proses perizinan yang lebih sederhana dan memiliki kepastian waktu. Dalam industri hiburan global, faktor biaya produksi, keamanan, logistik, dan regulasi menjadi pertimbangan utama para promotor sebelum menentukan lokasi acara.
Karena itu, ia menilai diperlukan kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah, promotor, pengelola venue, maskapai penerbangan, industri perhotelan, sponsor, serta pelaku ekonomi kreatif untuk membangun ekosistem yang mendukung.
“Bali tidak cukup hanya indah. Bali juga harus kompetitif secara bisnis agar mampu bersaing dengan destinasi lain di kawasan,” tegasnya.
Lima Strategi Penguatan Wisata Musik
Untuk mewujudkan Bali sebagai destinasi konser internasional, Tantowi mengusulkan lima langkah utama.
Pertama, membentuk Bali Music Tourism Task Force yang melibatkan pemerintah, pelaku industri pariwisata, maskapai, hotel, promotor, pengelola venue, aparat keamanan, serta komunitas kreatif. Tim ini bertugas menyusun peta jalan pengembangan wisata musik dan kalender kegiatan internasional.
Kedua, menciptakan skema kerja sama pengelolaan venue agar biaya penyelenggaraan tetap kompetitif bagi promotor.
Ketiga, menyederhanakan sistem perizinan konser internasional agar lebih cepat, transparan, dan memiliki kepastian proses.
Keempat, meningkatkan dukungan terhadap aspek keamanan, kesehatan, kebersihan, lalu lintas dan pengelolaan keramaian untuk menjamin kenyamanan pengunjung.
Kelima, mengembangkan paket wisata terpadu yang menggabungkan tiket konser dengan layanan akomodasi, transportasi, kuliner, wellness, dan kunjungan ke desa wisata sehingga manfaat ekonomi dapat tersebar lebih luas.
Bali Utara Dinilai Paling Potensial
Dalam pandangan Tantowi, pembangunan venue konser berskala besar sebaiknya diarahkan ke Bali Utara yang masih memiliki ruang pengembangan lebih luas dibanding kawasan Bali Selatan.
Ia mengacu pada keberhasilan Red Rocks Amphitheatre di Amerika Serikat yang berada di luar pusat kota, namun memiliki akses memadai, area parkir luas, serta mampu menampung pengunjung dalam jumlah besar.
Konsep serupa dinilai dapat diterapkan di Bali Utara untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mengurangi konsentrasi aktivitas pariwisata yang selama ini terpusat di wilayah selatan.
“Venue besar dengan akses yang baik dan lahan yang memadai lebih realistis dikembangkan di Bali Utara. Ini bisa menjadi magnet baru bagi pariwisata sekaligus ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Bandara Bali Utara Jadi Pelengkap Ekosistem
Pengembangan wisata musik internasional di Bali Utara dinilai akan semakin kuat apabila didukung keberadaan Bandara Internasional Bali Utara.
Masuknya proyek tersebut ke dalam RPJMN 2025–2029 menjadi sinyal bahwa pemerintah melihat pentingnya pemerataan pembangunan di Pulau Bali. Bandara baru diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang saat ini menjadi pintu utama wisatawan internasional.

Selain membuka akses langsung menuju Bali Utara, bandara tersebut juga diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru bagi kawasan utara yang selama ini belum berkembang secepat Bali Selatan.
CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, menyebut proyek itu dirancang sebagai gerbang internasional yang modern, ramah lingkungan, dan tetap menjunjung identitas budaya Bali.

“Bandara Internasional Bali Utara kami rancang sebagai gerbang dunia yang modern, hijau, dan berakar pada budaya Bali. Ini bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi peradaban,” ujarnya.
Peluang Menjadi Panggung Musik Dunia
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, Bali dinilai memiliki kesempatan besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat konser dan festival musik internasional di Asia.
Jika didukung regulasi yang kondusif, infrastruktur yang memadai, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, wisata musik dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Ke depan, Bali tidak hanya berpotensi dikenal karena keindahan alam dan budayanya, tetapi juga sebagai panggung musik dunia yang mampu menarik jutaan wisatawan, investasi, dan aktivitas ekonomi baru bagi Indonesia. (red/ich)