DENPASAR | dunianewsbali – Masa purnatugas sering kali dimaknai sebagai titik henti dari ritme hidup yang padat. Namun, bagi puluhan pensiunan insan Gapura Angkasa di Bali, purna tugas justru menjadi babak baru untuk mengalihkan energi operasional mereka menjadi aksi kepedulian sosial yang lebih luas.
Hal tersebut tecermin dalam agenda temu kangen para purna tugas ex Gapura Angkasa dan mitra maskapai yang berlangsung di Renoma Garden, Denpasar, Sabtu (12/9/2026).
Pertemuan yang dihadiri lebih dari 80 mantan pekerja lintas divisi ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu, melainkan melahirkan komitmen pembentukan paguyuban filantropi berbasis sosial kemasyarakatan.
Peluk Hangat, Tawa Lepas, dan Haru yang Menyeruak
Di balik misi sosial yang dirumuskan, atmosfer emosional yang begitu kental mendominasi sepanjang pertemuan. Begitu kaki melangkah memasuki area taman, formalitas dan jarak puluhan tahun seketika runtuh; jabatan masa lalu melebur dalam pelukan hangat yang erat dan jabatan tangan yang enggan terlepas. Suasana dipenuhi gelak tawa lepas saat memori masa muda kembali dikupas, bersanding dengan senandung lagu kenangan dan karaoke santai yang menghidupkan kembali nostalgia masa pengabdian.
Kehadiran beberapa peserta purnatugas yang telah berusia di atas 70 tahun turut menarik perhatian para hadirin. Meski kondisi fisik terbatas, tampak mantan pejabat pimpinan berjalan perlahan dan seorang rekan lainnya menggunakan alat bantu tongkat, mereka tetap menyempatkan diri hadir untuk bersilaturahmi dengan rekan-rekan kerja masa lalu. Pertemuan tersebut menunjukkan terjaganya hubungan baik antaranggota lintas angkatan meski telah puluhan tahun purnatugas.
Ketua panitia kegiatan, I Putu Mardita, menegaskan bahwa getaran emosional inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi arah gerak organisasi ke depan.
“Ke depannya kita sepakat formatnya tidak terlalu formal agar tidak membebani anggota. Kami ingin wadah ini murni saling menopang dalam suka maupun duka, serta mengetuk pintu hati rekan-rekan untuk aktif berkegiatan sosial di Bali,” ungkap Mardita.
Tiga Misi Kemanusiaan Menembus Batas Usia
Arah gerak paguyuban ini kedepan bertumpu pada solidaritas persaudaraan sekaligus kepedulian nyata terhadap masyarakat rentan di Bali:
- Bakti Sosial Terjadwal: Menyalurkan santunan langsung ke panti asuhan dan panti werdha sebagai wujud empati bagi kelompok rentan yang membutuhkan uluran tangan.
- Jejaring Penguat Mental: Menjadi sistem pendukung (support system) bagi anggota lansia agar terhindar dari rasa terisolasi melalui kunjungan kekeluargaan rutin.
- Gotong Royong Tanpa Syarat: Membantu rekan sejawat saat tertimpa kedukaan serta hadir saling mendukung dalam momen upacara adat maupun hajatan keluarga.
Inisiatif para lansia ini membuktikan bahwa dedikasi melayani publik tidak pernah benar-benar pensiun. Bila puluhan tahun silam mereka melayani jutaan penumpang pesawat yang melintasi langit Bali, kini di usia senja, tangan-tangan yang sama memilih merangkul sesama manusia yang membutuhkan pertolongan di darat. (brv).