BADUNG | Dunia News Bali – Tragedi tanah longsor yang menghancurkan kawasan glamping Pelaga Eco Park, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, menjadi perhatian serius terhadap aspek keselamatan destinasi wisata berbasis alam di Bali.
Peristiwa yang dipicu hujan berintensitas tinggi tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Hingga Selasa (3/11/2026), dua orang yang terdiri atas warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) masih dalam pencarian tim penyelamat.
Menyikapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Lanang Umbara, S.Sos., menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia berharap seluruh korban yang belum ditemukan dapat segera dievakuasi dan proses pencarian berjalan lancar.
“Kami berharap seluruh korban yang belum ditemukan segera berhasil dievakuasi dan proses pencarian berjalan lancar,” kata Lanang Umbara saat dihubungi awak media di Kabupaten Badung, Selasa (3/11/2026).
Menurut Lanang Umbara, tragedi tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi keberadaan dan pengelolaan destinasi wisata, terutama yang berada di kawasan dengan tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima dari pihak pengelola, upaya antisipasi sebenarnya telah dilakukan sebelum longsor terjadi. Para tamu yang menginap disebut sempat ditawari untuk berpindah ke lokasi glamping lain yang dinilai lebih aman.
Namun, para tamu dikabarkan memilih tetap bertahan di lokasi semula. Setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut, longsor kemudian menerjang dan menghancurkan bangunan glamping.
“Dengan kejadian ini, tentunya menjadi evaluasi bagi kita semua ke depan. Kita harus melakukan evaluasi terkait potensi-potensi bencana yang bisa terjadi akibat faktor alam, seperti hujan lebat, angin, dan sebagainya,” ujarnya.
Pelaga dan Sejumlah Wilayah Sekitarnya Rawan Longsor
Lanang Umbara menilai kawasan Pelaga dan wilayah sekitarnya memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya ketika memasuki musim penghujan.
Kondisi geografis berupa perbukitan, tebing curam, serta kontur jalan yang ekstrem menjadi faktor yang meningkatkan risiko bencana. Ancaman tersebut tidak hanya menyangkut aktivitas pariwisata, tetapi juga keselamatan masyarakat yang setiap hari menggunakan akses jalan di kawasan tersebut.
Ia menyebutkan, koordinasi dan langkah mitigasi telah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Badung, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Badung, serta Pemerintah Provinsi Bali.
Salah satu perhatian utama adalah kondisi jalur penghubung dari Pelaga menuju Pelaga Barat yang melintasi sejumlah wilayah, seperti Semanik, Dingin, Auman, hingga Sandaan.
“Di jalur utama dari Pelaga menuju Pelaga Barat, seperti Semanik, Dingin, Auman hingga Sandaan, kondisi jalannya cukup ekstrem. Setiap kali hujan, hampir selalu terjadi longsor,” ungkapnya.
Meski selama ini kejadian longsor di sejumlah jalur tersebut belum sampai menimbulkan korban jiwa dari kalangan masyarakat setempat, Lanang Umbara mengingatkan bahwa potensi bahaya tidak boleh dianggap sepele.
Dorong Pembangunan Shortcut dan Jembatan
Selain memperkuat mitigasi, Lanang Umbara mendorong pemerintah melakukan kajian komprehensif terhadap ruas jalan yang memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi.
Menurutnya, pembangunan jalan pintas atau shortcut maupun jembatan dapat menjadi salah satu alternatif solusi jangka panjang. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap jalur yang melintasi tebing curam dan kawasan rawan pergerakan tanah.
“Kita sudah melakukan mitigasi dan kajian. Hal ini juga sudah disampaikan kepada pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Badung maupun Pemerintah Provinsi Bali. Jalan-jalan yang curam dan memiliki potensi longsor perlu dicarikan solusi, termasuk melalui pembangunan shortcut dan jembatan,” tegasnya.
Ia berharap hasil kajian tersebut dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas pemerintahan sehingga penanganan kawasan rawan bencana tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat.
Keselamatan Wisatawan Harus Menjadi Prioritas
Terkait penanganan tragedi Pelaga Eco Park, Lanang Umbara menegaskan bahwa kepentingan kemanusiaan harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Menurutnya, status kawasan sebagai usaha pariwisata swasta tidak mengurangi kewajiban seluruh pihak terkait untuk memberikan perhatian dan pendampingan kepada korban maupun keluarga terdampak.
“Walaupun ini bukan masyarakat kita sendiri, tetap akan kita lakukan upaya terbaik untuk menemukan korban, bagaimanapun keadaannya. Kemanusiaan harus kita kedepankan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mendorong evaluasi terhadap sistem pengelolaan destinasi wisata di Badung, terutama usaha pariwisata yang beroperasi di kawasan dengan kondisi geografis rawan bencana.
Lanang Umbara juga menyatakan akan mendorong koordinasi dengan pengelola Pelaga Eco Park serta pengelola destinasi wisata lainnya di Badung dan Bali. Evaluasi tersebut diharapkan mencakup sistem keselamatan pengunjung, kesiapan mitigasi bencana, hingga prosedur evakuasi ketika terjadi kondisi darurat.
“Kita akan melakukan pendampingan dan mencari solusi terbaik agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.
Tragedi Pelaga Eco Park kembali mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis alam harus diimbangi dengan penerapan standar keselamatan yang memadai.
Pemetaan kawasan rawan bencana, pemantauan kondisi cuaca, kesiapan jalur evakuasi, serta evaluasi berkala terhadap operasional destinasi menjadi aspek penting untuk melindungi keselamatan wisatawan maupun masyarakat setempat.
Di tengah perkembangan pariwisata Bali, keselamatan manusia harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap kegiatan pembangunan dan pengelolaan destinasi wisata.
Editor: dnb13