DENPASAR | Dunia News Bali – Argentina kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026. Berstatus sebagai juara bertahan usai menjuarai edisi 2022 di Qatar, Tim Tango kini mengemban misi besar mempertahankan mahkota dunia sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 64 tahun untuk mencetak sejarah sebagai juara Piala Dunia secara beruntun.
Turnamen edisi ke-23 ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan format baru yang diikuti 48 negara peserta. Sebanyak 104 pertandingan digelar selama 39 hari di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Bagi Argentina, tantangan kali ini jauh lebih berat. Selain menghadapi persaingan yang semakin ketat, Lionel Messi dan rekan-rekan juga harus mematahkan kutukan yang selama puluhan tahun menghantui para juara bertahan.
Argentina memastikan status juara dunia ketiga setelah menaklukkan Prancis melalui drama adu penalti 4-2 pada final Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar, 18 Desember 2022. Laga yang berakhir imbang 3-3 hingga babak tambahan waktu itu dikenang sebagai salah satu final terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Pertahankan Kerangka Juara Qatar
Menghadapi Piala Dunia 2026, pelatih Lionel Scaloni tetap mempertahankan fondasi skuad juara Qatar. Sekitar 17 pemain yang membawa Argentina meraih gelar pada 2022 kembali dipercaya mengisi tim utama, dipadukan dengan sejumlah talenta muda untuk menjaga proses regenerasi.
Lionel Messi masih menjadi kapten sekaligus pemimpin di lini depan. Pemain Inter Miami itu menjalani Piala Dunia keenam sepanjang kariernya dengan dukungan Julián Álvarez dan Lautaro Martínez.
Di lini tengah, Argentina tetap mengandalkan kombinasi Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernández sebagai motor permainan.
Sementara sektor pertahanan masih diperkuat duet Nicolás Otamendi dan Cristian Romero, dengan Emiliano “Dibu” Martínez tetap menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang.
Untuk memperkuat regenerasi, Scaloni turut membawa sejumlah pemain muda seperti Nico Paz, Valentín Barco, José Manuel López, hingga Giuliano Simeone.
Kombinasi pemain senior dan generasi baru membuat Argentina dinilai tampil lebih matang dibanding skuad yang menjuarai Piala Dunia 2022, meski kini harus bermain tanpa Ángel Di María yang telah mengakhiri kiprahnya di tim nasional.
Bayang-Bayang Kutukan Juara Bertahan
Di balik kekuatan skuadnya, Argentina masih dibayangi sejarah yang kurang bersahabat bagi para juara bertahan.
Dalam beberapa edisi terakhir, sejumlah kampiun dunia justru gagal mempertahankan performanya dan langsung tersingkir pada fase grup.
Prancis menjadi korban pertama pada 2002 setelah gagal mencetak satu gol pun usai datang sebagai juara dunia 1998.
Italia mengalami nasib serupa pada Piala Dunia 2010 setelah sebelumnya menjadi kampiun pada 2006.
Kutukan itu berlanjut kepada Spanyol pada 2014 dan Jerman pada 2018 yang sama-sama gagal melewati fase grup.
Sepanjang sejarah Piala Dunia, hanya dua negara yang pernah mempertahankan gelar secara beruntun, yakni Italia pada 1934 dan 1938, serta Brasil pada 1958 dan 1962.
Sejak keberhasilan Brasil pada 1962, belum ada lagi negara yang mampu mengulangi prestasi tersebut.
Argentina Mulai Mematahkan Mitos
Langkah awal Argentina menuju sejarah baru dimulai dengan meyakinkan.
Tim asuhan Lionel Scaloni sukses menjuarai Grup J setelah mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria 2-0 sehingga memastikan tiket ke fase gugur.
Keberhasilan melewati babak grup menjadi sinyal positif bahwa Argentina mampu menghindari nasib buruk yang menimpa banyak juara bertahan dalam dua dekade terakhir.
Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari proses regenerasi yang berjalan mulus. Pemain seperti Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Julián Álvarez, dan Rodrigo De Paul masih berada pada usia emas sehingga menjadi tulang punggung permainan Albiceleste.
Di sisi lain, Lionel Messi tampil lebih lepas setelah berhasil mewujudkan impian terbesarnya dengan mengangkat trofi Piala Dunia di Qatar.
Tantangan Menuju MetLife Stadium
Sebagai juara Grup J, Argentina akan menghadapi Tanjung Verde (Cabo Verde) pada babak 32 besar yang berlangsung di Stadion Hard Rock, Miami, Jumat (3/7/2026).
Apabila berhasil lolos, Argentina berpeluang bertemu Australia, Mesir, atau Swiss pada babak 16 besar.
Perjalanan menuju final diprediksi semakin berat karena Tim Tango berpotensi menghadapi Portugal yang dipimpin Cristiano Ronaldo maupun Kolombia pada fase selanjutnya.
Di semifinal, Brasil atau Inggris diperkirakan menjadi ujian terbesar sebelum laga puncak.
Final Piala Dunia 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung di Stadion MetLife, New York/New Jersey, pada 19 Juli 2026.
Messi Mengejar Sejarah
Kini Argentina hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mengukir sejarah baru.
Apabila mampu mempertahankan gelar, Albiceleste akan menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang sukses meraih dua gelar Piala Dunia secara beruntun.
Misi tersebut bukan hanya mempertahankan trofi dunia, tetapi juga mematahkan kutukan juara bertahan yang telah bertahan selama lebih dari enam dekade.
Dengan perpaduan pengalaman, regenerasi yang berjalan baik, serta kepemimpinan Lionel Messi, Argentina memiliki peluang besar menorehkan babak baru dalam sejarah sepak bola dunia.
Kini perhatian pecinta sepak bola tertuju pada langkah Tim Tango, apakah mereka mampu mencapai final di MetLife Stadium dan mengukuhkan diri sebagai salah satu tim nasional terbesar sepanjang masa. (red)