Ekonomi Tertekan, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

IMG-20260310-WA0007
Foto Ilustrasi digital: Dunia News Bali

Oleh: Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE., MM.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas Denpasar

 

DENPASAR | Dunia News Bali – Kondisi perekonomian Indonesia pada pekan kedua Maret menunjukkan sejumlah sinyal yang perlu diwaspadai. Nilai tukar rupiah yang menembus kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat mencerminkan tekanan eksternal yang cukup kuat terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global mendorong banyak investor mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Fenomena ini menyebabkan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami pelemahan. Dalam waktu yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan hingga berada di kisaran 7.351, yang menandakan meningkatnya sikap kehati-hatian para pelaku pasar dan investor terhadap kondisi ekonomi dunia yang masih bergejolak.

Tekanan terhadap perekonomian juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang mendekati USD 100 per barel. Bagi Indonesia, kondisi ini memiliki dampak signifikan karena kebutuhan energi nasional masih sebagian besar dipenuhi melalui impor.

Baca juga:  Museum Majapahit Tanah Lot, Obor Kebangkitan Sejarah Nusantara dari Pulau Bali

Data menunjukkan bahwa impor minyak dan bahan bakar Indonesia setiap tahun dapat mencapai USD 30 hingga 36 miliar. Ketika harga minyak dunia meningkat, otomatis biaya impor energi juga ikut melonjak. Dampaknya dapat dirasakan langsung dalam bentuk kenaikan biaya transportasi, meningkatnya biaya produksi, hingga potensi kenaikan harga barang di dalam negeri. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, tekanan inflasi berpotensi meningkat dan daya beli masyarakat dapat tergerus.

Selain faktor eksternal, tantangan juga muncul dari sisi keuangan negara. Hingga awal tahun ini, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat mencapai sekitar Rp135 triliun. Meski angka tersebut masih berada dalam batas aman sesuai ketentuan undang-undang, yakni maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah tetap perlu mengelola anggaran secara hati-hati dan efektif.

Belanja negara perlu difokuskan pada program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Di tingkat global, ketidakpastian juga masih dipengaruhi oleh konflik di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara besar, tetapi juga oleh negara berkembang seperti Indonesia.

Baca juga:  Gubernur Bali–NTB–NTT Teken MoU Kerja Sama Regional, Koster: Skema Penguatan Ekonomi untuk Kemajuan Bersama

Dalam situasi seperti ini, diperlukan kebijakan yang hati-hati, terukur, dan terkoordinasi antara pemerintah dan otoritas ekonomi. Stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga melalui kebijakan moneter yang tepat serta penguatan cadangan devisa yang saat ini berada di atas USD 140 miliar.

Pemerintah juga perlu terus mendorong peningkatan ekspor serta mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama pada komoditas yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri. Selain itu, sektor-sektor penghasil devisa seperti pariwisata, industri manufaktur, dan ekonomi kreatif harus terus diperkuat agar mampu menjadi pilar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Di sisi lain, masyarakat dan pelaku usaha juga memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Penggunaan produk dalam negeri, peningkatan produktivitas usaha, serta pengelolaan keuangan yang lebih bijak dapat menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat ekonomi domestik.

Jika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu bekerja bersama secara sinergis, maka tekanan ekonomi global yang tengah terjadi dapat dihadapi dengan lebih baik. Dengan demikian, perekonomian Indonesia tetap dapat terjaga stabil dan terus bertumbuh di tengah ketidakpastian dunia. (*)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan