ICCB Bali Mangkrak 22 Tahun, Dr. Somvir Ingatkan Jasa Biju Patnaik dan Kuatnya Ikatan Historis Indonesia-India

Tokoh Masyarakat Bali, Dr. Somvir.

DENPASAR | Dunia News Bali – Mandeknya rencana pembangunan Indian Cultural Centre Bali (ICCB) di kawasan Renon, Denpasar, selama lebih dari dua dekade kembali menjadi sorotan. Tokoh masyarakat Bali, Dr. Somvir, mendorong Pemerintah Provinsi Bali segera menuntaskan proyek yang telah direncanakan sejak 22 tahun lalu tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan bersejarah Indonesia dan India.

Menurut Dr. Somvir, hubungan kedua negara tidak semata dibangun melalui kerja sama diplomatik modern, melainkan memiliki fondasi historis yang kuat sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sorotan terhadap ICCB mencuat kembali setelah aset tanah milik Pemprov Bali di Jalan Tantular, Renon, yang sejak lama dipersiapkan sebagai lokasi pusat kebudayaan India, belum juga terealisasi. Padahal, proyek tersebut pernah ditandai dengan pemasangan papan nama dan peresmian awal yang melibatkan Gubernur Bali periode 1998-2008 Dewa Made Beratha bersama Duta Besar India saat itu, Hemant Krishan Singh, serta Direktur Jenderal Indian Council for Cultural Relations (ICCR), Rakesh Kumar.

Dr. Somvir menilai keberadaan ICCB memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan India yang telah terjalin erat sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia mengingatkan kembali peran besar Bijayananda “Biju” Patnaik, tokoh kemerdekaan India sekaligus pilot legendaris yang berjasa membantu Indonesia menghadapi tekanan kolonial Belanda pada masa revolusi kemerdekaan.

Menurutnya, atas penugasan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Biju Patnaik menerobos blokade udara Belanda pada Juni 1947 untuk membantu Republik Indonesia. Saat itu, Belanda bahkan mengancam akan menembak jatuh pesawat yang memasuki wilayah udara Indonesia.

Namun ancaman tersebut tidak menyurutkan keberanian Biju Patnaik. Ia menegaskan India tidak mengakui klaim kedaulatan Belanda atas Indonesia dan siap menanggung segala risiko yang mungkin terjadi.

Baca juga:  Kisruh Tower Badung Kian Memanas, PERATIN Soroti Dugaan Pelanggaran PKS dan Risiko Kerugian Negara

Dengan pesawat Douglas C-47 Dakota, Biju Patnaik kemudian terbang ke Yogyakarta untuk mengevakuasi sejumlah tokoh penting Republik Indonesia, termasuk Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Misi tersebut dinilai sangat menentukan dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan nasional dan membuka jalan bagi dukungan diplomatik internasional terhadap Indonesia.

Bahkan, sehari setelah Agresi Militer Belanda I, Biju Patnaik berhasil menerbangkan Sutan Sjahrir ke India. Misi itu kemudian dilanjutkan dengan membawa Mohammad Hatta untuk bertemu Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi guna memperkuat dukungan internasional bagi perjuangan Indonesia.

Atas jasa besarnya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar “Bhoomi Putra” kepada Biju Patnaik pada tahun 1950, sebuah penghormatan tertinggi yang kala itu diberikan kepada warga negara asing.

Kedekatan Biju Patnaik dengan Presiden Soekarno juga melahirkan hubungan persahabatan yang sangat erat. Bahkan, Patnaik mendapat kehormatan memberikan nama “Megawati” kepada putri Presiden Soekarno.

Nama tersebut diberikan saat Patnaik berada di Yogyakarta. Ketika itu terjadi angin ribut dan Soekarno meminta pendapat mengenai nama sang putri. Patnaik kemudian mengusulkan nama Megawati yang dalam bahasa Sanskerta dimaknai sebagai Dewi Awan.

Tak hanya membantu perjuangan diplomasi Indonesia, Biju Patnaik juga dikenal pernah mengajarkan ilmu penerbangan kepada tiga tokoh yang kemudian menjadi pahlawan nasional Indonesia, yakni Agustinus Adisucipto, Iswahyudi, dan Abdulrahman Saleh.

Dr. Somvir menilai hubungan istimewa Indonesia dan India terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya. Hal itu kembali terlihat dalam pertemuan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Menteng, Jakarta Pusat, pada 25 Mei 2026.

Baca juga:  Gung Cok Geram Namanya Dikaitkan Penolakan Rekomendasi Pansus TRAP

Dalam pertemuan tersebut, keduanya mengenang eratnya hubungan Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru yang menjadi fondasi hubungan bilateral kedua negara.

Menurut Dr. Somvir, Soekarno sejak muda banyak terinspirasi oleh pemikiran para intelektual India seperti Sri Aurobindo dan Mahatma Gandhi. Presiden pertama RI itu juga dikenal sebagai pembaca Bhagavadgita yang diterjemahkan dan ditafsirkan oleh Aurobindo.

Inspirasi tersebut memengaruhi pandangan politik Soekarno, termasuk mengenai pengabdian kepada bangsa, perjuangan tanpa pamrih, diplomasi, dan konsep kemandirian nasional.

Hubungan personal Soekarno dan Nehru juga tercermin dari keberadaan Wisma Indonesia di kawasan elite New Delhi yang disebut sebagai hadiah dari Nehru kepada Soekarno.

“Kunjungan PM Nehru ke Indonesia saat itu disambut sangat meriah dan menjadi salah satu kunjungan kepala negara yang berlangsung cukup lama,” ujar Somvir.

Ia menilai hubungan Indonesia dan India seharusnya dapat diperkuat kembali melalui peningkatan kerja sama di bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, perdagangan, pendidikan, hingga pariwisata.

Menurutnya, India merupakan salah satu pasar penting bagi ekspor minyak sawit Indonesia serta memiliki kemajuan signifikan dalam teknologi pangan yang layak menjadi referensi bagi Indonesia.

Selain itu, kedekatan historis kedua negara juga dinilai berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan India ke Bali apabila didukung pengelolaan industri pariwisata yang tepat.

Dr. Somvir menilai pertemuan Megawati dan Dubes India menjadi bukti bahwa hubungan Indonesia dan India dibangun bukan semata atas dasar kepentingan politik dan ekonomi, melainkan juga ikatan sejarah, budaya, dan persahabatan lintas generasi.

Dalam pertemuan itu, Megawati turut mengenang kehadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Beograd pada 1961 ketika masih berusia 14 tahun dan sempat bertemu langsung dengan Jawaharlal Nehru.

Baca juga:  Libatkan 250 Peserta dari Berbagai Klub, Surabaya Community Bali Gelar Turnamen Tenis Meja

Sementara itu, Duta Besar India Sandeep Chakravorty menegaskan bahwa hubungan yang dibangun Soekarno dan Nehru telah menjadi warisan diplomatik yang tetap hidup hingga kini.

“Hubungan baik kedua negara sampai saat ini terjalin dan dibangun oleh kedua Bapak Bangsa, Presiden Soekarno dan PM Nehru,” ujar Sandeep.

Melihat kuatnya sejarah tersebut, Dr. Somvir berharap Pemprov Bali segera menuntaskan pembangunan ICCB Renon sebagai simbol penghormatan terhadap hubungan Indonesia dan India.

Menurutnya, rencana kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia dapat menjadi momentum penting untuk menunjukkan komitmen dalam merealisasikan pembangunan pusat kebudayaan yang telah disepakati sejak masa kepemimpinan Gubernur Dewa Made Beratha.

“Biju Patnaik pernah menyelamatkan tokoh-tokoh penting Republik Indonesia, terutama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir demi mengamankan kepemimpinan Indonesia. Semestinya penyelesaian ICCB Renon juga bisa segera dituntaskan,” tegas Somvir di Denpasar, Jumat (19/6/2026).

Pada kesempatan yang sama, Dr. Somvir juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Yoga Internasional (International Yoga Day/IYD) 2026 yang diperingati setiap 21 Juni.

Hari Yoga Internasional ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 69/131 pada tahun 2014 atas usulan Perdana Menteri India Narendra Modi. Tanggal 21 Juni dipilih karena bertepatan dengan titik balik matahari musim panas yang melambangkan cahaya dan kesadaran.

Sebagai bagian dari peringatan tersebut, Konsulat Jenderal India bersama Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali dan ITDC The Nusa Dua menggelar perayaan Hari Yoga Internasional ke-12 di Peninsula Island, Kawasan The Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (21/6/2026). (red/ich)

Berita Terpopular

Scroll to Top