Jejak Majapahit di Pura Pat Payung, Pura Sakral di Kawasan Kura Kura Bali Serangan

IMG-20260311-WA0021
Jro Mangku I Ketut Sudiarsa berada di area utama Pura Pat Payung, Desa Serangan, Denpasar, yang diyakini sebagai salah satu pusat spiritual dan pelindung masyarakat setempat dengan sejarah yang telah berlangsung ratusan tahun. (Foto: Ist)

DENPASAR | Dunia News Bali – Desa Serangan dikenal tidak hanya sebagai kawasan wisata, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan sejumlah situs spiritual penting. Salah satunya adalah Pura Pat Payung, sebuah pura sakral yang berada di kawasan semak belukar di sisi timur menuju Pantai Serangan. Keberadaan pura ini diperkirakan telah ada sejak sekitar 200 tahun lalu dan menjadi salah satu titik spiritual penting di Pulau Serangan.

Menurut Jro Mangku Pura Pat Payung, I Ketut Sudiarsa, nama Pat Payung berasal dari dua kata, yakni pat yang berarti empat dan payung yang berarti peneduh. Makna tersebut merujuk pada empat arah mata angin yang menjadi simbol perlindungan spiritual bagi masyarakat.

“Pat Payung dimaknai sebagai empat peneduh arah mata angin, yakni timur, barat, utara, dan selatan,” ujar Jro Mangku I Ketut Sudiarsa kepada awak media, Selasa (10/3/2026).

Ia menuturkan, asal-usul berdirinya Pura Pat Payung berkaitan dengan kisah leluhurnya. Diceritakan, kakeknya yang berprofesi sebagai nelayan pernah menemukan batu karang laut yang unik di tengah laut. Batu tersebut kemudian dibawa pulang dan diletakkan di bawah pohon santen.

Keanehan terjadi ketika batu karang itu terlihat bersinar dan menarik perhatian warga sekitar. Bahkan, anjing-anjing di sekitar lokasi terus menggonggong seolah merespons sesuatu yang tidak biasa. Dalam situasi tersebut, seseorang mengalami kerauhan atau ketedunan yang menyampaikan pesan spiritual bahwa di tempat itu kelak akan berdiri sebuah pura sebagai tempat memohon perlindungan bagi masyarakat.

Baca juga:  Aksi Sosial Klien Bapas Karangasem Bersih-Bersih Lingkungan di Pasraman Gurukula, Bangli

Atas petunjuk tersebut, kakek Mangku Sudiarsa kemudian membangun Pura Pat Payung di atas lahan tegalan miliknya. Pura ini juga memiliki keterkaitan spiritual dengan Pura Dalem Sakenan, yang ditandai dengan keberadaan tugu dengan meru yang menjulang tinggi.

Menurut Mangku Sudiarsa, masyarakat Desa Sakenan yang hendak melaksanakan upacara atau hajatan biasanya terlebih dahulu datang ke Pura Pat Payung untuk melakukan persembahyangan, memohon keselamatan, serta memohon penerangan secara spiritual.

Selain itu, pura ini juga memiliki hubungan erat dengan Pura Ratu Gede Dalem Ped yang diwujudkan dalam sosok perempuan tua yang dikenal dengan sebutan Ratu Niang Sakti. Spiritualitas ini juga diyakini memiliki kaitan dengan Pura Tanah Kilap.

“Jika ada pujawali di Pura Tanah Kilap, maka umat biasanya memohon tirta di sini karena diyakini di tempat ini merupakan ‘ibu’ dari pura tersebut,” jelasnya.

Cerita lain yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa pada masa lalu seorang juru kunci dari Kerajaan Majapahit pernah diperintahkan untuk melakukan tapa brata di kawasan Pura Pat Payung. Pertapaan itu dilakukan untuk mencari makna sejati dari nama Pat Payung.

Setelah menjalani tapa brata, sang pertapa mengungkapkan bahwa nama Pat Payung berkaitan dengan kisah peperangan antara Raja Klungkung dan Raja Karangasem pada masa lampau. Dalam peristiwa tersebut, payung milik Raja Klungkung disebut terhempas dan jatuh di Pulau Serangan, tepat di lokasi yang kini berdiri Pura Pat Payung. Dari peristiwa itulah kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Pat Payung.

Baca juga:  Arena Jungle Padel di Badung Disegel, Pansus TRAP DPRD Bali Temukan Pelanggaran Tata Ruang di Lahan Sawah Dilindungi

Piodalan di Pura Pat Payung jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye, yang dikenal sebagai Tumpek Kandang. Pada awalnya, pura ini hanya memiliki satu palinggih yang terbuat dari kayu dapdap atau turus lumbung. Di bawah turus tersebut diletakkan sejumlah batu yang lama-kelamaan semakin banyak dan menyerupai bentuk palinggih.

Seiring perkembangan waktu, sejumlah palinggih kemudian dibangun di kawasan pura ini, antara lain Palinggih Meru sebagai pangayat Pura Dalem Sakenan, Palinggih Dukuh Sakti, Palinggih Dewa Pat Payung, serta Palinggih Gong. Penambahan palinggih ini diyakini terjadi berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik.

Keberadaan Palinggih Gong juga memiliki kisah tersendiri. Dahulu, sebuah sekaa gong pernah datang memohon taksu kesenian di pura tersebut. Awalnya kelompok tersebut berkembang pesat dan mampu memainkan banyak gending. Namun, seiring waktu kelompok itu bubar sehingga gamelan yang dimiliki tidak lagi terawat.

Ketika kemudian gamelan itu kembali digunakan, kejadian aneh terjadi pada instrumen gong. Siapa pun yang memainkannya disebut selalu jatuh sakit. Setelah dimintakan petunjuk kepada orang spiritual, disampaikan bahwa gong tersebut harus distanakan di Pura Pat Payung. Hingga kini, palinggih itu dipercaya sebagai tempat memohon taksu bagi para seniman.

Baca juga:  Imigrasi Bongkar Overstay Rp 365 Juta di Balik Drama Villa Sanur

Di sekitar kawasan pura juga terdapat sejumlah pelinggih lain seperti Palinggih Pura Dalem Jawi, Palinggih Ratu Gobleg, Palinggih Ratu Gde Dalem Nusa, dan Palinggih Ratu Wong Samar. Masing-masing memiliki fungsi spiritual dan taksu tersendiri.

Menariknya, kawasan Pura Pat Payung berada di titik pertemuan antara tanah asli Pulau Serangan dan wilayah hasil reklamasi. Hal ini menjadikan pura tersebut dianggap sebagai salah satu pusat energi spiritual di kawasan itu.

Ke depan, pihak pengembang Bali Turtle Island Development (BTID) juga disebut memiliki rencana melakukan penataan kawasan Pura Pat Payung agar dapat menjadi pusat spiritual bagi para pengunjung, dengan konsep desain telaga yang menyatu dengan kawasan pura. (red)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan