BANGLI | Dunia News Bali – Musibah angin puting beliung yang sempat meratakan Pura Bale Agung tak mematahkan semangat krama Desa Adat Kubusalya, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Dengan urunan dan bergotong royong, masyarakat perlahan membangun kembali pura yang terdampak bencana tersebut. Namun perjuangan krama Kubusalya belum berakhir.
Desa Adat Kubusalya kini dihadapkan pada keterbatasan dana untuk melaksanakan upacara melaspas dan ngenteg linggih Pura Bale Agung yang direncanakan sekitar September 2026 mendatang.
Cerita perjuangan tersebut terungkap di tengah agenda sosial “Berbuat dan Berbagi” yang digelar Semeton MSP bersama THE OCTAF GROUP di Banjar Kubusalya dan Banjar Angansari atau Banjar Haa, Kabupaten Bangli, Minggu (12/7/2026).

Awalnya, rombongan datang untuk berbagi paket sembako kepada lansia kurang mampu dan anak yatim. Namun dalam perjalanan kegiatan itu, mereka mendengar langsung kisah krama Kubusalya yang berjuang membangun kembali tempat suci setelah diterjang bencana.
Pura Bale Agung Desa Adat Kubusalya sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat angin puting beliung. Dahsyatnya terjangan angin membuat bangunan pura rata.

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat memilih bergerak bersama. Dana dikumpulkan melalui urunan, sementara semangat gotong royong menjadi kekuatan krama untuk membangun kembali Pura Bale Agung.
Kini, setelah pura kembali dibangun, masyarakat masih harus mempersiapkan rangkaian upacara melaspas dan ngenteg linggih.

Namun keterbatasan dana menjadi persoalan yang harus dihadapi Desa Adat Kubusalya menjelang pelaksanaan upacara tersebut.
Bendesa Desa Adat Kubusalya, I Wayan Cana, berharap ada kepedulian dan uluran tangan dari masyarakat, para donatur hingga pemerintah.
“Kami dari Desa Adat Kubusalya mengharapkan bantuan dari siapa pun untuk membantu kami berupa punia dalam upacara melaspas dan ngenteg linggih Pura Bale Agung kami,” ujar I Wayan Cana.
Punia maupun bantuan dari berbagai pihak diharapkan dapat meringankan beban krama sehingga rangkaian upacara melaspas dan ngenteg linggih dapat terlaksana sesuai rencana.
Berbagi Sembako untuk Lansia dan Anak Yatim
Sementara itu, agenda “Berbuat dan Berbagi” kembali dilaksanakan Semeton MSP dengan menggandeng THE OCTAF GROUP, perusahaan yang bergerak di bidang vila dan properti.
Kegiatan sosial tersebut menyasar lansia kurang mampu dan anak yatim di Banjar Kubusalya, Desa Sukawana, serta Banjar Angansari atau Banjar Haa, Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani.
Di Banjar Kubusalya, sekitar 25 paket sembako dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Meski rombongan tiba sekitar 30 menit dari jadwal yang direncanakan, warga tetap antusias menunggu di Balai Banjar Kubusalya.
Kedatangan THE OCTAF GROUP dan Semeton MSP disambut Bendesa Desa Adat Kubusalya I Wayan Cana bersama Kepala Dusun I Gede Lanus.
Usai berbagi di Kubusalya, tim yang diketuai I Made Somya Putra, SH, MH, yang juga seorang advokat, bergerak menuju Banjar Angansari, Desa Kutuh.
Di lokasi tersebut, sekitar 25 lansia kurang mampu telah menunggu untuk menerima bantuan paket sembako. Penyaluran bantuan turut dibantu Kepala Dusun Angansari, Jro Bagi.
I Wayan Cana dan Jro Bagi menyambut baik kegiatan “Berbuat dan Berbagi” yang dilaksanakan Semeton MSP bersama THE OCTAF GROUP.
Tak sedikit lansia penerima bantuan mendoakan agar THE OCTAF GROUP dan Semeton MSP selalu diberikan kesehatan serta kelancaran rezeki. Mereka berharap kegiatan berbagi dapat kembali dilakukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Di balik puluhan paket sembako yang dibagikan, perjalanan sosial tersebut akhirnya membuka cerita lain. Cerita tentang perjuangan krama Desa Adat Kubusalya yang bangkit setelah bencana dan kini berharap dukungan untuk menuntaskan upacara di Pura Bale Agung mereka. (red/riza)