Kerja Sama MGS Badung–Food Station Dorong Serapan Gabah, Stabilkan Harga Beras Bali

IMG-20260205-WA0108

BADUNG | Dunia News Bali, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung resmi menjalin kerja sama dengan BUMD DKI Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya, dalam upaya memperkuat rantai pasok beras sekaligus menjaga stabilitas harga gabah di Bali.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau nota kesepahaman tersebut berlangsung di Rice Milling Unit (RMU) milik Perumda MGS di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini turut disaksikan Bupati Badung Wayan Adi Arnawa serta Ketua Komisi III DPRD Badung Ponda Wirawan, bersama sejumlah undangan lainnya.

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas penyerapan gabah petani lokal sekaligus memperkokoh sistem distribusi pangan di Bali. Pemerintah daerah mendorong sinergi antarbadan usaha milik daerah agar produksi beras yang melimpah dapat terserap optimal dan harga tetap terkendali.

Berdasarkan data produksi, sektor pertanian Badung pada 2025 mampu menghasilkan sekitar 57.338 ton beras, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya mencapai 49.441 ton per tahun. Surplus tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkuat distribusi dan memastikan hasil panen petani memiliki pasar yang jelas.

Baca juga:  Presiden Prabowo Lantik Irjen Pol Suyudi Ario Seto Jadi Kepala BNN, Tegaskan Perang Lawan Narkoba

Direktur Utama Perumda MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menegaskan bahwa kerja sama ini tidak berorientasi pada pengiriman beras ke Jakarta. Menurutnya, Food Station memiliki jaringan pasar di Bali yang dapat diisi oleh produksi lokal Badung.

“Jadi bukan Badung mengirim beras ke Jakarta. Kebetulan Food Station punya market di Bali, dan kita mengisi market tersebut. Nilainya hampir sekitar Rp1 miliar per bulan,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, kapasitas produksi RMU Badung tergolong besar. Jika beroperasi secara optimal selama 24 jam, produksi beras dapat mencapai ratusan ton setiap bulan.

“Kalau dihitung secara kasar, bila beroperasi penuh, produksinya bisa mencapai sekitar 600 ton per bulan,” terangnya.

Pada tahap awal kerja sama, target penyerapan ditetapkan sekitar 500 ton beras per bulan. Untuk memenuhi target tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani Badung dan wilayah sekitarnya.

“Sementara ini masih mencukupi, karena kondisi produksi memang sedang surplus,” tambahnya.

Selain beras, sinergi antarbadan usaha ini juga membuka peluang pengembangan kerja sama pada komoditas pangan lain, seperti minyak goreng, gula, dan produk strategis lainnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya hilirisasi sektor pangan daerah.

Baca juga:  Digitalisasi dan Budaya Lokal Bertemu dalam Disertasi Doktor Lusia Vreyda Adveni

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, menilai Bali sebagai pasar potensial karena kebutuhan beras masih tinggi dan sebagian pasokannya berasal dari luar daerah.

Menurutnya, Kabupaten Badung dipilih karena memiliki pasar besar yang didukung sektor pariwisata, khususnya hotel, restoran, dan jasa katering.

“Penjualan kami saat ini sekitar Rp1 hingga Rp2 miliar per bulan, bukan hanya beras, tetapi juga gula dan komoditas lainnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kebutuhan beras di Bali mencapai sekitar 500 ribu ton per tahun. Selama ini, sebagian besar pasokan masih bergantung pada daerah luar, seperti Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

“Ke depan, kami berharap kerja sama ini dapat menjaga stabilitas harga gabah, memperluas penyerapan hasil panen petani, serta memperkuat ketahanan pangan Bali secara berkelanjutan,” pungkasnya. (red)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan