Musim Tanam Januari 2026, DTW Jatiluwih Distribusikan 22,8 Ton Pupuk

Facebook
X
WhatsApp
IMG-20260111-WA0097
Perwakilan petani dari salah satu Tempek Subak di kawasan Jatiluwih berpose di depan tumpukan pupuk bantuan yang disalurkan Manajemen Operasional DTW Jatiluwih. Total 22,8 ton pupuk didistribusikan ke tujuh Tempek Subak guna mendukung musim tanam pertama Januari 2026 dan memperkuat ketahanan pangan berbasis pertanian tradisional. (Foto: ist)

JATILUWIH | Dunia News Bali – Manajemen Operasional DTW Jatiluwih kembali menunjukkan keberpihakan nyata terhadap sektor pertanian di kawasan Jatiluwih. Memasuki musim tanam pertama Januari 2026, manajemen menyalurkan bantuan pupuk kepada tujuh Tempek Subak sebagai upaya menjaga keberlanjutan pertanian tradisional sekaligus ketahanan pangan daerah.

Penyaluran bantuan dilaksanakan dalam rentang waktu 30 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026. Total pupuk yang diserahkan mencapai 22,8 ton, diperuntukkan bagi lahan pertanian seluas 227,41 hektare. Distribusi dilakukan secara proporsional berdasarkan luas garapan masing-masing Tempek, dengan perhitungan umum satu kilogram pupuk per are.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, menjelaskan bahwa pada tahun ini pihaknya mengambil kebijakan khusus dengan memberikan tambahan pupuk di luar perhitungan standar. Setiap Tempek Subak menerima kelebihan 10 kilogram pupuk sebagai bentuk apresiasi kepada para petani yang selama ini konsisten menjaga sawah Jatiluwih secara alami dan tradisional.

“Kami ingin petani memiliki cadangan pupuk yang cukup di awal musim tanam. Tambahan ini kami berikan agar mereka lebih siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk fluktuasi harga sarana produksi pertanian,” ujarnya di sela kegiatan penyerahan bantuan.

Adapun rincian distribusi pupuk meliputi Subak Gunung Sari sebesar 4,859 ton, Subak Kedamaian 2,216 ton, Subak Besikalung 3,763 ton, Subak Kesambi 1,396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede 6,51 ton, serta Subak Umaduwi 1,863 ton. Seluruh perwakilan Tempek hadir langsung menerima bantuan tersebut.

Menurut Jhon Ketut Purna, bantuan pupuk ini merupakan bagian dari sinergi berkelanjutan antara sektor pariwisata dan pertanian. Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, keberlangsungan DTW Jatiluwih tidak terlepas dari peran petani dan sistem Subak yang tetap lestari hingga kini.

Baca juga:  Bantah Hoaks, BTID dan Warga Serangan Nyatakan Keharmonisan

“Pariwisata di Jatiluwih tumbuh karena petani tetap menjaga warisan leluhur. Oleh karena itu, manajemen merasa berkewajiban mendukung kebutuhan dasar pertanian, terutama pupuk pada awal musim tanam,” tegasnya.

Para petani menyambut positif kebijakan tambahan pupuk tersebut karena dinilai sangat membantu menjaga produktivitas lahan. Dengan dukungan berkelanjutan dari manajemen DTW Jatiluwih, kawasan ini optimistis mampu mempertahankan perannya sebagai lumbung pangan sekaligus destinasi wisata hijau unggulan di Bali pada tahun 2026. (red)

Berita Terpopular

selamat natal
tanah lot
natal
happy
galungan
galungan1
galunan2