TABANAN — Dunianewsbali.com, Pelayanan kawasan wisata Nuanu Creative City menjadi sorotan publik setelah keluhan seorang pengunjung viral di media sosial TikTok. Pengunjung bernama Kiky mengunggah pengalamannya yang mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat berkunjung bersama keluarga pada Kamis, 1 Januari 2026.
Dalam unggahannya, Kiky menyoroti sistem transportasi internal Nuanu yang dinilai tidak sesuai dengan informasi awal yang disampaikan petugas. Video tersebut dengan cepat menyebar dan menuai beragam respons dari warganet, termasuk dari pengunjung lain yang mengaku mengalami kejadian serupa.
Kiky mengungkapkan kepada awak media, ia bersama keluarga datang ke Nuanu sekitar pukul 16.30 WITA dan membeli tiket secara online seharga Rp50 ribu per orang untuk menghindari antrean, mengingat suasana libur Tahun Baru yang diperkirakan padat. Namun setibanya di lokasi, parkiran utama P1 sudah penuh dan pengunjung diarahkan ke parkiran P2.
Di parkiran P2, tersedia layanan buggy menuju pintu masuk kawasan. Sebelum masuk, Kiky mengaku telah berulang kali memastikan kepada petugas bahwa buggy tersebut akan mengantar dan menjemput kembali hingga parkiran P2, mengingat dirinya datang bersama balita dan orang tua. Petugas saat itu disebut menyatakan layanan tersebut bersifat antar-jemput.
“Saya sudah tegaskan, kalau tidak ada buggy kembali ke parkiran P2, kami tidak akan masuk. Petugas mengiyakan,” ujar Kiky.
Saat berada di dalam kawasan, Kiky dan keluarga sempat menikmati sejumlah titik wisata, termasuk Aurora Park, serta menunggu momen patung ikonik dinyalakan sekitar pukul 19.00 WITA. Namun karena kondisi pengunjung semakin padat, mereka memutuskan pulang lebih awal sekitar pukul 18.40 WITA.
Permasalahan muncul saat kepulangan. Kiky menuturkan, setelah mengantre dengan tertib untuk menaiki buggy menuju parkiran P2 dan kembali mengonfirmasi tujuan kepada petugas, rombongan justru diturunkan di tengah jalan, bukan di bus stop maupun area parkir.
“Petugas bilang sudah dekat dan menyuruh kami jalan kaki sambil mencari security. Faktanya jalannya gelap, naik-turun, dan cukup jauh,” ungkapnya.
Ia menyebut harus berjalan kaki sekitar 10 hingga 15 menit menuju parkiran. Sepanjang perjalanan, beberapa petugas yang ditemui dinilai tidak memberikan arahan jelas dan terkesan cuek. Sesampainya di parkiran, Kiky mendapati banyak pengunjung lain juga melayangkan protes karena mengalami hal serupa, bahkan ada pengunjung yang harus menggendong anak kecil melewati jalur minim penerangan.
Yang paling disesalkan, menurut Kiky, tidak ada permintaan maaf maupun penjelasan memadai dari pihak pengelola saat keluhan disampaikan di lokasi.
“Saya tidak minta diprioritaskan dan tidak menjadikan anak sebagai alasan. Tapi untuk orang dewasa saja, disuruh jalan di jalur gelap dan tidak rata itu sudah tidak pantas,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak pengelola Nuanu Creative City menyampaikan bahwa manajemen saat ini masih melakukan kajian internal terkait isu yang berkembang.
“Terima kasih atas informasinya. Saat ini pihak manajemen masih melakukan kajian terkait isu tersebut. Untuk perkembangan selanjutnya, manajemen akan menyampaikan pernyataan resmi apabila diperlukan,” demikian disampaikan perwakilan Nuanu kepada awak media.
Pihak Nuanu juga menyebut telah dihubungi oleh sejumlah rekan media dan mengapresiasi perhatian yang diberikan. Manajemen berharap isu ini dapat disikapi secara proporsional, mengingat kondisi pariwisata Bali yang dinilai sedang sensitif.
Sementara itu, Kiky berharap pihak pengelola Nuanu dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan pengunjung, khususnya saat kunjungan membludak, termasuk pembatasan kuota dan konsistensi informasi petugas di lapangan demi menjamin keamanan serta kenyamanan wisatawan.
Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak Nuanu Creative City untuk menyampaikan klarifikasi lanjutan apabila pernyataan resmi telah disampaikan kepada publik. (red/ich)