Oleh: I Made Wiraguna, SE ( Pak Denok) Semeton Suka Duka
DENPASAR | Dunia News Bali – Nusantara adalah identitas besar bangsa Indonesia yang lahir dari perjalanan panjang sejarah, budaya, perjuangan, dan persatuan. Di dalamnya hidup ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, adat istiadat, seni, serta tradisi yang menjadi kekayaan sekaligus kekuatan bangsa Indonesia.
Keberagaman tersebut dipersatukan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika dan diwujudkan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Mengapa Disebut Nusantara?
Istilah Nusantara telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Dalam Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada, Nusantara merujuk pada wilayah kepulauan di luar pusat Kerajaan Majapahit yang ingin dipersatukan.
Seiring perkembangan zaman, Nusantara menjadi simbol seluruh wilayah kepulauan Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Nusantara bukan hanya nama geografis, melainkan lambang persatuan, keberagaman, dan jati diri bangsa Indonesia.
Mengapa Burung Garuda Menjadi Lambang Negara?
Burung Garuda dipilih sebagai lambang negara karena melambangkan kekuatan, keberanian, kebijaksanaan, dan kemuliaan. Dalam khazanah budaya Nusantara, Garuda dikenal sebagai simbol pelindung kehidupan.
Pada dada Garuda terdapat perisai yang memuat lima sila Pancasila sebagai dasar negara. Sementara pita yang dicengkeram bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan ini menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa Indonesia.
Mengapa Bendera Indonesia Berwarna Merah Putih?
Merah Putih telah digunakan sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara, terutama Kerajaan Majapahit.
Warna merah melambangkan keberanian, semangat juang, dan pengorbanan. Warna putih melambangkan kesucian, kejujuran, dan ketulusan. Perpaduan kedua warna tersebut menjadi simbol karakter bangsa Indonesia yang berani membela kebenaran dan tulus dalam mengabdi kepada negara.
NKRI Sebagai Simbol Persatuan
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bentuk negara yang menyatukan seluruh wilayah Indonesia dalam satu kedaulatan. NKRI lahir dari perjuangan panjang para pendiri bangsa yang bertekad mempersatukan ribuan pulau dan beragam suku bangsa dalam satu negara yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.
NKRI menjadi perekat bangsa dalam menjaga persatuan, kedaulatan, dan keutuhan wilayah Indonesia.
Nusantara Sebelum Kemerdekaan
Jauh sebelum Indonesia merdeka, Nusantara telah melahirkan berbagai kerajaan besar yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, seperti Sriwijaya, Majapahit, Demak, Gowa-Tallo, Ternate, dan Tidore.
Kejayaan kerajaan-kerajaan tersebut menunjukkan bahwa Nusantara telah memiliki peradaban, sistem pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan yang maju.
Memasuki era kolonialisme, bangsa Indonesia mengalami penjajahan yang panjang. Namun semangat persatuan terus tumbuh hingga melahirkan momentum bersejarah melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Melalui ikrar “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia”, para pemuda dari berbagai daerah menyatukan tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, ketika Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perjalanan Sistem Pemerintahan Indonesia
Sejak kemerdekaan, Indonesia mengalami berbagai dinamika pemerintahan, mulai dari sistem presidensial, parlementer, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga Era Reformasi yang berlangsung hingga saat ini.
Setiap periode memiliki tantangan dan kontribusi tersendiri dalam proses pembangunan bangsa dan negara.
Presiden Republik Indonesia dari Masa ke Masa
Perjalanan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan para Presiden Republik Indonesia yang memimpin sesuai dengan tantangan pada masanya.
1. Ir. Soekarno (1945–1967)
Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia dan penggagas Pancasila sebagai dasar negara.
2. Jenderal Besar Soeharto (1967–1998)
Memimpin era Orde Baru dengan fokus pada stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi.
3. Bacharuddin Jusuf Habibie (1998–1999)
Memimpin masa transisi Reformasi dan membuka ruang demokrasi yang lebih luas.
4. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1999–2001)
Mendorong demokrasi, pluralisme, dan penghormatan terhadap keberagaman.
5. Megawati Soekarnoputri (2001–2004)
Presiden perempuan pertama Indonesia yang memimpin masa konsolidasi Reformasi.
6. Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014)
Presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.
7. Joko Widodo (2014–2024)
Mendorong pembangunan infrastruktur dan pemerataan pembangunan nasional.
8. Prabowo Subianto (2024–sekarang)
Melanjutkan pembangunan nasional dengan fokus pada ketahanan pangan, energi, dan penguatan sumber daya manusia.
Selain itu, sejarah Indonesia juga mencatat peran penting Syafruddin Prawiranegara sebagai pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan Mr. Assaat sebagai Pemangku Sementara Presiden Republik Indonesia pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS).

Dari 8 Menjadi 38 Provinsi
Pada awal kemerdekaan tahun 1945, Indonesia hanya memiliki delapan provinsi. Seiring perkembangan wilayah dan kebutuhan pemerintahan, jumlah provinsi terus bertambah melalui proses pemekaran daerah.
Hingga tahun 2026, Indonesia memiliki 38 provinsi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia.
Pakarang Adat dan Pelestarian Budaya Nusantara
Pakarang Adat merupakan simbol utuh yang merepresentasikan kekuatan seni, budaya, adat, dan tradisi Nusantara. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa Indonesia.
Seni, budaya, adat, dan tradisi bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga jiwa dan karakter bangsa yang harus terus dijaga, dilestarikan, serta diwariskan kepada generasi penerus.
Semangat yang diusung adalah:
Bhakti – Shakti – Mukti, yakni pengabdian, kekuatan, dan kemuliaan dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Filosofi Tri Hita Karana
Yayasan Tri Hita Karana Jambangan mengangkat filosofi keseimbangan hidup yang dikenal sebagai Tri Hita Karana, yaitu:
– Harmoni hubungan manusia dengan Tuhan.
– Harmoni hubungan manusia dengan sesama manusia.
– Harmoni hubungan manusia dengan alam semesta.
Filosofi ini menjadi pedoman dalam menciptakan kehidupan yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan.
Penutup
Perjalanan Nusantara adalah perjalanan panjang sebuah bangsa yang dibangun oleh sejarah, budaya, perjuangan, dan persatuan. Dari kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, hingga perjalanan para Presiden Republik Indonesia, semuanya menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.
Dengan berlandaskan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat NKRI, bangsa Indonesia terus melangkah maju tanpa melupakan akar budaya, adat, dan tradisi yang menjadi jati dirinya.
Ngayah Pinaka Yadnya, Ngayah Pinaka Bakti.