UTOPIA X DISTOPIA 2026 di Bali Hadirkan 72 Karya Asli Kreator, dari Mahasiswa hingga Seniman

Pembukaan pameran UTOPIA X DISTOPIA 2026 di Park23 Creative Hub, Tuban, Bali, yang mempertemukan seni, teknologi, AI, dan blockchain dalam pengembangan serta perlindungan karya kreatif. (Foto: Dnb)

DENPASAR | Dunia News Bali – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap dunia seni dan industri kreatif. Di tengah perkembangan tersebut, isu orisinalitas, kepemilikan, dokumentasi, hingga perlindungan karya menjadi semakin penting bagi para kreator.

Melihat kondisi tersebut, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) bersama House of Creative Artist (HOCA) menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan seni, pendidikan, teknologi, dan upaya perlindungan karya kreatif.

Kolaborasi itu diwujudkan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 yang mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.

Puncak kegiatan ditandai dengan pameran seni rupa bertajuk “UTOPIA X DISTOPIA: UNBALIeVABLE” yang digelar di Park23 Creative Hub, Tuban, Bali, Jumat, 7 Agustus 2026.

Pameran UTOPIA 2026 dibuka secara bersama-sama oleh Dr. I Made Marthana Yusa, S.Ds., M.Ds selaku Ketua Panitia; Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn selaku Ketua HOCA; Greatta Agatha dari BALIOLA; Anak Agung Gede Putra Wira Antara selaku Park23 Creative Hub Manager; serta perwakilan SMKN 1 Denpasar.

Pembukaan tersebut menandai dimulainya pameran yang mempertemukan karya seni rupa manual dan digital dengan pemanfaatan teknologi dalam upaya mendokumentasikan sekaligus memberikan perlindungan terhadap karya kreatif.

Pameran ini diselenggarakan INSTIKI dan HOCA dengan dukungan teknologi KRAFLAB.ID yang dikembangkan oleh BALIOLA.

PISN 2026 tidak hanya berfokus pada penciptaan karya seni. Program ini juga memberikan edukasi mengenai pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), pengembangan komunitas seni, serta pemanfaatan teknologi dalam mendokumentasikan dan melindungi karya kreatif.

Baca juga:  RDP DPRD Bali Memanas, BTID Pastikan Proses Tukar Lahan KEK Kura Kura Bukan “Bodong”

Rangkaian kegiatan diisi dengan sosialisasi perlindungan karya cipta kepada siswa SMK dan mahasiswa. Para peserta juga mengikuti workshop KRAFLAB untuk mengenal proses pembuatan identitas kreator digital, pengunggahan karya, kurasi, hingga penerbitan sertifikat digital berbasis blockchain.

Libatkan Talenta Lintas Generasi dan Daerah

Festival Seni Utopia 2026 menjadi ruang kreatif yang mempertemukan beragam talenta, mulai dari generasi muda hingga seniman profesional dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 72 karya ditampilkan dalam pameran tersebut. Rinciannya terdiri dari 32 karya mahasiswa INSTIKI dan ISI Bali, 29 karya siswa SMKN 1 Denpasar dan SMK Duta Bangsa Denpasar, serta 11 karya seniman dari Bali, Jakarta, dan Makassar.

Karya mahasiswa menghadirkan eksplorasi artistik dengan semangat dan perspektif generasi muda. Sementara karya para siswa membawa ide-ide segar dengan energi kreatif generasi baru.

Di sisi lain, karya para seniman dari Bali, Jakarta, dan Makassar memperkaya pameran dengan perspektif profesional sekaligus memperluas jejaring seni lintas daerah.

Peserta PISN 2026 berasal dari berbagai latar belakang, di antaranya mahasiswa Desain Komunikasi Visual dan UKM GRADASI INSTIKI, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, siswa SMK Negeri 1 Denpasar, siswa SMK Duta Bangsa Denpasar, anggota HOCA, hingga perupa senior.

Pameran ini dikuratori oleh Dr. I Made Marthana Yusa, S.Ds., M.Ds dan Yere Agusto.

Keterlibatan lintas generasi menjadi salah satu karakter yang membedakan UTOPIA 2026 dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Baca juga:  Kolaborasi PMI Tanam Mangrove Tetap Semangat dalam Guyuran Hujan

Jika UTOPIA 2025 lebih banyak melibatkan perupa senior HOCA, penyelenggaraan tahun ini memperluas ruang partisipasi dengan menghadirkan mahasiswa, siswa SMK, serta perupa profesional dari sejumlah daerah.

Dalam momentum tersebut, HOCA juga memperkenalkan identitas barunya. Sebelumnya HOCA merupakan singkatan dari House of Cartoon Mania. Kini, nama tersebut berubah menjadi House of Creative Artist.

Perubahan identitas ini menandai semakin luasnya cakupan komunitas yang tidak hanya bergerak dalam bidang seni kartun dan ilustrasi, tetapi juga seni rupa, desain komunikasi visual, seni digital, serta berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Angkat Tantangan AI terhadap Dunia Seni

Tema “UTOPIA X DISTOPIA: UNBALIeVABLE” menjadi ruang untuk membicarakan hubungan manusia, teknologi, dan kehidupan di Bali.

Konsep utopia menggambarkan kondisi ideal, sedangkan distopia merepresentasikan kondisi yang penuh persoalan. Dua gagasan tersebut dipertemukan dengan realitas perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat, termasuk kehadiran AI dalam dunia kreatif.

Perkembangan AI memberikan peluang baru bagi seniman untuk mengeksplorasi dan menghasilkan karya. Namun, teknologi yang sama juga menghadirkan tantangan terkait orisinalitas, kepemilikan, dan perlindungan karya.

Karena itu, PISN 2026 membawa pesan bahwa perkembangan seni tidak cukup hanya berbicara mengenai proses menghasilkan karya.

Kreator juga perlu memahami bagaimana karya tersebut didokumentasikan, memiliki bukti kepemilikan, serta mendapatkan perlindungan secara tepat.

Blockchain Jadi Sarana Dokumentasi Karya

Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan PISN 2026. Para peserta terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai HaKI dan pentingnya memberikan perlindungan terhadap karya yang dihasilkan.

Baca juga:  Tembok Digeser, Akses Bersama Dibuka: Solusi GWK Akhiri Ketegangan

Selanjutnya, peserta mengikuti workshop KRAFLAB untuk mempelajari proses sertifikasi digital berbasis blockchain.

Karya yang telah dihasilkan kemudian melalui proses seleksi dan kurasi sebelum ditampilkan dalam pameran UTOPIA 2026.

Teknologi blockchain digunakan untuk membantu menyediakan catatan kepemilikan karya secara digital. Melalui KRAFLAB, kreator dapat mendokumentasikan karya sekaligus memperoleh bukti digital atas karya yang dihasilkan.

Program PISN 2026 menargetkan penerbitan sedikitnya 50 sertifikat digital berbasis blockchain bagi karya-karya yang telah melalui proses kurasi.

Dorong Ekosistem Seni dan Teknologi

Kolaborasi INSTIKI, HOCA, BALIOLA melalui KRAFLAB, serta Kemendiktisaintek dalam PISN 2026 diharapkan mampu memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, komunitas seni, generasi muda, industri kreatif, dan teknologi.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda agar tidak hanya aktif menciptakan karya, tetapi memahami nilai ekonomi dan aspek hukum yang melekat pada karya tersebut.

Melalui pameran UTOPIA X DISTOPIA: UNBALIeVABLE, publik diajak melihat bagaimana seni dapat menjadi medium untuk membaca perubahan zaman.

Di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi digital, kreativitas manusia tetap menjadi bagian penting dalam membangun masa depan seni dan budaya.

PISN 2026 diharapkan menjadi salah satu contoh bahwa seni dan teknologi dapat berjalan berdampingan. Kolaborasi tersebut tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga membuka dialog mengenai masa depan manusia, seni, budaya, teknologi, serta perlindungan karya kreatif di era digital. (red/tim)

Berita Terpopular

Scroll to Top