Divergent Mind: Membaca Kebebasan Berpikir Made Romi Sukadana Lewat Lukisan

IMG-20260109-WA0024
Dari kiri ke kanan: Kurator pameran I Made Susanta Dwitanaya, perupa I Made Romi Sukadana, pembuka pameran Made Sujana Suklu, serta perwakilan Santrian Gallery Made Dolar Astawa saat pembukaan pameran tunggal “Divergent Mind” di Santrian Gallery, Sanur, Jumat (9/1/2026).

DENPASAR — Dunianewsbali.com, Perubahan, ketidakpastian, dan keberanian untuk menyimpang menjadi fondasi utama praktik kreatif Made Romi Sukadana. Melalui pameran tunggal bertajuk “Divergent Mind”, Romi menegaskan bahwa proses berpikir dan melukis adalah satu kesatuan yang terus bergerak, di mana nilai artistik justru lahir dari keberlanjutan pencarian, bukan dari kemapanan gaya.

Sebanyak 24 karya Romi dipamerkan di Santrian Gallery, Sanur, selama satu bulan mulai Jumat (9/1/2026). Pameran yang menandai awal perjalanan artistik Romi di tahun 2026 ini dibuka secara resmi oleh Made Suklu melalui prosesi pengguntingan pita.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya, menjelaskan bahwa selama ini identitas seniman kerap dipahami sebagai gaya visual yang stabil dan konsisten. Seorang perupa sering dianggap matang ketika karyanya mudah dikenali dan berkembang secara linear dari waktu ke waktu.

Pendekatan tersebut, menurut Susanta, memang memudahkan pembacaan dan klasifikasi karya. Namun, cara pandang itu juga berpotensi mereduksi kompleksitas proses kreatif yang sejatinya dinamis, penuh lompatan, serta tidak selalu bergerak dalam garis lurus.

Baca juga:  Nengah Tamba Terima Surat Tanda Lapor Laskar Prabowo 08 dari Kesbangpol Bali

Melalui Divergent Mind, Made Romi justru menawarkan pembacaan lain atas identitas artistik. Pameran ini menempatkan identitas sebagai refleksi alam pikir seniman yang otonom, sebuah ruang batin yang diwarnai perubahan, pergeseran, dan ketegangan sebagai nilai utama praktik seni.

Dalam kajian psikologi kreativitas, Susanta mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep divergent thinking, yakni kemampuan mental untuk menghasilkan beragam kemungkinan dan menolak satu solusi tunggal sebagai kebenaran final. Konsep ini diperkenalkan oleh J. P. Guilford pada 1950 sebagai kritik atas dominasi convergent thinking yang menekankan efisiensi logis dan jawaban benar–salah.

Guilford merumuskan empat karakter utama berpikir divergen: fluency (kelimpahan ide), flexibility (kelenturan berpindah pendekatan), originality (keunikan gagasan), dan elaboration (kemampuan mengembangkan ide secara mendalam). Dalam seni rupa, berpikir divergen tidak hanya hadir sebagai strategi intelektual, tetapi juga sebagai pengalaman tubuh dan kesadaran.

Kondisi ini selaras dengan konsep flow yang diperkenalkan Mihaly Csikszentmihalyi, yakni keadaan ketika seniman sepenuhnya larut dalam proses kreatif dan bertindak berdasarkan intuisi yang terlatih. Pada tahap ini, karya lahir dari dialog spontan antara pengalaman, intuisi, dan medium lukisan itu sendiri.

Baca juga:  Silaturahmi Awal 2024, Hipakad Udayana Dan PPAD Bali Solid Rapatkan Barisan

Alih-alih mencari keseragaman gaya, pameran ini mengajak publik memahami perbedaan, kontradiksi, dan ketegangan antar karya sebagai bagian dari pernyataan artistik. Perbedaan gaya diposisikan bukan sebagai kegagalan koherensi, melainkan sebagai manifestasi kebebasan berpikir yang disadari.

Kesadaran Romi atas dirinya sebagai otoritas penuh atas karya-karyanya menjadi landasan penting dalam praktik ini. Ia bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan estetik dan konseptual, seraya menyadari bahwa otonomi artistik selalu berada dalam relasi sosial dan kultural yang kompleks.

Sementara itu, Made Dolar Astawa mewakili Santrian Gallery menegaskan komitmen pihaknya dalam membuka ruang bagi seniman Bali maupun Nusantara. “Kami ingin seni rupa terus tumbuh dan berkembang lebih luas, dengan memberi ruang ekspresi yang sehat bagi para perupa,” ujarnya. (red)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan