Siwaratri, Nyepi, dan Misterinya: Ketika Sastra dan Astronomi Bertemu

a74e46f3-78f1-4ce4-a241-9b089c03660c

DENPASAR | Dunia News Bali – Upaya memperdalam pemahaman umat terhadap makna hari-hari suci Hindu kembali ditegaskan dalam kegiatan Rembug Sastra Siwaratri Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. I Gede Suwantana, M.Ag. dan Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag., yang mengulas Siwaratri, Nyepi, dan Tilem dari perspektif sastra, Vedanta, serta astronomi Hindu (Jyotisha).

Dalam pemaparannya, Dr. I Gede Suwantana menekankan bahwa persoalan utama dalam praktik keberagamaan Hindu dewasa ini bukan terletak pada kurangnya ritual, melainkan pada cara membaca dan memaknai teks suci. Menurutnya, banyak praktik keagamaan telah berjalan baik secara lahiriah, namun sering kali belum menyentuh esensi batiniah yang dikandung teks-teks suci tersebut.

Ia mencontohkan perayaan Siwaratri yang selama ini kerap hanya dirujuk pada kisah Lubdaka secara literal. Padahal, dalam perspektif Vedanta, kisah Lubdaka adalah karya simbolik tentang perjalanan spiritual manusia. Lubdaka, sang pemburu, melambangkan manusia dengan beragam svadharma yang sejatinya selalu “memburu” tujuan hidupnya. Hutan, malam gelap, tidak tidur, hingga pemetikan daun bila merupakan simbol perjalanan kesadaran menuju pencerahan.

Baca juga:  Wujudkan Program Presiden, Rutan Kelas IIB Negara Bagikan Sembako Gratis

“Ketika kesadaran (citta) mampu berdiam dalam sunya dan pikiran bebas dari konstruksi, maka segala tindakan akan bermuara pada bhakti,” jelasnya seraya mengutip ajaran Vijñāna Bhairava Tantra. Menurutnya, keberhasilan Lubdaka bukan karena membawa hasil buruan, melainkan karena ia mencapai kesadaran baru (sunya), sehingga terbebas dari ikatan penderitaan.

Ia juga mengaitkan Siwaratri dengan Nyepi sebagai dua momentum spiritual yang sama-sama menekankan kehadiran cahaya kesadaran. Brata Nyepi seperti Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelungan dipahami sebagai ekspresi penyatuan energi, tindakan, emosi, dan kecerdasan ke dalam sunya.

Sementara itu, Gede Endy Kumara Gupta mengulas mengapa banyak hari raya penting Hindu berporos pada Tilem (Amavasya), termasuk Nyepi dan Siwaratri, dari sudut pandang astronomi Hindu (Jyotisha/Wariga). Ia menjelaskan bahwa penentuan hari suci Hindu sejatinya bertumpu pada relasi Matahari, Bulan, Bumi, dan Bintang.

Ia memaparkan bahwa Siwaratri secara tekstual dirujuk pada Māghamāsa Kṛṣṇa Caturdaśī sebagaimana tercantum dalam Siwa Purana dan Skanda Purana. Namun, dalam praktik penanggalan, terjadi perbedaan antara sistem tropical dan sidereal, yang menyebabkan perbedaan waktu perayaan antara Bali dan tradisi Hindu di luar Nusantara.

Baca juga:  Terobosan Andrographolid, Penelitian dr. Indira Dharmasamitha Cetak Sejarah di Unud

“Tilem adalah titik klimaks kegelapan. Dalam tradisi Siwaistik, Siwa tidak dikaitkan dengan purnama, tetapi justru dengan kegelapan. Karena di sanalah kesadaran diuji dan ditumbuhkan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa perayaan Siwaratri yang jatuh menjelang Tilem (Caturdasi) mencerminkan fase psikologis manusia sebelum memasuki titik puncak kegelapan dan ketakutan.
Diskusi juga menyoroti tantangan generasi muda dalam memaknai hari-hari suci Hindu. Para narasumber sepakat bahwa persoalannya bukan semata “degradasi moral” atau “zaman Kali Yuga”, melainkan perlunya menemukan metode pewarisan makna yang lebih kontekstual tanpa menghilangkan esensi ajaran.

Selain itu, muncul pula gagasan pentingnya membangun “laboratorium hidup” melalui kerja sama perguruan tinggi, pemerintah, dan desa adat, agar pemahaman tentang upacara dan sastra suci tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hidup dalam praktik keseharian umat.

Rembug Sastra Fakultas Brahma Widya UHN IGB Sugriwa Denpasar ini menegaskan bahwa Hindu bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama teks, simbol, dan kesadaran. Siwaratri, Nyepi, dan Tilem tidak cukup dipahami sebagai penanda kalender, melainkan sebagai ruang kontemplasi kosmis dan batiniah untuk menumbuhkan kesadaran sejati di tengah tantangan zaman.

Berita Terpopular

selamat natal
tanah lot
natal
happy
galungan
galungan1
galunan2