AA Ayu Priniti Tuntaskan Aspirasi Warga Banjar Pagan Kelod dengan Hibah Gong Kebyar

Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar, AA Ayu Priniti bersama Klian Adat I Banjar Pagan Kelod, I Wayan Adi Santika, yang mewakili Klian Adat AKP (Purn) Ketut Wijaya dalam rangkaian piodalan dan penyerahan hibah gong kebyar di Banjar Pagan Kelod, Denpasar.

DENPASAR | Dunia News Bali – Warga Banjar Pagan Kelod, Desa Adat Pagan, Sumerta Kauh, Denpasar menggelar piodalan di Pelinggih Ratu Gede Penyarikan bertepatan dengan Hari Tumpek Bubuh atau Tumpek Uduh, Sabtu (23/5/2026). Piodalan tahun ini berlangsung khidmat sekaligus menjadi momentum penuh syukur bagi masyarakat setempat.

Pelaksanaan upacara terasa istimewa karena bertepatan dengan penyaluran hibah senilai Rp200 juta untuk pengadaan serta perbaikan perangkat gamelan gong kebyar Banjar Pagan Kelod. Bantuan tersebut merupakan hibah Pemerintah Kota Denpasar yang difasilitasi Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar, AA Ayu Priniti.

Prosesi piodalan dipuput Ida Pedanda dari Griya Tegaljingga, Lebah, Denpasar. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang umumnya dipimpin pemangku, kali ini upacara menggunakan sarana upakara pulegembal dan caru panca sata.

Klian Banjar Adat Pagan Kelod yang diwakili I Wayan Adi Santika menjelaskan, piodalan kali ini merupakan piodalan jelih atau nadi karena dilaksanakan dengan tingkatan upacara yang lebih utama.

“Piodalan kali ini merupakan piodalan jelih atau nadi karena menggunakan banten pulegembal dan caru panca sata yang dipuput Ida Pedanda,” ujarnya.

Baca juga:  Monitoring Intensif, Lapas Kerobokan Tetap Aman di Tengah Liburan

Ia menambahkan, pelaksanaan pecaruan juga berkaitan dengan rentang waktu sejak karya melaspas balai banjar pada tahun 2009. Selain itu, berbagai aktivitas yang berlangsung di kawasan balai banjar dinilai perlu dinetralisir secara niskala.

“Mengingat sudah cukup lama sejak karya melaspas dan banyak kegiatan yang berlangsung di kawasan banjar, maka dilaksanakan pecaruan untuk menetralisir papa, lara, dan klesa,” jelasnya.

Dalam rangkaian upacara tersebut, turut dilaksanakan mejaya-jaya bagi prajuru baru Banjar Pagan Kelod yang kini dipimpin Ketut Subrata.

Selain prosesi adat dan keagamaan, perhatian warga juga tertuju pada bantuan hibah gong kebyar yang selama ini menjadi harapan masyarakat banjar. Dana hibah tersebut akan dimanfaatkan untuk memperbaiki sekaligus melengkapi perangkat gamelan yang ada.

“Dana hibah ini digunakan untuk ngukir plawah gamelan sekaligus menambah perangkat yang masih kurang,” kata Adi Santika.

Sementara itu, AA Ayu Priniti menyampaikan bahwa perjuangannya di DPRD Kota Denpasar tidak terlepas dari dukungan masyarakat Banjar Pagan Kelod. Karena itu, dirinya ingin memperjuangkan aspirasi warga, terutama dalam penguatan seni dan budaya lokal.

Baca juga:  Garis, Warna, dan Getaran Hati: Dunia Abstrak Tien Hong

“Sekarang saatnya saya memperjuangkan aspirasi masyarakat tempat saya hidup dan bermasyarakat,” ujar AA Ayu Priniti.

Ia juga menilai Banjar Pagan Kelod memiliki potensi seni budaya yang sangat kuat. Sejumlah kelompok seni di banjar tersebut aktif tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) hingga menjadi duta seni Kota Denpasar.

“Pelegongan, semara pegulingan, hingga drama gong ada di banjar ini,” ungkapnya.

Meski dikenal memiliki potensi seni yang besar, Banjar Pagan Kelod selama ini belum memiliki perangkat gong kebyar yang memadai. Karena itu, bantuan hibah tersebut menjadi jawaban atas impian masyarakat yang telah dinanti selama puluhan tahun.

“Sudah puluhan tahun kami bermimpi memiliki perangkat gong kebyar. Baru kali ini bisa terwujud. Kami berterima kasih kepada Bu Gek, AA Ayu Priniti, atas perjuangannya,” tutup Adi Santika. (Ich)

Berita Terpopular

Scroll to Top