DENPASAR | Dunia News Bali – Pertemuan silaturahmi antara dua purnawirawan TNI asal Bali menjadi momentum penting dalam memperkuat semangat kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai lokal. Melalui filosofi Tri Hita Karana, keduanya menegaskan komitmen untuk terus berkontribusi bagi pembangunan daerah dan penguatan persatuan nasional.
Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia dan Brigjen TNI (Purn) dr. I Made Mardika, Sp.PD., MARS., FINASIM bertemu dalam sebuah forum silaturahmi di Bali. Pertemuan tersebut menjadi wadah bertukar gagasan sekaligus merajut sinergi lintas sektor demi kemajuan Bali dan Indonesia.

Kegiatan itu tidak sekadar menjadi ajang reuni antar senior militer. Kedua tokoh menekankan bahwa pengabdian kepada bangsa harus terus berlanjut meskipun masa tugas di lingkungan TNI telah berakhir.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, berbagai isu strategis turut dibahas, terutama terkait pembangunan Bali yang tetap berlandaskan budaya, adat istiadat, serta filosofi hidup masyarakat setempat. Penguatan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian budaya menjadi perhatian utama yang dinilai penting untuk menjaga identitas daerah di tengah perkembangan zaman.
Keduanya juga sepakat bahwa pengalaman, wawasan, dan jejaring yang diperoleh selama bertugas di tingkat nasional merupakan amanah yang perlu terus dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan Bali maupun Indonesia secara luas.
“Pengabdian tidak mengenal masa pensiun. Ketika diberi kesempatan berkumpul, tugas kita adalah mencari titik temu demi Indonesia yang lebih baik, dimulai dari Bali yang lebih baik,” ujar Brigjen TNI (Purn) dr. I Made Mardika.
Nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi landasan utama dalam pertemuan tersebut. Filosofi yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan diyakini tetap relevan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Menurut kedua tokoh, Bali yang kuat, harmonis, dan berkarakter akan menjadi cerminan Indonesia yang tangguh. Karena itu, pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan spiritualitas, budaya, serta kelestarian alam.
Silaturahmi tersebut juga diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda, kalangan akademisi, birokrat, hingga desa adat untuk melanjutkan estafet pengabdian dan kebangsaan yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Dari pertemuan dua putra terbaik Bali itu mengemuka satu pesan penting, yakni bahwa pengabdian kepada bangsa tidak ditentukan oleh jabatan maupun pangkat. Semangat menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, dan membangun negeri harus terus diwariskan demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (red/riza)