DENPASAR | Dunia News Bali – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli terus memantapkan langkah sebagai destinasi wisata berkelanjutan dengan mengedepankan kualitas pengalaman wisatawan, pelestarian budaya, penguatan lingkungan, serta transformasi digital. Di tengah dinamika ekonomi global yang turut memengaruhi sektor pariwisata, tingkat kunjungan wisatawan ke desa adat yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia itu masih tergolong stabil.
Ketua Badan Usaha Desa Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan bahwa arah pengembangan pariwisata Penglipuran saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan. Fokus utama yang dibangun adalah bagaimana setiap wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan, memahami nilai budaya, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat lokal.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kegiatan Simakrama Media bersama Desa Penglipuran yang berlangsung di Tuniang Bali, Jalan Tukad Gangga Nomor 23 B, Denpasar, Senin (22/6/2026). Kegiatan itu turut dihadiri Pengamat Ekonomi dan Pariwisata Bali Trisno Nugroho, Humas Bank Indonesia Bali Gede Panca, serta Pengamat Kebijakan Publik Umar Ibnu Alkhatab.
Menurut Sumiarsa, konsep pariwisata berkualitas yang diterapkan di Penglipuran mencakup berbagai aspek, mulai dari pelayanan yang baik, pelestarian adat dan budaya, hingga menjaga kebersihan lingkungan yang selama ini menjadi identitas kuat desa wisata tersebut.
Sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan, Desa Penglipuran bersama Bank Indonesia tengah membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Program tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mempertahankan citra Penglipuran sebagai desa yang bersih dan tertata.
Saat ini pembangunan TPS3R telah mencapai sekitar 75 persen. Berbagai mesin pengolahan sampah juga telah dipasang dan siap mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif di kawasan desa wisata.
Kolaborasi dengan Bank Indonesia tidak hanya menyentuh aspek lingkungan. Penglipuran juga terus memperkuat transformasi digital melalui penerapan sistem pembayaran non-tunai bagi wisatawan. Kini pengunjung dapat melakukan transaksi menggunakan QRIS, Visa Card, hingga MasterCard.
Sumiarsa menjelaskan, perubahan tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya transaksi digital hampir tidak digunakan, kini kontribusinya telah mencapai sekitar 40 persen dari keseluruhan transaksi yang terjadi di kawasan wisata Penglipuran.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian serius. Berbagai pelatihan diberikan kepada masyarakat agar mampu memberikan pelayanan yang lebih profesional sekaligus menciptakan pengalaman wisata yang semakin berkualitas bagi para pengunjung.
Di sektor infrastruktur wisata, Penglipuran juga melakukan sejumlah penataan. Salah satunya melalui pembangunan relief edukatif di jalur menuju kawasan hutan bambu. Fasilitas tersebut dirancang sebagai sarana informasi yang memperkenalkan sejarah, perkembangan, dan perjalanan Desa Penglipuran kepada wisatawan.
Dengan adanya relief tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam hutan bambu, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai nilai budaya dan sejarah yang membentuk identitas Desa Penglipuran hingga dikenal secara luas.
Penataan kawasan hutan bambu juga dilakukan melalui pembenahan jogging track. Kawasan ini sebelumnya telah dimanfaatkan untuk penyelenggaraan kegiatan Fun Run yang mendapat sambutan positif dari wisatawan maupun masyarakat.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan budaya, pemerintah desa juga mengalokasikan sebagian manfaat ekonomi dari sektor pariwisata untuk masyarakat. Bentuk dukungan tersebut antara lain berupa bantuan sosial dan subsidi konservasi bangunan tradisional yang menjadi ciri khas Penglipuran.
Tiga bangunan utama yang mendapat perhatian khusus adalah angkul-angkul, dapur tradisional, dan bale saka enem. Ketiganya wajib dipertahankan sesuai bentuk aslinya dengan tetap menggunakan material bambu sebagai bagian dari upaya menjaga keaslian arsitektur desa.
Menurut Sumiarsa, dana yang digunakan untuk konservasi tersebut berasal dari aktivitas pariwisata. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung turut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya yang dimiliki Desa Penglipuran.
Di sisi lain, penguatan sektor UMKM juga terus dilakukan agar manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. Untuk menunjang pengelolaan yang profesional, Desa Adat Penglipuran membentuk Badan Usaha Desa Penglipuran yang bertugas mengelola berbagai unit usaha desa, termasuk sektor pariwisata.
Langkah tersebut dinilai penting guna menciptakan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan sehingga manfaat pariwisata dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.
Selain memberikan kenyamanan melalui fasilitas dan pelayanan, Penglipuran juga menyediakan perlindungan asuransi bagi wisatawan yang berkunjung sesuai dengan paket wisata yang dibayarkan.
Untuk memperkuat daya tarik destinasi, Desa Penglipuran akan kembali menggelar Penglipuran Village Festival 2026 pada 9–11 Juli mendatang. Festival tahun ini mengusung tema “Keharmonisan Bumi Penglipuran Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif.”
Tema tersebut mencerminkan komitmen Desa Penglipuran dalam menjaga keseimbangan antara budaya, lingkungan, ekonomi, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam pembangunan pariwisata.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini juga memberikan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk tampil dalam berbagai pertunjukan budaya, khususnya pada rangkaian acara pembukaan.
Selain menampilkan kegiatan seni dan budaya, festival juga akan diisi dengan workshop lingkungan yang melibatkan wisatawan secara langsung serta berbagai kegiatan kesehatan, termasuk Yoga Ketawa pada hari penutupan.
Konsep pariwisata regeneratif yang diangkat dalam festival ini mendorong wisatawan agar tidak hanya datang untuk menikmati destinasi, tetapi juga ikut memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat.
Melalui pendekatan Something to See, Something to Do, Something to Buy, dan Something to Learn, wisatawan akan diajak menikmati pengalaman yang lebih mendalam, mulai dari mengenal budaya lokal, menjelajahi hutan bambu, hingga mengikuti aktivitas kreatif seperti bambu painting.
Dengan berbagai program tersebut, Desa Penglipuran terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan pariwisata Bali. (rz)