Jegeg Bagus Bali 2026 Usung Tema Prananing Atma Raksa, Teguhkan Peran Generasi Muda Jaga Budaya dan Pariwisata Berkelanjutan

Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Tjok Bagus Pemayun, mewakili Gubernur Bali Wayan Koster, membuka Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Bali 2026 dengan pemukulan kempur di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (7/8/2026)

DENPASAR | Dunia News Bali – Semangat pelestarian budaya dan pembangunan pariwisata berbasis nilai-nilai kearifan lokal menjadi pesan utama dalam Grand Final Pemilihan Jegeg Bagus Bali 2026 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (7/8/2026) malam. Tahun ini, ajang pemilihan duta pariwisata Bali tersebut mengusung tema “Prananing Atma Raksa: Sanctuary of the Living Soul.”

Sebanyak 18 finalis yang terdiri atas sembilan pasang Jegeg dan Bagus mewakili sembilan kabupaten/kota di Bali bersaing menampilkan kemampuan, wawasan, karakter, serta kepedulian mereka terhadap pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata daerah.

Grand final dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Tjok Bagus Pemayun, A.Par., M.M., yang hadir mewakili Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan ditandai dengan pemukulan kempur bersama Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ketua Umum Jegeg Bagus Bali, serta Jegeg dan Bagus Bali 2025.

Dalam sambutan tertulis Gubernur Bali yang dibacakan Tjok Bagus Pemayun, disampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan para finalis yang telah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, tema Prananing Atma Raksa mengandung makna mendalam mengenai pentingnya menjaga kemuliaan jiwa, jati diri, nilai budaya, dan keseimbangan kehidupan sebagai landasan pembangunan pariwisata Bali.

Baca juga:  Membangun Pariwisata Melalui Sinergi Perizinan dan Investasi

Nilai tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menitikberatkan pada upaya menjaga keharmonisan alam beserta seluruh isinya demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara sekala maupun niskala.

Ketua Panitia Jegeg Bagus Bali 2026, Indah Amertha, menjelaskan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan pembaruan melalui penguatan tema yang memiliki keterkaitan filosofis dengan tema Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026, yakni Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha.

Menurut Indah, Prananing Atma Raksa dimaknai sebagai ruang perlindungan sekaligus pemuliaan terhadap napas kehidupan. Filosofi tersebut membawa semangat yang sama dengan PKB, yakni menjaga, merawat, dan memuliakan kehidupan, budaya, serta identitas masyarakat Bali.

Ia mengakui tantangan terbesar selama penyelenggaraan berada pada aspek pengelolaan waktu dan komitmen seluruh panitia. Namun, berkat kerja sama yang solid, seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung hingga malam puncak sesuai rencana.

Proses penilaian peserta tidak hanya dilakukan saat grand final, tetapi telah dimulai sejak masa karantina melalui konsep 4B, yaitu Brain, Beauty, Behavior, dan Brave. Penilaian dilakukan secara menyeluruh melalui berbagai tahapan, mulai dari Social Project, Motion Challenge, Malam Budaya, Deep Interview, hingga pengamatan terhadap perilaku keseharian para finalis.

Baca juga:  Jalin Silaturahmi, Dirintelkam Polda Bali dan Ketua NU Bali Tegaskan Jaga Harkamtibmas di Bali

Untuk menjaga objektivitas, panitia melibatkan akademisi, profesional, serta alumni Jegeg Bagus Bali sebagai dewan juri. Mereka terdiri atas Dr. I Nyoman Sudiarta, S.E., M.Par.; Drs. I Gede Nala Antara, M.Hum.; I Gede Juliana Eka Putra, S.T., M.T.; Wangsa Ayu Vidya Loka, S.Psi., M.Psi.; dan Paul Suardi.

Rangkaian malam grand final diawali dengan Dialog Promosi Wisata, di mana setiap pasangan finalis mempresentasikan potensi wisata daerah asal melalui penampilan bebanyolan berdurasi tiga menit.

Kompetisi kemudian berlanjut ke babak Top 6 yang diisi sesi tanya jawab dengan waktu menjawab selama 45 detik. Penampilan Gung Paloma, Trio Suaraya, dan komedi tradisional Bondres turut memeriahkan suasana malam puncak.

Setelah last speech dari Jegeg dan Bagus Bali 2025, kompetisi memasuki babak tiga besar. Pada tahap ini, para finalis menghadapi pertanyaan langsung, dengan kategori Bagus mendapat pertanyaan dari perwakilan Pemerintah Provinsi Bali, sedangkan kategori Jegeg dari Ketua Dekranasda Provinsi Bali. Setiap finalis diberikan waktu 60 detik untuk menyampaikan jawaban.

Sebelum penobatan pemenang, panitia menyerahkan penghargaan untuk kategori Favorit, Photogenic, Persahabatan, Intelegensia, serta Runner Up V, IV, dan III. Malam puncak kemudian ditutup dengan penobatan Jegeg dan Bagus Bali 2026 beserta Runner Up I dan Runner Up II oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Bali bersama Ketua Dekranasda Provinsi Bali.

Baca juga:  Menkomdigi Dukung Program Rumah Subsidi untuk Wartawan, Akses Hunian Terjangkau Masih Jadi Tantangan

Melalui ajang ini, para pemenang dan seluruh finalis diharapkan mampu menjalankan peran lebih luas sebagai duta pariwisata yang tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga aktif menginisiasi Social Project, melakukan advokasi, serta membangun kolaborasi bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Melalui ajang ini, Jegeg Bagus Bali diharapkan terus melahirkan generasi muda yang mampu menjadi wajah pariwisata Bali sekaligus berperan aktif menjaga kelestarian budaya, memperkuat identitas daerah, serta mempromosikan pariwisata yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal, keseimbangan alam, dan warisan budaya Bali. (red/riza)

Berita Terpopular

Scroll to Top