KEK Kura Kura Bali Catat Investasi Rp1,79 Triliun, Serap 5.316 Tenaga Kerja

DENPASAR | Dunia News Bali – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali terus memperlihatkan perkembangan investasi sekaligus penyerapan tenaga kerja. Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi pembangunan di kawasan tersebut mencapai Rp1.796,82 miliar atau sekitar Rp1,79 triliun, dengan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 5.316 orang.

Jika dihitung sejak proses pengusulan KEK, total investasi pembangunan di kawasan tersebut telah mencapai Rp2.850,58 miliar atau sekitar Rp2,85 triliun.

KEK Kura Kura Bali yang dikelola PT Bali Turtle Island Development (BTID) memiliki luas kawasan sekitar 498 hektare. Pengembangannya diarahkan menjadi kawasan terpadu yang menggabungkan sektor pariwisata dan industri kreatif.

 

Presiden Komisaris PT BTID, Tantowi Yahya, mengatakan pengembangan KEK Kura Kura Bali memperoleh dukungan pemerintah setelah kawasan tersebut resmi ditetapkan sebagai KEK untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pada April 2023.

“Syukur Alhamdulillah, Astungkara niat ini disambut baik oleh Pemerintah. Jadi, April 2023 kita diresmikan oleh Pemerintah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Tantowi saat menerima Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI di KEK Kura Kura Bali, Denpasar, Kamis (23/7/2026).

Baca juga:  Bank BPD Bali Raih Penghargaan Nasional ITAY 2026, Tegaskan Komitmen Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan UMKM

Serap 5.316 Tenaga Kerja

Dari realisasi investasi hingga triwulan II 2026 sebesar Rp1.796,82 miliar, tercatat terdapat tiga pelaku usaha yang telah berinvestasi di kawasan tersebut. Aktivitas investasi itu turut memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja yang kini mencapai 5.316 orang.

Mayoritas tenaga kerja tersebut merupakan masyarakat lokal, termasuk warga Desa Serangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan KEK Kura Kura Bali tidak semata-mata diarahkan untuk mendatangkan modal dan investor, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat di sekitar kawasan.

Sementara itu, total investasi pembangunan sejak tahapan awal pengusulan KEK tercatat mencapai Rp2.850,58 miliar.

Dari sisi lokasi, KEK Kura Kura Bali memiliki posisi strategis karena berada relatif dekat dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Keunggulan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung dalam pengembangan destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif yang menyasar wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tawarkan Kemudahan dan Insentif Investasi

Sebagai kawasan ekonomi khusus, KEK Kura Kura Bali juga menawarkan sejumlah fasilitas dan kemudahan bagi investor. Salah satunya berupa tax holiday serta berbagai insentif investasi dengan jangka waktu hingga 20 tahun.

Baca juga:  Nuanu Run 2026 di Tabanan Diikuti 1.200 Pelari, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Komunitas Lari Bali

Investor juga memperoleh kemudahan dalam proses perekrutan tenaga kerja internasional serta percepatan proses kepabeanan untuk mendukung kegiatan operasional usaha di kawasan.

Pengembangan KEK Kura Kura Bali tidak hanya difokuskan pada pembangunan akomodasi pariwisata. BTID mengusung konsep destinasi wisata terintegrasi yang memadukan pariwisata, industri kreatif, gaya hidup, pendidikan, kesehatan, hingga aspek lingkungan.

Presiden Direktur PT BTID, Tuti Hadiputranto, mengatakan pihaknya sejak awal ingin menghadirkan model pengembangan pariwisata yang berbeda dari kawasan wisata pada umumnya.

Menurutnya, konsep tersebut dirancang agar KEK Kura Kura Bali tidak hanya bergantung pada bisnis perhotelan, tetapi memiliki ekosistem pariwisata yang lebih luas dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan.

“Kita akan membangun sesuatu yang beda, harus berkelas. Kita tidak mau membangun pariwisata hanya sekadar membuat hotel dan vila seperti tempat-tempat lain di Bali. Kami membuat integrated tourism destination,” kata Tuti.

Ia mencontohkan sejumlah destinasi internasional seperti Maladewa dan Bahama yang dinilai mampu mengembangkan sektor pariwisata secara kuat dan berkelanjutan.

Baca juga:  Proyek Villa Mandek, Dana Rp9,2 Miliar Diduga Diselewengkan, WNA Valur Dituntut 3 Tahun 4 Bulan

Dorong Pariwisata Berkelanjutan

Pengembangan investasi di KEK Kura Kura Bali juga diarahkan untuk membangun kawasan yang berkelanjutan dengan mengacu pada filosofi Tri Hita Karana.

Filosofi tersebut menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.

Dalam pengembangannya, BTID juga menerapkan konsep 6L, yakni Living, Learning, Leisure, Landscape, Lifestyle, dan Longevity.

Konsep tersebut menjadi landasan dalam membangun ekosistem kawasan yang mencakup hunian, pendidikan dan riset, rekreasi, pelestarian lingkungan, gaya hidup, hingga kesehatan dan kebugaran.

Komitmen terhadap aspek lingkungan juga diwujudkan melalui penghijauan kawasan. BTID menyebut telah menanam lebih dari 700 ribu pohon untuk menghijaukan kawasan yang sebelumnya didominasi lahan kering.

Dengan investasi yang terus berkembang dan dukungan ekosistem pariwisata terintegrasi, KEK Kura Kura Bali diproyeksikan menjadi kawasan yang memadukan investasi, pariwisata berkualitas, industri kreatif, serta pembangunan berkelanjutan.

Ke depan, kawasan tersebut juga diarahkan untuk berkembang menjadi salah satu pusat keuangan internasional atau Indonesia Financial Center. (red/riza)

Berita Terpopular

Scroll to Top