DENPASAR | Dunia News Bali – Memasuki usia ke-67 tahun, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PEPABRI Provinsi Bali menegaskan komitmen purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara.
Pesan tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 PEPABRI yang berlangsung di Gedung Ksiranawa, Art Centre Denpasar, Kamis (17/9/2026).
Ketua DPD PEPABRI Bali, Brigjen TNI (Purn) Ketut Budiastawa, S.Sos., M.Si., mengatakan peringatan tahun ini mengangkat tema “Menguatkan Api Perjuangan dan Persatuan Bangsa”.

Menurut Budiastawa, tema tersebut merefleksikan semangat PEPABRI untuk terus menjaga nilai perjuangan dan persatuan bangsa. Masa purna tugas, kata dia, bukan berarti berakhirnya pengabdian kepada masyarakat maupun negara.
“67 tahun rentang waktu yang cukup lama, namun tidak cukup panjang untuk sebuah pengabdian yang berkesinambungan kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” ujar Budiastawa.
Ia menegaskan, purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan nilai-nilai perjuangan serta memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Bagi PEPABRI, puncak HUT ke-67 tidak hanya menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan mengenang jasa para pejuang dan pendahulu bangsa.
“PEPABRI sebagai wadah purnawirawan TNI dan Polri merupakan penjaga nilai-nilai perjuangan, pengawal semangat kebangsaan, dan pelindung warisan kemerdekaan,” katanya.
Budiastawa menjelaskan, rangkaian peringatan HUT ke-67 PEPABRI sebelumnya telah diawali di Surabaya. Pada 12 September 2026, kegiatan tingkat pusat digelar melalui ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sepuluh November Surabaya.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan syukuran di Tugu Pahlawan Sepuluh November Surabaya. Kegiatan tingkat pusat itu dihadiri langsung Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PEPABRI, Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi kegiatan tingkat pusat disebut memiliki nilai historis. Kota tersebut dikenal sebagai Kota Pahlawan sekaligus menjadi salah satu saksi perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 10 November 1945.
Sementara di Bali, DPD PEPABRI melaksanakan sejumlah kegiatan sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-67. Salah satunya ziarah dan tabur bunga di TMP Pancaka Tirta, Jalan Rama Nomor 22, Delod Peken, Tabanan, pada Selasa (8/9/2026).
“Ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, sekaligus meneguhkan kembali tekad pengabdian kepada bangsa dan negara. Semangat perjuangan tidak boleh padam, tanggung jawab menjaga keutuhan NKRI tetap melekat di dada setiap anak bangsa, terutama bagi purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri,” tegas Budiastawa.
PEPABRI Bali juga mengisi rangkaian HUT dengan kegiatan sosial melalui anjangsana kepada sejumlah tokoh serta panti sosial.
Rombongan PEPABRI Bali mengunjungi kediaman mantan Gubernur Bali dua periode yang juga anggota DPD RI Dapil Bali, Irjen Pol (Purn) Dr. Made Mangku Pastika.
Anjangsana berikutnya dilakukan ke kediaman Ibu Dewa Oka, istri mantan Wakil Gubernur Bali almarhum Dewa Oka. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Dewa Oka menyampaikan rasa haru karena untuk pertama kalinya mendapat kunjungan dari keluarga besar PEPABRI.
Kunjungan juga dilakukan ke kediaman H. Sunhaji, mantan Kabintal sekaligus anggota DPRD Mataram yang dalam beberapa tahun terakhir berjuang melawan stroke.
Kepedulian sosial PEPABRI Bali turut diwujudkan melalui kunjungan ke Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya di Jalan Gemitir Nomor 66, Denpasar.
Sementara itu, sambutan Gubernur Bali Wayan Koster yang diwakili Staf Ahli I Made Rentin menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan PEPABRI yang hingga kini tetap mempertahankan semangat perjuangan setelah 67 tahun berdiri.
Menurut Rentin, perubahan zaman tidak menghilangkan peran PEPABRI sebagai wadah bagi purnawirawan untuk meneruskan pengabdian dalam bentuk yang berbeda.
“PEPABRI adalah rumah bagi mereka yang menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada negara. Para purnawirawan yang pernah berjaga di garis depan mempertaruhkan nyawa demi kedaulatan, bahkan di usia senja mereka tetap memilih untuk berkarya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi Warakawuri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pengabdian para prajurit.
“PEPABRI juga rumah bagi Warakawuri, istri para prajurit yang selalu setia mendampingi, turut menanggung beban pengabdian dan layak mendapatkan penghormatan yang sama besarnya dengan prajurit itu sendiri,” paparnya.
Rentin mengatakan keberadaan PEPABRI juga menjadi simbol perjuangan masa lalu yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sejatinya, kekuatan PEPABRI berasal dari kedalaman pengalaman, keteguhan nilai yang mereka wariskan,” katanya.
Ia menambahkan, perjalanan 67 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi. Berbagai perubahan rezim, kebijakan negara, hingga kompleksitas tantangan zaman disebut tidak membuat PEPABRI kehilangan relevansinya.
Dalam sambutannya, Rentin juga mengungkapkan tantangan kebangsaan yang berkembang saat ini. Jika pada masa lalu ancaman terhadap bangsa antara lain hadir dalam bentuk penjajahan fisik dan pemberontakan bersenjata, kini tantangan dapat muncul melalui polarisasi sosial, disinformasi, serta lunturnya rasa persatuan di tengah masyarakat.
“Api perjuangan berarti mempertahankan nilai-nilai kebangsaan di tengah gempuran arus yang berusaha memecah belah kita,” tandasnya.
Puncak peringatan HUT ke-67 PEPABRI di Gedung Ksiranawa Art Centre Denpasar berlangsung lancar dan khidmat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Mayjen TNI (Purn) Alfred Bhakti Rante Tandung, Brigjen TNI (Purn) A. Agung Gde Suardhana, S.IP., M.Sc. selaku Ketua DPD PPAD Bali, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), perwakilan Pangdam, perwakilan Danrem, Danlanud, Danlanal, Kepolisian, Kajati, Kajari, PPL, serta MDA Bali.
Peringatan HUT ke-67 tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa ruang pengabdian bagi purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri tetap terbuka, terutama melalui kontribusi sosial dan kebangsaan di tengah masyarakat. (dnb13)