JAKARTA | Dunia News Bali – Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mendorong keterlibatan jurnalis nasional maupun daerah dalam mengawal percepatan pengembangan energi surya di Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Media Training bertajuk “Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional” yang digelar secara hybrid pada Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi insan pers bersama sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari PT PLN (Persero), pelaku industri energi surya, hingga lembaga kajian kebijakan iklim. Pembahasan mencakup berbagai aspek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mulai dari teknologi dan perencanaan proyek, perkembangan industri, hingga mekanisme pembiayaan.
Pelatihan tersebut berlangsung di tengah pelaksanaan Program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026. Program ini menargetkan pembangunan dalam kurun waktu tiga tahun.
Di sisi lain, kapasitas terpasang PLTS nasional hingga pertengahan 2026 baru mencapai sekitar 1,5 gigawatt (GW). Kondisi ini memperlihatkan besarnya tantangan sekaligus peluang yang harus dikerjakan bersama untuk merealisasikan target tersebut.
Percepatan pembangunan PLTS tidak hanya membutuhkan kesiapan regulasi, industri, dan sistem kelistrikan, tetapi juga dukungan informasi yang akurat serta mudah dipahami masyarakat. Peran media dinilai penting, terutama dalam menjelaskan perkembangan proyek dan manfaat energi surya bagi masyarakat di berbagai daerah.
Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menegaskan bahwa target 100 GWp harus diterjemahkan menjadi langkah konkret melalui kolaborasi pemerintah, industri, masyarakat, dan media.
“Bagi AESI, 100 GWp adalah ambisi sekaligus mandat kerja. Agar ambisi ini menjadi aksi, pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya. Di sinilah rekan-rekan media memegang peran kunci. Kami ingin pemberitaan energi surya menghadirkan cerita yang lebih utuh dari angka target, yaitu manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari listrik yang lebih andal, terbukanya lapangan kerja hijau, hingga tumbuhnya ekonomi lokal,” ujar Mada.
Dalam sesi diskusi, AESI menghadirkan tiga narasumber yang membahas pengembangan PLTS dari perspektif teknis, industri, dan pendanaan.
Dari aspek ketenagalistrikan, Joko Purnomo selaku Manager Pengendalian Aneka Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero) menjelaskan posisi PLTS sebagai salah satu sumber utama penambahan pembangkit energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Ia juga menguraikan karakteristik berbagai jenis instalasi PLTS, seperti PLTS atap, ground-mounted, dan PLTS terapung. Penerapannya mencakup sektor utilitas, komersial dan industri, hingga rumah tangga.
Selain itu, dibahas pula skema Independent Power Producer (IPP), yang memberikan kesempatan kepada pengembang swasta untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya dan menjual energi listrik yang dihasilkan kepada PLN.
Menurut Joko, pembangunan proyek PLTS merupakan proses yang melibatkan berbagai tahapan serta banyak pihak. Karena itu, dukungan dan pemahaman publik menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program tersebut.
“Keberhasilan program kelistrikan sangat memerlukan dukungan publik. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap dapat membangun pemahaman dan sinergi bersama dalam rangka mendukung pengembangan PLTS di Indonesia agar dapat terus tumbuh guna meningkatkan ketahanan energi listrik bagi masyarakat,” jelas Joko.
Sementara itu, dari perspektif industri, Zidny Ilman, AVP of Public Policy & Government Relations Suryanesia sekaligus Pengurus AESI, memaparkan perkembangan industri energi surya nasional beserta berbagai tantangan yang dihadapi pengembang dalam merealisasikan proyek di lapangan.
Ia menekankan bahwa pengembangan PLTS tidak dapat dilihat hanya dari sisi pembangunan pembangkit, melainkan harus didukung ekosistem industri yang saling terhubung.
“Kami percaya kunci dari keberhasilan Program 100 GWp adalah memastikan terciptanya ekosistem industri surya yang sehat. Bagaimana memastikan kerangka regulasi yang dapat diterima dan dijalankan oleh seluruh ekosistem – baik PLN, investor, lender, developer, EPC, dan manufaktur – menjadi langkah pertama yang krusial bagi Program tersebut,” ungkap Zidny.
Pembahasan berikutnya menyentuh aspek pembiayaan. Tiza Mafira, Director Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, lembaga riset yang menginisiasi Power Sector Finance Dashboard, memaparkan perkembangan peta pendanaan proyek PLTS di Indonesia.
Materi yang disampaikan mencakup peluang akses terhadap pendanaan hijau global serta sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangan perbankan dan investor dalam menilai kelayakan pembiayaan atau bankability suatu proyek.
Tiza menilai, kepastian regulasi memang menjadi faktor penting bagi investor. Namun, pemahaman masyarakat terhadap peluang pengembangan energi surya juga turut memengaruhi kepercayaan pasar.
“Investor membutuhkan kepastian pasar, dan salah satu sumber kepastian itu adalah terlihatnya opsi proyek PLTS beragam serta antusiasme masyarakat yang mulai terlihat di berbagai media. Liputan tentang penghematan biaya listrik, mudahnya pemasangan PLTS, semua ikut mengurangi keraguan pasar. Ini semua menjadi jembatan agar investasi hijau tertarik masuk ke Indonesia,” paparnya.
Tidak hanya menyasar media nasional, AESI juga berupaya memperluas kemitraan dengan jurnalis di berbagai daerah.
Melalui kehadirannya di Balikpapan, Bali, Medan, dan Surabaya, AESI berharap dapat membangun kolaborasi lebih erat dengan media lokal untuk mengangkat praktik baik pemanfaatan PLTS.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya membahas kebijakan dan target nasional, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kondisi serta manfaat pengembangan energi surya berdasarkan konteks daerah masing-masing.
Sebagai bagian dari upaya mendorong jurnalisme yang lebih mendalam, AESI turut menyelenggarakan Journalist Writing Competition khusus bagi peserta Media Training.
Kompetisi tersebut menyediakan total hadiah sebesar Rp17.750.000. Peserta dapat memilih satu dari tiga tema utama, yakni pelaksanaan teknis dan integrasi Battery Energy Storage System (BESS), kebijakan dan regulasi, serta pembiayaan dan kelayakan proyek PLTS.
Karya yang dilombakan berupa artikel mendalam yang diterbitkan melalui media cetak maupun daring. Pengiriman karya dibuka mulai 6 November hingga 6 Desember 2026 melalui alamat surat elektronik comms@aesi.or.id dan energi.eits@gmail.com.
Melalui rangkaian kegiatan ini, AESI berharap media dapat mengambil peran lebih besar dalam mengawal perkembangan energi surya nasional, sekaligus memperkuat pemahaman publik mengenai pentingnya transisi menuju energi bersih.
Tentang AESI
Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) merupakan organisasi yang berdiri pada 15 Desember 2016 di Jakarta. Organisasi ini dibentuk untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia dengan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam satu wadah kolaborasi.
AESI memiliki peran dalam mengawal kebijakan, mengembangkan proyek dan sumber daya manusia di bidang energi surya, serta meningkatkan kontribusi energi surya dalam bauran energi nasional.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung transisi energi terbarukan, pencapaian target Net Zero Emission 2060, serta mewujudkan sistem energi nasional yang mandiri dan inklusif.
Editor: Dnb13