23 Karya Seni Handy Saputra Hadir di Santrian Art Gallery Sanur

DENPASAR | Dunia News Bali – Perjalanan dari dunia usaha menuju ruang seni membawa Handy Saputra pada eksplorasi gagasan tentang manusia dan kehidupan. Melalui 23 karya seni kontemporer, ia menghadirkan beragam refleksi mengenai realitas sosial, persoalan filosofis, politik, hingga dinamika psikologis manusia dalam pameran tunggal bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo.

Pameran tersebut resmi dibuka pada Jumat malam (6/11/2026) di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan Nomor 47, Sanur, Denpasar. Pembukaan dilakukan oleh pengamat seni Muhammad Bundhowi sekitar pukul 18.00 Wita. Pameran ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir Desember 2026.

Bagi Handy, ke-23 karya yang ditampilkan bukan sekadar hasil eksplorasi artistik, melainkan medium untuk menyampaikan sudut pandangnya terhadap berbagai peristiwa di sekitar kehidupan manusia. Ia mengajak pengunjung melihat seni lebih jauh, tidak hanya melalui bentuk dan warna, tetapi juga melalui pesan serta pengalaman yang terkandung di dalamnya.

Dalam pengantar kuratorialnya, Muhammad Bundhowi mengangkat tema Cengkerama Sang Bulan dengan Lingkaran Cahayanya. Bulan dan halo atau lingkaran cahaya yang mengelilinginya menjadi metafora utama untuk membaca keseluruhan karya Handy.

Baca juga:  Gen Z Nak Bali Warisi Spirit Bung Karno Gelorakan Anti Hoax dan Opini Negatif

Keduanya digambarkan sebagai unsur yang saling melengkapi. Bulan dan lingkaran cahayanya menghadirkan simbol penerangan sekaligus ruang pemaknaan terhadap berbagai peristiwa kemanusiaan yang dituangkan melalui lukisan maupun karya patung.

Melalui pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya ditempatkan sebagai penikmat visual. Mereka juga diajak membangun interpretasi sendiri, membaca pesan di balik setiap karya, serta menemukan hubungan antara karya seni dengan realitas kehidupan.

Handy mengungkapkan, proses kreatifnya tidak selalu dimulai dari sebuah konsep yang tersusun secara sistematis. Ia lebih banyak merespons apa yang dilihat dan dirasakan, kemudian menuangkannya secara spontan ke dalam karya.

“Saya tidak punya suatu konsep yang jelas, apa yang saya dapatkan atau apa yang terlihat, ya saya langsung gambarkan,” ujar Handy saat ditemui di Sanur, Jumat (6/11/2026).

Ketertarikan Handy terhadap seni lukis ternyata telah tumbuh sejak dirinya duduk di bangku SMA. Meski menjalani profesi sebagai pengusaha di bidang logistik, kecintaannya terhadap dunia seni tetap terpelihara.

Perjalanan tersebut semakin berkembang setelah ia berinteraksi dengan sejumlah seniman. Dari pertemuan dan diskusi bersama mereka, Handy memperoleh dorongan untuk memperdalam kemampuan melukis.

Baca juga:  Viral Video Asusila di Kuta Utara, WN Australia Dicegat di Bandara Ngurah Rai

“Saya pengusaha logistik dan hobi melukis itu sejak SMA. Saya bertemu dengan teman-teman seniman dan ngobrol dengan mereka. Mereka menyarankan saya untuk belajar melukis,” tuturnya.

Sejak saat itu, ia terus mengembangkan kemampuan dan eksplorasi artistiknya hingga akhirnya kembali menggelar pameran tunggal, yang kini menjadi penyelenggaraan ketiganya.

Sejumlah karya yang dipamerkan juga memiliki keterkaitan dengan pengalaman personal sang seniman. Salah satunya adalah lukisan berjudul Match Making in China, yang terinspirasi dari perjalanan Handy ke Tiongkok.

Selain karya dua dimensi, ia turut menghadirkan karya patung berbahan porselen dengan judul The Weigh of the Bird dan The Vigil of Crimson Spirit.

Karakter artistik Handy juga tercermin dari pilihannya menekuni jalur seni kontemporer, khususnya art brut atau seni mentah serta outsider art, yakni pendekatan seni yang berkembang di luar arus utama dunia seni. Untuk memperluas kemampuan dan memperkaya teknik berkarya, Handy turut melakukan eksperimen seni grafis melalui Devfto Printmaking Studio di Ubud.

Pameran di Santrian Art Gallery ini menjadi perjalanan pameran tunggal ketiga bagi Handy Saputra. Sebelumnya, ia pernah menggelar The Audacity of Silent Brush di Rumah Sanur pada 2020, kemudian The Dragonfly’s Ripples di Sika Gallery, Ubud, pada 2025.

Baca juga:  Penyu Hijau Hasil Penyelamatan Dilepasliarkan di KEK Kura Kura Bali

Melalui The Dialogue Between The Moon and Its Halo, Handy kembali membuka ruang perjumpaan antara seni, pengalaman personal, dan refleksi kehidupan. Pameran ini sekaligus menjadi undangan bagi masyarakat Bali maupun pengunjung Sanur untuk menikmati karya, memahami beragam perspektif, serta merenungkan kembali makna kemanusiaan melalui bahasa seni.

Editor: Dnb13

Berita Terpopular

Scroll to Top