DENPASAR | dunianewsbali – Pembangunan Bandara Bali Utara diyakini menjadi pemicu utama lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus solusi konkret untuk mengatasi ketimpangan wilayah dengan Bali Selatan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Gde Sumarjaya Linggih (Demer), saat diwawancarai awak media di Denpasar pada Jumat (22/5/2026).
Potensi Investasi Masif Pasca-Groundbreaking Bandara
Menurut legislator senior tersebut, kekuatan pariwisata global yang dimiliki Pulau Dewata akan langsung menarik minat investor begitu proyek infrastruktur ini dimulai. Ia bahkan optimis dampak ekonomi akan terlihat dalam waktu singkat.

“Kalau airport di Bali Utara mulai dibangun, saya berani taruhan enam bulan setelah dimulai pasti minimal ada lima hotel bintang yang groundbreaking,” ujar Demer optimistis.
Ia menambahkan bahwa proyek ini tidak sekadar membangun konektivitas fisik, melainkan menciptakan ekosistem ekonomi mandiri yang berkelanjutan di wilayah utara, timur, dan barat Bali.
Menggali Potensi Wisata yang Belum Tergarap Maksimal
Selama ini, aksesibilitas yang terbatas membuat banyak destinasi premium di luar Bali Selatan kurang mendapat sorotan optimal. Keberadaan bandara baru akan memangkas jarak tempuh menuju sejumlah kawasan unggulan.
Beberapa wilayah potensial yang akan terdampak langsung meliputi:
- Akses Lebih Dekat: Destinasi alam seperti Kintamani, Bedugul, Tulamben, dan jaringan air terjun eksotis.
- Daya Tarik Pantai: Kawasan pantai berpasir putih yang membentang di wilayah utara dan timur Bali.
- Panorama Laut (Sea View): Sepanjang pesisir utara yang sangat potensial untuk pengembangan destinasi wisata internasional.
Alternatif Pintu Masuk Wisatawan Internasional
Lebih lanjut, Demer menjelaskan bahwa kehadiran bandara internasional baru ini tidak bertujuan untuk memindahkan kemakmuran, melainkan memperluas pilihan bagi para pelancong.
“Yang kita harapkan bukan perpindahan dari selatan ke utara, tetapi wisatawan luar negeri punya pilihan langsung masuk ke Bali Utara,” pungkasnya.
Langkah strategis ini diharapkan mampu memecah kepadatan wisatawan di Bali Selatan sekaligus mengalirkan roda perekonomian secara lebih adil dan merata ke seluruh pelosok Bali. (Brv)



