​Gabungkan Boxing dan Kickboxing, Cabor Savate Resmi Mengakar di Tabanan

Photo kolase: Ketua KONI Tabanan, I Made Nurbawa, Ketua Pengkab Savate Tabanan, Romanica Anggela Intanisari dan atlet Savate yang berlaga (gambar AI)

TABANAN | dunianewsbali – Peta kekuatan olahraga bela diri di Kabupaten Tabanan dipastikan semakin kaya. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tabanan resmi menerima audiensi perdana dari jajaran Pengurus Kabupaten (Pengkab) Federasi Savate Tabanan pada Selasa (19/5/2026). Kehadiran seni bela diri khas asal Prancis ini disambut sebagai potensi baru untuk mendongkrak prestasi olahraga Tabanan di kancah dunia.

​Pertemuan yang berlangsung di Kantor KONI Tabanan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua KONI Tabanan I Made Nurbawa, beserta jajaran Sekjen dan Bendahara. Sementara dari pihak Savate, hadir Ketua Pengkab Savate Tabanan, Romanica Anggela Intanisari, didampingi jajaran pengurus Humas, Ngurah Wesnawa, dan Bendahara Yuni.

Ketua Pengkab Savate Tabanan, Romanica Anggela Intanisari, berjabat tangan dengan Ketua KONI Tabanan, I Made Nurbawa didampingi para pengurus masing-masing.

Ketua KONI Tabanan, I Made Nurbawa, menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka dengan kehadiran wadah olahraga baru ini, sejauh seluruh administrasinya patuh pada koridor hukum keolahragaan di NKRI.

Namun, Nurbawa menekankan pentingnya sebuah “perikatan komitmen” sejak awal bagi cabor rintisan.

​”Kami merekomendasikan pentingnya ada perikatan, komitmen pengembangan olahraga prestasi antara cabang organisasi olahraga dengan KONI. Perikatan ini agar kita punya hak untuk saling mendukung dan saling mengingatkan. Karena Savate ini baru, kami harus menyampaikan itu sebagai awal komitmen,” tegas I Made Nurbawa.

Baca juga:  Orca Billiards Bali Hadirkan Nuansa Biliar Berkualitas Dan Ramah Keluarga

​Nurbawa menambahkan, tolok ukur utama dari dukungan KONI nantinya tetap berbasis pada prestasi nyata.

Ketua KONI Tabanan, I Made Nurbawa

​”Tabanan ini salah satu kabupaten basis cabor bela diri. Karena Savate belum sepopuler pencak silat atau karate, kita lihat peluang nasional dan internasionalnya. Kalau mampu melahirkan atlet berprestasi tingkat dunia, tentu ini sebuah kebanggaan. Ukuran utamanya adalah prestasi,” imbuhnya.

​Strategi Memasyarakatkan Savate di Tabanan

​Merespons tantangan prestasi tersebut, Ketua Umum Pengkab Savate Tabanan, Romanica Anggela Intanisari, memaparkan strategi taktisnya untuk memasyarakatkan olahraga yang masih awam di mata publik Tabanan ini. Langkah awal yang dikejar dalam 1 hingga 2 bulan ke depan adalah melakukan uji praktik langsung dan demonstrasi latihan bersama.

​”Langkah awal yang akan kami lakukan adalah mensosialisasikan dengan berlatih bersama dengan beberapa atlet yang sudah kami bina saat ini, mulai dari tingkat junior untuk SD hingga tingkat menengah ke atas,” jelas Anggela.

Ketua Pengkab Savate Tabanan, Romanica Anggela Intanisari

Untuk mendukung penetrasi massa, Pengkab Savate Tabanan bergerak cepat dengan membuka camp atau pusat pelatihan resmi yang berlokasi strategis di area Sanggulan, tepat di seberang GOR Dewara, Tabanan.

Baca juga:  Akhir Tahun Meledak! UKT Taekwondo Denpasar Hadirkan Peserta Terbanyak

​”Kami sudah membuka pelatihan di area Sanggulan, seberang GOR. Kami membuka latihan dari Senin sampai Minggu dengan beberapa pilihan kelas.
Jika ada rekan-rekan atau orang tua murid yang ingin ikut berlatih bersama, silakan kontak sekretariat kami. Selain itu, kami juga akan gencar bersosialisasi lewat media sosial agar lebih cepat dikenal,” kata Anggela.

​Keunikan Savate: Bela Diri Menggunakan Sepatu

​Bagi masyarakat yang belum familier, Anggela menjelaskan bahwa Savate merupakan olahraga adopsi yang memiliki keunikan transisi yang menarik bagi pencinta olahraga kontak fisik. Seni bela diri yang lahir di Prancis pada akhir abad ke-18 menjelang abad ke-19 ini menggabungkan dua unsur bela diri populer.

​”Savate adalah kompilasi antara boxing dan kickboxing. Perbedaan mendasarnya dengan kickboxing konvensional adalah karena Savate memakai sepatu khusus. Olahraga ini ada seni bela dirinya, namun porsinya akan jauh lebih banyak di teknik tendangan,” papar Anggela.

​Melalui momentum audiensi bersama KONI Tabanan, Anggela secara terbuka mengundang masyarakat umum, khususnya anak muda Tabanan yang menyukai olahraga tantangan, untuk ikut ambil bagian membesarkan cabor ini dari nol.

Baca juga:  PORPI ke-43, Merawat Keseimbangan Antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit

​”Kami ingin membangun dan berada di tengah masyarakat Tabanan melalui cabang kombinasi boxing dan kickboxing ini. Kadang ada yang suka boxing tapi ingin coba kickboxing, begitu pula sebaliknya. Nah, kami di sini adalah persambungannya. Kami sangat terbuka untuk bersama-sama latihan dan berkembang bersama,” pungkas Anggela. (Brv)

Berita Terpopular

Scroll to Top