Indeks Penjualan Ritel Bali Capai 123,8, Momentum HBKN Dorong Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global

IMG-20260420-WA0055
IPR Bali Maret 2026 naik ke level 123,8 dari 123,2 pada Februari, mencerminkan menguatnya konsumsi masyarakat di tengah momentum HBKN. (Bank Indonesia Bali)

DENPASAR | Dunia News Bali – Kinerja penjualan ritel di Provinsi Bali pada Maret 2026 menunjukkan tren positif dan tetap tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Ritel (IPR) Bali yang tercatat sebesar 123,8 atau meningkat 5,1 persen secara tahunan (yoy), sekaligus berada di zona optimis di atas level 100.

Secara bulanan, IPR Bali juga mengalami kenaikan sebesar 0,5 persen (mtm). Peningkatan ini sejalan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Nyepi dan Idulfitri, yang mendorong konsumsi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan, makanan, dan minuman.

Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan terhadap 100 pelaku usaha ritel di Kota Denpasar dan sekitarnya menunjukkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh sejumlah kelompok barang. Enam dari sepuluh kategori pembentuk IPR mengalami peningkatan, dengan pertumbuhan tertinggi pada kelompok barang lainnya seperti farmasi, kosmetik, dan keperluan rumah tangga yang naik 2,4 persen (mtm).

Selain itu, penjualan bahan bakar kendaraan bermotor serta peralatan informasi dan komunikasi masing-masing tumbuh 1,5 persen. Sandang meningkat 1,2 persen, disusul kelompok barang budaya dan rekreasi serta perlengkapan seperti kertas, alat tulis, dan olahraga yang juga naik 1,2 persen. Sementara itu, makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 0,8 persen.

Baca juga:  Janji Tanggung Jawab Berujung Kabur, Warga Denpasar Tewas Usai Kecelakaan di Jalur Gumitir

Dari sisi harga, tekanan inflasi masih terkendali. Inflasi tahunan Bali pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,81 persen (yoy), masih berada dalam kisaran target nasional 2,5±1 persen. Sementara itu, pertumbuhan kredit pada sektor perdagangan hingga Februari 2026 tercatat meningkat 1,46 persen (yoy), mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap terjaga.

Optimisme pelaku usaha terhadap kinerja penjualan ke depan juga terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). Untuk April 2026, IEP tercatat sebesar 170, dan meningkat menjadi 174 pada Mei 2026. Dalam jangka menengah, pelaku usaha memperkirakan penjualan akan terus meningkat hingga Agustus 2026 dengan IEP mencapai 194, lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 184. Seluruhnya masih berada pada level optimis.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada Maret 2026. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan subsidi BBM guna mendukung daya beli masyarakat. Di sisi lain, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali terus memperkuat langkah pengendalian harga melalui operasi pasar komoditas strategis.

Baca juga:  Dua Jenis Kunang-kunang Ditemukan, Konservasi Kebun Raya Bali Berjalan Efektif

Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID di tingkat provinsi dan kabupaten/kota akan terus bersinergi menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan. (red)

Berita Terpopular