BADUNG | Dunia News Bali – Meningkatnya aktivitas kapal pesiar di Pelabuhan Benoa dinilai menjadi peluang strategis untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir, khususnya di kawasan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Wakil Ketua II DPRD Badung, I Made Wijaya, S.E., yang akrab disapa Yonda, mendorong agar keberadaan Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan bertaraf internasional mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Salah satu peluang yang dinilai potensial adalah pengembangan layanan wisata dan ekonomi yang menyasar kru kapal pesiar.
Made Wijaya, yang juga menjabat sebagai Bendesa Adat Tanjung Benoa, mengatakan hubungan antara Desa Adat Tanjung Benoa dengan PT Pelindo selama ini berjalan harmonis. Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya diwujudkan melalui dukungan terhadap pengembangan ekonomi masyarakat, tetapi juga berbagai kegiatan sosial.
Ia menyebut Pelindo secara rutin menyalurkan bantuan kepada masyarakat lintas agama di Tanjung Benoa menjelang hari-hari besar keagamaan. Bantuan tersebut diberikan kepada umat Hindu, Islam, Kristen, hingga Buddha sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Selain itu, dukungan kepada pelaku UMKM di kawasan Pantai Barat Tanjung Benoa dinilai telah memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
“Pelindo selama ini cukup memperhatikan masyarakat Tanjung Benoa, baik melalui bantuan sosial maupun dukungan terhadap UMKM,” ujar Made Wijaya saat ditemui awak media di Tanjung Benoa, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, saat ini terdapat lima kelompok UMKM yang tersebar di empat banjar adat dan satu desa adat. Keberadaan sentra UMKM tersebut telah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pada malam hari.
Kawasan Pantai Barat juga semakin berkembang dengan hadirnya berbagai fasilitas penunjang, seperti jembatan penghubung dan Water Taxi yang menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
“Anak-anak muda sekarang senang berkumpul di Pantai Barat. Di sana sudah ada jembatan dan terakhir juga tersedia Water Taxi,” katanya.
Meski belum beroperasi secara optimal, Water Taxi telah dimanfaatkan untuk mengantar wisatawan menikmati wisata mangrove sekaligus panorama Pelabuhan Benoa dari jalur laut.
Menurut Made Wijaya, peluang terbesar justru berasal dari kru kapal pesiar yang singgah di Pelabuhan Benoa. Ia menilai, para awak kapal memiliki potensi ekonomi yang besar karena membutuhkan tempat untuk beristirahat dan menikmati suasana daratan setelah berlayar dalam waktu yang lama.
Ia menegaskan, masyarakat tidak harus berfokus pada wisatawan kapal pesiar sebagai target utama. Kehadiran kru kapal pesiar saja sudah mampu menciptakan peluang usaha baru apabila dikelola dengan baik oleh masyarakat lokal.
“Kita tidak harus mengejar tamunya. Kru kapal pesiar saja sudah menjadi potensi yang sangat baik untuk kita kelola. Yang penting masyarakat bisa ikut merasakan manfaat dari keberadaan Pelabuhan Benoa,” ujarnya.
Ia menambahkan, jarak Pelabuhan Benoa menuju Tanjung Benoa yang sangat dekat menjadi keuntungan tersendiri. Karena itu, Water Taxi yang telah disiapkan dapat dimanfaatkan sebagai moda transportasi air yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan wisata Tanjung Benoa.
Menurutnya, langkah tersebut akan membuka peluang baru bagi pelaku UMKM, restoran, penyedia jasa wisata bahari hingga pengrajin lokal.
Made Wijaya berharap pemerintah, Pelindo, dan seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi agar masyarakat Tanjung Benoa memperoleh ruang lebih besar dalam perkembangan Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan berkelas dunia.
“Semoga aspirasi ini dapat menjadi perhatian semua pihak yang memiliki kewenangan sehingga masyarakat lokal benar-benar mendapatkan manfaat dari berkembangnya Pelabuhan Benoa. Kami juga mengapresiasi Pelindo yang selama ini telah memberikan perhatian kepada masyarakat Tanjung Benoa,” katanya.
Selain wisata bahari, Tanjung Benoa juga memiliki potensi kuliner seafood, pusat oleh-oleh, hingga kerajinan tradisional berbahan hasil laut yang telah menjadi identitas kawasan tersebut. Keberagaman masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis dan agama juga menjadi kekuatan dalam melahirkan produk-produk kreatif khas Tanjung Benoa.
Made Wijaya menilai seluruh potensi tersebut perlu dikemas secara terpadu sehingga menjadi daya tarik bagi kru kapal pesiar maupun wisatawan yang datang melalui Pelabuhan Benoa.
Menurutnya, kawasan Tanjung Benoa juga menawarkan berbagai aktivitas wisata bahari seperti parasailing, jetski, banana boat, dan beragam wahana air lainnya yang dapat menjadi alternatif rekreasi bagi kru kapal pesiar selama berada di Bali.
“Semua potensi ini perlu kita sinergikan agar menjadi tujuan bagi kru kapal pesiar maupun wisatawan. Dengan begitu, keberadaan Water Taxi dan Pelabuhan Benoa benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (red/riza)