Potensi Pesisir Banyuasri Didorong Jadi Destinasi Ekowisata Baru

IMG-20260502-WA0031

SINGARAJA | Dunia News Bali – Inisiatif pengembangan destinasi pariwisata berbasis pelestarian lingkungan di kawasan pesisir Desa Adat Banyuasri mulai mengemuka. Area yang meliputi Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari yang berkelanjutan.

Kawasan pesisir ini dikenal sebagai jalur perlintasan penyu hijau, sehingga dinilai strategis untuk pengembangan program konservasi tukik atau anak penyu. Pegiat konservasi, Adhy Simatupang, mengusulkan konsep pelestarian tukik yang dikelola langsung di bawah naungan desa adat sebagai bentuk kolaborasi berbasis komunitas.

Gagasan tersebut disampaikan dalam pertemuan awal bersama prajuru Desa Adat Banyuasri di Pantai Camplung, Sabtu (2/5/2026). Dalam pemaparannya, Adhy menyoroti besarnya potensi ekosistem laut di wilayah Kabupaten Buleleng, termasuk sebagai habitat alami penyu untuk bertelur.

Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi daya tarik wisata bahari. Menurutnya, ketergantungan pada satu ikon seperti wisata lumba-lumba berpotensi menurun, sehingga perlu dikembangkan alternatif wisata berbasis konservasi yang lebih berkelanjutan.

“Jika dikelola secara optimal, ini bukan sekadar pariwisata, tetapi juga upaya menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Baca juga:  DPRD Kabupaten Badung Ucapkan Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Sementara itu, tokoh adat Banyuasri, Made Agus Parthama, melihat potensi kawasan pesisir tidak hanya pada konservasi tukik, tetapi juga sebagai destinasi ekowisata bahari. Beragam aktivitas dapat dikembangkan, mulai dari wisata memancing, kano, berenang, hingga dolphin seeing.

Selain itu, potensi wisata religi di Pura Segara dan Pura Taman Alit, pengembangan kuliner lokal, hingga pembangunan jogging track dengan panorama pantai dan persawahan dinilai mampu memperkuat daya tarik kawasan.

Namun demikian, ia mengakui hingga saat ini belum terdapat sistem pengelolaan konservasi tukik yang terstruktur dan berbasis komunitas adat di wilayah tersebut. Padahal, Pantai Camplung dinilai memiliki peluang besar untuk dijadikan pusat pelestarian tukik.

Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Ia menilai program ini sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat adat.

“Saya mendukung selama tetap menjaga keseimbangan alam dan memberikan manfaat nyata bagi desa adat,” tegasnya.

Ia menambahkan, rencana ini akan dibahas lebih lanjut dalam paruman desa adat guna memperoleh persetujuan krama sebelum direalisasikan.

Baca juga:  Skandal Duo Rusia di Umalas: Properti, Tipu Muslihat, dan Rapuhnya Kedaulatan Hukum Bali

Dengan posisi strategis dalam jalur pengembangan pariwisata di Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri diharapkan dapat tumbuh sebagai destinasi baru yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis. (red)

 

Berita Terpopular