BADUNG | Dunia News Bali – Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Badung, I Wayan Puspa Negara, menegaskan bahwa penanganan abrasi di kawasan Pantai Kuta menjadi langkah mendesak guna memulihkan garis pantai, melindungi infrastruktur pesisir, serta menjaga daya tarik pariwisata Bali.
Menurutnya, abrasi yang terjadi di Pantai Kuta kini semakin mengkhawatirkan. Laju pengikisan pantai disebut mencapai sekitar dua meter per tahun dan berdampak pada penyusutan area pasir sepanjang kurang lebih 5,3 kilometer. Kondisi tersebut juga mengakibatkan kerusakan fasilitas pedestrian serta area pantai yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan.
“Penanganan abrasi di Pantai Kuta harus dipercepat karena kondisinya semakin serius. Selain dipengaruhi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, dampak global warming hingga perubahan sirkulasi gelombang juga ikut memperparah kondisi pantai,” ujar Puspa Negara saat dikonfirmasi awak media di Kabupaten Badung, Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah bersama sejumlah pihak terkait kini tengah melakukan penanganan intensif melalui pembangunan lima breakwater atau pemecah gelombang, pemasangan revetment, hingga penataan kawasan pesisir. Program tersebut turut didukung melalui Bali Beach Conservation Project (BBCP) Phase II yang dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida di bawah Kementerian Pekerjaan Umum.
Puspa Negara menilai pembangunan struktur konservasi pantai tersebut sangat penting untuk menahan energi ombak sekaligus mengurangi laju abrasi yang terus menggerus bibir pantai kawasan wisata Kuta, Legian, dan Seminyak atau yang dikenal sebagai kawasan Samigita.
Selain pembangunan breakwater, proyek penanganan abrasi juga mencakup penguatan area tebing di bawah pedestrian, penataan ulang kawasan pantai, hingga pengisian pasir atau sand nourishment sebagai upaya pemulihan garis pantai.
Pemerintah Kabupaten Badung sendiri disebut telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp250 miliar pada tahun 2026 guna mendukung pembangunan lima breakwater tambahan. Sementara itu, Pemerintah Pusat melalui APBN juga menggelontorkan anggaran sekitar Rp1,27 triliun untuk percepatan penanganan abrasi di kawasan Kuta-Legian-Seminyak, termasuk program pengisian pasir.
“Proyek ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pariwisata Bali. Penanganan abrasi Samigita ditargetkan rampung pada akhir 2026 melalui pembangunan struktur konservasi dan pengisian pasir di sejumlah titik terdampak,” jelasnya.
Ia menambahkan, proyek yang didanai melalui skema pinjaman Jepang tersebut diharapkan mampu menahan laju abrasi yang selama ini terus mengancam kawasan wisata unggulan di Bali selatan. (red)



