Rantai Pasok Babi Bali Dibenahi, Dewa Dharmadi Soroti Animal Welfare hingga Standar HORECA

DENPASAR | Dunia News Bali – Pemerintah Provinsi Bali mendorong pembenahan tata kelola rantai pasok babi secara menyeluruh, mulai dari tingkat peternak, pemeliharaan, transportasi, pemotongan, pengolahan hingga distribusi.

Langkah tersebut dinilai penting bukan hanya untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk daging babi, tetapi juga memastikan peternak tradisional serta desa adat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari mata rantai usaha tersebut.

Dorongan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) mengenai perbaikan tata kelola rantai pasok babi dengan mengintegrasikan prinsip One Health dan One Welfare.

Kasatpol PP Bali I Dewa Nyoman Rai Dharmadi mengatakan, FGD tersebut merupakan kegiatan kedua yang digelar karena hasil pembahasan sebelumnya dinilai belum cukup signifikan untuk dijadikan referensi dan bahan pertimbangan bagi Gubernur Bali maupun DPRD.

Menurutnya, pembenahan harus diarahkan agar produksi daging babi lokal dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat, khususnya peternak tradisional.

“Dorongan kuatnya adalah bagaimana dari tata kelola sampai kepada produksi daging babi ini bisa memberikan dampak langsung kepada masyarakat, terutama masyarakat tradisional yang beternak secara tradisional, tetapi dapat memperoleh manfaat langsung terhadap tingkat perekonomiannya,” ujar Rai Dharmadi.

Desa Adat Didorong Jadi Penggerak Ekonomi

Rai Dharmadi mengatakan, salah satu konsep yang didorong adalah memperkuat peran desa adat melalui badan usaha milik desa adat maupun unit usaha yang dapat menopang kemandirian ekonomi masyarakat adat.

Desa adat diharapkan dapat menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah potong hewan (RPH). Sementara pembangunan fasilitas tersebut dapat melibatkan perusahaan yang berkepentingan terhadap sertifikasi serta pemenuhan standar kualitas daging babi.

Dengan demikian, kebutuhan sektor pariwisata, khususnya hotel dan restoran, dapat dipenuhi melalui produk babi lokal yang memiliki kualitas dan spesifikasi sesuai tuntutan pasar.

“Di sana desa adat juga mendapat manfaat secara ekonomi. Desa adat harus menyiapkan sumber daya manusia, termasuk distribusi. Kemandirian desa adat yang kita harapkan itu ke depan bisa berkembang kepada produksi yang lebih besar sampai adanya pabrik yang berstandar internasional,” katanya.

Menurutnya, pola tersebut diharapkan mampu membangun mata rantai ekonomi dari peternak hingga industri sekaligus memberikan ruang bagi desa adat untuk memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Animal Welfare Jadi Bagian Penting

Dalam pembenahan tersebut, aspek kesejahteraan hewan atau animal welfare menjadi salah satu perhatian utama.

Rai Dharmadi menilai cara pemeliharaan, kondisi kandang, proses pemotongan hingga distribusi harus diperbaiki secara terpadu.

Baca juga:  Disel Astawa dan Komang Nova Tegas: Tak Boleh Ada Anak Bali Kehilangan Hak Pendidikan

Ia mencontohkan kualitas daging babi dapat dipengaruhi oleh bagaimana hewan dipelihara dan ditangani sebelum dipotong.

Menurutnya, perbedaan warna dan kualitas daging tidak terlepas dari pola pemeliharaan maupun proses penanganan hewan.

“Cara pemeliharaannya, kandangnya, termasuk juga memotong babi itu sendiri dan sampai kepada pendistribusian,” jelasnya.

Ia juga menyinggung proses pengolahan babi guling. Penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan hewan mengalami stres dan kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas daging.

FKH UGM: Peternak Sudah Baik, Tinggal Diperkuat

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D., menilai secara umum peternak babi di Bali telah menerapkan pola pemeliharaan yang cukup baik.

Namun, menurutnya, masih diperlukan penguatan pada aspek kesejahteraan hewan.

Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D

“Peternak itu secara umum sudah bagus, artinya sudah memenuhi kaidah pemeliharaan babi yang baik. Berarti memang perlu sedikit sentuhan kesejahteraan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip animal welfare antara lain memastikan ternak terbebas dari rasa lapar, sakit, takut dan stres serta mendapatkan lingkungan pemeliharaan yang layak.

Kondisi kandang harus bersih, sementara kebutuhan pakan harus tercukupi. Hal tersebut menjadi bagian dari prinsip Five Freedoms atau lima kebebasan dalam kesejahteraan hewan.

Menurut Agung, perhatian terhadap kesejahteraan hewan juga harus diterapkan oleh pelaku usaha dan pedagang, terutama dalam proses transportasi.

Sebab, perjalanan yang membuat hewan stres dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan kualitas daging.

“Kalau perjalanannya membuat stres, biasanya tidak nyaman. Kortisol naik, adrenalin naik. Akibatnya kualitas daging otomatis turun. Bahkan kalau tidak ditangani dengan baik, hewan bisa sakit dan mati,” jelasnya.

Animal Welfare Berpengaruh pada Produktivitas

Agung menegaskan, penerapan animal welfare tidak hanya berkaitan dengan aspek perlakuan terhadap hewan, tetapi juga berhubungan dengan produktivitas dan keuntungan peternak.

Babi yang dipelihara dengan baik berpotensi memiliki produktivitas lebih optimal. Sebaliknya, stres dapat memengaruhi tingkat kebuntingan dan jumlah anak yang dihasilkan.

Ia menyebut, babi dapat menghasilkan sekitar delapan hingga 14 anak dalam satu kelahiran dan dapat beranak dua hingga tiga kali dalam setahun, tergantung kondisi pemeliharaan.

“Kalau ditotal, sebenarnya peternak akan untung juga dengan cara itu,” katanya.

Selain produktivitas, kualitas daging yang lebih baik juga memiliki peluang meningkatkan nilai jual.

Baca juga:  Audensi Kajati Bali Sambut Hangat Rombongan Fakultas Hukum Mahasaraswati

Karena itu, ia mendorong agar citra produk babi yang dipelihara dengan standar kesejahteraan yang baik turut diperkuat sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Daging yang baik mestinya nilainya lebih tinggi. Mari image babi yang baik ini diangkat dulu supaya value-nya ikut naik,” ujarnya.

Budaya Bali Bisa Perkuat Kesadaran

Dalam konteks Bali, Agung juga menilai pendekatan budaya dan agama dapat menjadi kekuatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesejahteraan hewan.

Menurutnya, Bali memiliki budaya dan kehidupan keagamaan yang kuat. Nilai kasih sayang terhadap makhluk hidup dapat diterapkan dalam cara masyarakat memperlakukan ternak.

Ia berharap babi tidak semata-mata dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan juga sebagai makhluk hidup yang harus diperlakukan secara layak.

“Bagaimana kultur teman-teman Bali dan agama Hindu yang selalu mengedepankan kasih sayang itu diterapkan pada animal welfare,” katanya.

Bukan Sekadar Persoalan Sertifikasi

Sementara itu, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., menegaskan bahwa persoalan babi lokal Bali yang belum banyak terserap industri hotel dan restoran bukan semata-mata karena kualitasnya tidak mampu bersaing.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada kemampuan rantai pasok dalam memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan industri HORECA atau hotel, restaurant and cafe.

Dr.drh.IKetut Wirata, M.Sl.

Ia menjelaskan, salah satu standar penting adalah Nomor Kontrol Veteriner (NKV), yang harus diperhatikan mulai dari rumah potong, unit usaha pemotongan hingga rantai distribusi.

“Untuk komoditas babi dimulai dari rumah potong kemudian unit usaha pemotongan, termasuk juga rantai distribusinya. Di sana ada yang harus dijaga, rantai dingin kemudian temperatur storage juga yang harus dijaga,” jelas Wirata.

Menurutnya, penerapan good farming practice harus dimulai sejak tahap peternakan atau on farm. Setelah memasuki tahap pascapanen atau off farm, penerapan standar serta sertifikasi menjadi bagian penting untuk memastikan keamanan dan kualitas produk.

HORECA Butuh Potongan Daging Spesifik

Wirata menjelaskan, industri HORECA memiliki kebutuhan yang spesifik, termasuk jenis potongan daging tertentu atau premium cuts.

Ia mencontohkan kebutuhan seperti pork belly skin off yang membutuhkan keterampilan khusus dalam proses pemotongan dan penyiapan produk.

“Bukan tidak mampu bersaing dari segi kualitas, tetapi kita belum mampu menyediakan spesifikasi seperti apa yang mereka butuhkan,” tegasnya.

Karena itu, investasi menurutnya tidak cukup hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur.

Sumber daya manusia juga harus diperkuat, termasuk dengan membentuk tenaga terampil atau butcher yang mampu menghasilkan potongan daging sesuai standar dan permintaan industri perhotelan serta restoran.

Baca juga:  Bank BPD Bali Salurkan Kredit Subsidi Bunga untuk Industri Padat Karya

One Health dan One Welfare

Wirata juga menekankan pentingnya pendekatan One Health dan One Welfare dalam pembenahan rantai pasok babi.

Menurutnya, kesehatan hewan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan manusia dan kondisi lingkungan.

“Ternak yang dikelola dengan memperhatikan kesehatan hewan kemudian kesejahteraannya ternyata itu berdampak juga kepada kesehatan manusia dan wellbeing manusia, dan juga terhadap kesejahteraan lingkungan,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan ternak sehat, tetapi juga pangan yang aman, masyarakat yang sehat, lingkungan yang terjaga serta keberlanjutan sumber daya.

Pembenahan Dimulai dari Hulu

Rai Dharmadi mengatakan, pembenahan rantai pasok tidak boleh hanya berfokus pada persoalan di hilir, termasuk masalah limbah.

Menurutnya, perbaikan harus dimulai sejak hulu, sehingga persoalan yang muncul pada tahap akhir dapat diminimalkan.

Ia menegaskan, Satpol PP Bali tidak mengambil kewenangan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya, tetapi berperan sebagai penggerak agar berbagai pihak dapat duduk bersama mencari solusi.

“Satpol PP di sini bukan mengambil kewenangan OPD lain. Kami sebagai penggerak saja. Dari hulu dulu diperbaiki, baru ke hilir masalah limbah,” katanya.

FGD tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, pakar, perwakilan legislatif, kementerian, pemerintah kabupaten/kota, unsur kesehatan hewan, peternak hingga perusahaan pengolahan limbah.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang komprehensif sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan terkait tata kelola rantai pasok babi di Bali.

Jaga Kesehatan Ternak dan Ancaman ASF

Agung juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan ternak dari ancaman penyakit, termasuk African Swine Fever (ASF).

Ia berharap Bali dapat terus menjaga kondisi peternakan agar tidak terdampak penyakit yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi peternak.

Menurutnya, kesehatan ternak, kesejahteraan hewan, penerapan biosekuriti serta tata kelola rantai pasok harus berjalan secara bersamaan.

Dengan pembenahan dari hulu hingga hilir, rantai pasok babi Bali diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga memiliki kapasitas memasok kebutuhan industri pariwisata dengan standar kualitas yang semakin baik.

Pada akhirnya, peningkatan kualitas tersebut diharapkan memberikan manfaat berantai, mulai dari meningkatnya produktivitas dan pendapatan peternak, tumbuhnya kemandirian ekonomi desa adat, tersedianya produk berkualitas bagi industri HORECA hingga terjaganya kesehatan manusia dan lingkungan. (riza)

Berita Terpopular

Scroll to Top