DENPASAR | Dunia News Bali – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Bali memperingati puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat secara sederhana di Sekretariat DPD Partai Demokrat Bali, Denpasar, Rabu, 9 September 2026.
Peringatan seperempat abad Partai Demokrat tersebut dihadiri sejumlah tokoh senior, deklarator, dan pendiri Partai Demokrat di Bali. Di antaranya Dewa Gede Bagus Badra, Putu Suasta, Bagus Astawa Merta, Ngurah Wididana alias Pak Oles, Nengah Pringgo, Turah Santika, Made Karda, serta sejumlah tokoh lainnya yang dinilai telah memberikan kontribusi dalam perjalanan Partai Demokrat di Bali.
Sejumlah elemen organisasi juga hadir, mulai dari jajaran pengurus DPD Partai Demokrat Bali, Ketua PDRI Provinsi Bali, Ketua BMI Provinsi Bali, Ketua KNPD Provinsi Bali, keluarga besar PWRI Provinsi Bali, keluarga besar Laskar Merah Putih, Forum Peduli Bali Shanti, hingga kader dan simpatisan Partai Demokrat dari berbagai daerah di Bali.
Dalam sambutan yang disampaikan Bendahara DPD Partai Demokrat Bali, Dra. Utami Dwi Suryadi, mewakili Ketua DPD Partai Demokrat Bali I Made Mudarta, S.Sos., momentum HUT ke-25 menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali komitmen partai kepada masyarakat.
Utami juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Partai Demokrat sekaligus kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang pada tahun ini genap berusia 77 tahun.
Ia mendoakan agar SBY senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah bagi bangsa dan negara.
Menurut Utami, perjalanan 25 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sejak didirikan pada 2001 hingga memasuki usia seperempat abad pada 2026, Partai Demokrat telah melewati berbagai dinamika politik, sekaligus berupaya mempertahankan komitmennya terhadap demokrasi dan kepentingan rakyat.
Dengan mengusung tema “Demokrat Bersama Rakyat Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan, dan Menjaga Demokrasi”, ia menegaskan kembali bahwa Partai Demokrat dibangun dengan orientasi kepada rakyat.
“Kita akan selalu berada di tengah-tengah rakyat, baik dalam suka maupun duka, serta di dalam maupun di luar pemerintahan,” ujar Utami.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh kader yang selama 25 tahun tetap bertahan dan berjuang bersama partai, serta kepada masyarakat yang terus memberikan kepercayaan kepada Partai Demokrat.
Momentum HUT ke-25, lanjutnya, harus dijadikan sebagai energi baru untuk melakukan konsolidasi, melakukan pembenahan, sekaligus kembali merebut hati masyarakat.
“Mari kita jadikan momentum ulang tahun ke-25 ini sebagai pendorong konsolidasi untuk berbenah dan kembali memenangkan hati rakyat,” katanya.
Utami mengatakan, usia 25 tahun merupakan bagian dari perjalanan panjang yang diwarnai pasang surut, kemenangan maupun tantangan. Namun, semangat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dinilai harus tetap dipertahankan.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader Partai Demokrat untuk semakin aktif turun ke tengah masyarakat, mendengarkan aspirasi, serta menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Khusus kepada kader Demokrat di Bali, Utami meminta HUT ke-25 tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menjadi momentum untuk membangun semangat baru, menebarkan kebaikan, bekerja nyata, serta menjaga soliditas antarkader.
“Partai Demokrat! Jaya! Jaya! Jaya! AHY! Yes! Selamat Hari Ulang Tahun ke-25 Partai Demokrat. Dirgahayu Partai Demokrat! Teruslah bekerja, mengabdi, dan berjuang bersama rakyat,” tegasnya.
Dewa Badra: Ada Tiga Hal yang Harus Direnungkan
Sementara itu, Dewa Gede Bagus Badra, tokoh sesepuh, deklarator, sekaligus salah satu pendiri Partai Demokrat di Bali, mengajak seluruh kader menjadikan peringatan HUT ke-25 sebagai momentum untuk melihat kembali perjalanan partai.
Menurut Dewa Badra, terdapat tiga hal penting yang perlu direnungkan dalam setiap peringatan hari ulang tahun organisasi, yakni memahami sejarah kelahiran, memaknai pertambahan usia sebagai proses pendewasaan, serta melakukan refleksi terhadap perjalanan dan pelaksanaan visi-misi organisasi.
Pertama, kata dia, ulang tahun merupakan momentum untuk mengingat kembali hari lahir sebuah organisasi.
Ia menjelaskan, Partai Demokrat digagas pada awal Agustus 2001 oleh dua tokoh utama yang tercatat dalam sejarah pendirian partai, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Vence Rumangkang.
Partai Demokrat kemudian secara resmi didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM pada 9 September 2001. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun SBY.
Menurut Dewa Badra, proses pendaftaran itu diprakarsai 99 orang pendiri. Salah satunya adalah tokoh asal Bali, Drs. I Wayan Sugiana, yang ketika itu merupakan seorang dosen di Jakarta.
“Pendaftaran ini diprakarsai oleh 99 orang pendiri, salah satunya adalah sahabat kita dari Bali, Bapak Drs. I Wayan Sugiana, seorang dosen di Jakarta,” ungkapnya.
Setelah proses tersebut berjalan, mandat dan surat tugas pembentukan kepengurusan daerah kemudian diberikan kepada Ir. Anak Agung Susila Jelantik, M.S., yang disebut merupakan kerabat dari Ajik Sudarsi.
Pembentukan struktur Partai Demokrat di Bali selanjutnya mulai digerakkan. Dewa Badra mengatakan, proses tersebut berlangsung dalam situasi yang tidak mudah, terutama karena saat itu Partai Demokrat merupakan partai politik baru yang harus mempersiapkan diri menghadapi proses verifikasi.
Menjelang verifikasi partai politik, kepengurusan Partai Demokrat Bali berhasil dibentuk di tujuh dari sembilan kabupaten/kota.
Setelah struktur di tujuh kabupaten/kota tersebut terbentuk, Partai Demokrat Bali menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di sebuah rumah makan di Jalan Ida Bagus Mantra. Dalam forum tersebut, Dewa Badra kemudian ditunjuk sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Bali.
“Persyaratan saat itu memang hanya memungkinkan tujuh kabupaten/kota. Kisah lengkap perjalanan ini nantinya akan dituangkan dalam buku 25 Tahun Partai Demokrat Provinsi Bali yang dipimpin oleh Pak Sudiartha, Pak Ida Bagus Astawa, serta rekan-rekan lainnya,” jelasnya.
Dewa Badra menambahkan, dalam perjalanan selanjutnya Partai Demokrat senantiasa mengikuti serta mematuhi ketentuan dan regulasi yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik di tingkat pusat maupun Provinsi Bali.
Usia 25 Tahun Harus Dimaknai sebagai Kedewasaan
Hal kedua yang perlu dimaknai, menurut Dewa Badra, adalah pertambahan usia organisasi sebagai proses menuju kedewasaan.
Partai Demokrat yang berdiri sejak 2001 kini telah melewati perjalanan selama 25 tahun. Jika dianalogikan dengan usia manusia, seperempat abad merupakan fase yang cukup matang untuk memahami berbagai dinamika dan konstelasi politik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Usia 25 tahun adalah usia yang cukup matang untuk memahami konstelasi politik, baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.
Memasuki usia tersebut, Partai Demokrat Bali dinilai perlu semakin memahami tantangan politik sekaligus memperkuat kemampuan organisasi dalam menghadapi berbagai perubahan.
Refleksi untuk Menegakkan Visi dan Misi
Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah refleksi.
Dewa Badra menilai, perjalanan selama 25 tahun perlu menjadi bahan evaluasi bersama, baik terhadap konsolidasi internal maupun hubungan dan kerja-kerja politik dengan pihak eksternal.
“Refleksi terpenting adalah bagaimana visi, misi, dan platform Partai Demokrat dapat diwujudkan secara nasional maupun daerah,” katanya.
Ia menyebut platform Partai Demokrat bertumpu pada tiga pilar, yakni nasionalis, pluralis, dan humanis. Ketiga nilai tersebut kemudian berpadu dalam semangat nasionalis-religius.
Dewa Badra juga mengingat kembali masa awal berdirinya Partai Demokrat di Bali, terutama setelah tragedi Bom Bali. Pada saat itu, menurut dia, tujuan perjuangan tidak semata-mata diarahkan untuk mendapatkan kursi di lembaga legislatif.
Lebih jauh, partai ingin menawarkan gagasan mengenai terciptanya masyarakat yang aman, sejahtera, dan demokratis.
“Kondisi Bali saat itu sangat membutuhkan rasa aman. Dari keamanan, pariwisata dapat pulih kembali, dan dari pariwisata itulah kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Nilai-nilai inilah yang kita tawarkan ke masyarakat sehingga banyak tokoh yang tertarik untuk bergabung,” paparnya.
Dewa Badra juga mengingat perjalanan politik Partai Demokrat pada masa awal, ketika persyaratan pengusungan calon presiden berada di angka 3 persen. Perolehan suara Partai Demokrat secara nasional ketika itu disebut mencapai sekitar 7,5 persen, sedangkan di Bali sekitar 6 persen.
Situasi tersebut, lanjutnya, kemudian ikut mendorong sejumlah tokoh dan elemen partai lain bergabung dalam Barisan Partai Demokrat untuk mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.
Dua Prinsip untuk Membesarkan Partai
Di usia 25 tahun, Dewa Badra berharap Partai Demokrat dapat terus dibesarkan secara bersama-sama sehingga tetap mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat dan menjalankan amanah sebagaimana cita-cita yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Ia menyebut ada dua prinsip yang menurutnya penting untuk menjaga pertumbuhan organisasi.
Pertama, menghormati setiap orang yang datang dan ingin bergabung. Kedua, menghargai mereka yang telah lebih dahulu berjuang dan menjadi bagian dari kepengurusan partai.
Prinsip tersebut, kata Dewa Badra, pernah diterapkan ketika Partai Demokrat Bali menyambut sejumlah tokoh yang bergabung, antara lain Ngurah Wididana alias Pak Oles, Putu Suasta, Made Karda, Turah Santika, serta tokoh-tokoh lainnya.
“Jika kita mampu merangkai dua prinsip ini, yaitu menghormati yang baru datang dan menghargai yang sudah ada di dalam, niscaya Partai Demokrat ke depan akan jauh lebih maju, lebih baik, dan semakin dicintai rakyat,” pungkasnya.
Peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat Bali pun ditutup dengan seruan semangat dan yel-yel partai.
“Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! AHY! Yes!”. (red/riza)