FGD Dharma Shanti Nyepi Bahas Ketahanan Generasi Muda Hindu, Godok Tema Seminar Nasional 2026

IMG-20260315-WA0170
Panitia Dharma Shanti Nyepi bersama para akademisi dan narasumber berfoto bersama usai Focus Group Discussion (FGD) pra-Seminar Nasional Dharma Shanti Nyepi Tahun Saka 1948 di Kantor PHDI Provinsi Bali, Denpasar, Minggu (15/3/2026). Diskusi membahas ketahanan generasi muda Hindu menjelang Seminar Nasional yang akan digelar di UNHI Denpasar. (Foto: Ist)

DENPASAR | Dunia News Bali – Panitia Dharma Shanti Nyepi menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas strategi memperkuat ketahanan generasi muda Hindu. Kegiatan ini berlangsung di Kantor PHDI Provinsi Bali, Minggu (15/3/2026).

FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju Seminar Nasional Dharma Shanti Nyepi 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6 April 2026 di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar.

Diskusi ini difokuskan untuk merumuskan dan mematangkan tema seminar nasional bertajuk “Membangun Ketahanan Generasi Muda Hindu: Antara Kebutuhan Ekonomi, Identitas, dan Pendidikan.” Tema tersebut dipandang penting untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda Hindu di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.

Sebanyak 12 narasumber dari beragam latar belakang keilmuan turut ambil bagian dalam diskusi tersebut. Para pembicara berasal dari bidang ekonomi, kebudayaan, spiritualitas, manajemen sumber daya manusia, hingga pendidikan, sehingga memberikan perspektif yang komprehensif terhadap isu ketahanan generasi muda Hindu.

Akademisi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Ni Kadek Surpi, dalam paparannya menekankan pentingnya perencanaan strategis sumber daya manusia umat Hindu untuk memperkuat ketahanan generasi muda.

Menurutnya, dengan jumlah umat Hindu yang diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta jiwa, diperlukan penguatan di berbagai sektor strategis. Ia memperkirakan untuk menopang ketahanan umat Hindu dibutuhkan sekitar 189 ribu wirausaha, 7 ribu politisi, 47 ribu akademisi, 569 ribu cendekiawan, 37 ribu anggota TNI/Polri, 18 ribu guru pendidik, serta sekitar lima persen influencer Hindu.

Baca juga:  Koperasi dan Kemakmuran Bangsa

Surpi juga menyoroti keberadaan sekitar 1,3 juta generasi muda Hindu yang perlu dipersiapkan secara terarah. Menurutnya, kelompok ini memiliki potensi besar untuk mengisi berbagai sektor strategis dan menjadi kekuatan utama dalam pembangunan masa depan umat Hindu.

Sementara itu, akademisi UNHI Denpasar Agung Paramitha menyoroti tantangan nilai, spiritualitas, dan budaya yang dihadapi generasi muda Hindu di era modern.

Ia menilai sebagian generasi muda saat ini mengalami disorientasi nilai budaya, di mana mereka lebih memandang diri sebagai “warga dunia” dibandingkan sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh derasnya arus informasi digital yang tidak selalu diimbangi dengan kemampuan literasi dan penyaringan informasi secara kritis.

Selain itu, Paramitha juga menyoroti adanya disorientasi spiritualitas yang berdampak pada berkurangnya ketenangan batin, menurunnya kepekaan sosial, serta munculnya kecenderungan sikap individualistik di kalangan generasi muda.

Tantangan lainnya terlihat dalam praktik keagamaan yang mulai dipengaruhi oleh kecenderungan materialisme dan formalisme, di mana ritual sering kali dijalankan sekadar sebagai formalitas tanpa pemaknaan spiritual yang mendalam.

Baca juga:  Mulai 2026, Desa Wisata Penglipuran Terapkan Paket Berkunjung demi Pariwisata Berkelanjutan

Ia juga menilai meningkatnya biaya sosial dan pelaksanaan ritual keagamaan turut memicu pergeseran makna upacara, dari yang semula sarat simbol kesuburan dan nilai spiritual, menjadi kegiatan yang lebih bersifat seremonial.

Meski demikian, Paramitha menegaskan bahwa umat Hindu memiliki kekuatan khas yang ia sebut sebagai “DNA genius sintesa”, yaitu kemampuan untuk menyelaraskan tradisi dengan perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi dan dinamika peradaban modern.

Pandangan lain disampaikan akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof. Sutarya yang menyoroti dinamika generasi muda Hindu dalam konteks sosial, ekonomi, dan teknologi.

Ia menjelaskan bahwa cukup banyak generasi muda Hindu yang memilih bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dari Bali saja, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 9.000 orang dengan tujuan negara seperti Turki, Italia, dan Jepang.

Menurutnya, migrasi generasi muda tidak hanya terjadi ke luar negeri, tetapi juga dari desa menuju kota. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam aktivitas sosial dan budaya di lingkungan desa.

Baca juga:  OJK dan Bareskrim Polri Perbarui Kerja Sama, Penegakan Hukum Keuangan Kini Lebih Terpadu

Sutarya menilai salah satu faktor pendorong generasi muda bekerja di luar negeri adalah tingkat upah minimum regional yang relatif rendah, yakni sekitar Rp3 juta.

Meski demikian, ia mengakui bahwa generasi muda Hindu memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik dan relatif mudah diterima di berbagai negara. Namun, ia mengingatkan bahwa jika terlalu banyak generasi muda bekerja di luar negeri, terdapat risiko posisi strategis di dalam negeri justru diisi oleh pihak luar.

Karena itu, generasi muda Hindu dinilai perlu membangun jejaring global sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia, sehingga mampu bersaing di tingkat internasional tanpa kehilangan peran strategis dalam pembangunan bangsa. (red)

Berita Terpopular

tanah lot
galungan