Menpar Buka BBTF 2026, Target Pasar Pariwisata Bergeser ke Kawasan Dekat

DENPASAR | Dunia News Bali – Menteri Pariwisata resmi membuka Bali Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 pada Jumat (29/5/2026). Ajang bursa pariwisata internasional tersebut digelar di tengah dinamika geopolitik global yang masih berlangsung dan memengaruhi berbagai sektor, termasuk industri pariwisata.

Menghadapi kondisi tersebut, penyelenggara BBTF 2026 menerapkan strategi baru dengan mengalihkan fokus pasar dari wisatawan jarak jauh (long-haul market) ke pasar wisatawan jarak dekat (short-haul market). Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga kesinambungan transaksi bisnis pariwisata sekaligus memperluas peluang pasar yang dinilai lebih adaptif terhadap situasi global saat ini.

Perubahan strategi tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Bali dan Kementerian Pariwisata. Jika sebelumnya pasar utama lebih banyak menyasar kawasan Eropa dan negara-negara tujuan jarak jauh lainnya, tahun ini fokus diarahkan ke kawasan ASEAN, Asia, serta Afrika.

Ketua ASITA Bali yang juga Ketua Panitia BBTF 2026, Putu Winastra, mengakui bahwa kondisi geopolitik yang berkembang sejak awal tahun sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap tingkat partisipasi pelaku industri pariwisata. Namun, penyesuaian strategi pasar justru mampu menjaga optimisme penyelenggaraan ajang tersebut.

Baca juga:  Kodam IX/Udayana Buktikan Komitmen TNI di Dunia Pendidikan "Kami Wujudkan Amanah UUD dengan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa"

“Awalnya kami sedikit pesimis karena situasi geopolitik yang sangat luar biasa. Namun atas arahan Gubernur dan Kementerian, kami mengubah pasar yang dicari dari long-haul market menjadi short-haul market. Tahun ini yang banyak hadir berasal dari ASEAN, Asia, dan Afrika,” ujar Putu Winastra di Denpasar.

Hasilnya, jumlah peserta yang terlibat dalam BBTF 2026 melampaui target yang telah ditetapkan. Sebanyak 286 eksibitor dari empat negara dan 12 provinsi di Indonesia ambil bagian dalam kegiatan ini. Capaian tersebut berada di atas target awal yang dipatok sebanyak 250 eksibitor.

Partisipasi buyer juga menunjukkan tren positif. Sebanyak 407 tour operator dari 44 negara tercatat mengikuti kegiatan business matching dan travel exchange, melampaui target awal sebanyak 400 tour operator. Selama penyelenggaraan BBTF, para pelaku industri pariwisata memanfaatkan kesempatan untuk menawarkan beragam paket wisata unggulan kepada calon mitra bisnis dari berbagai negara.

Target Transaksi Disesuaikan

Meski jumlah peserta mengalami peningkatan, pergeseran fokus pasar dari long-haul market ke short-haul market berdampak pada proyeksi nilai transaksi yang dihasilkan selama pameran berlangsung. Karakteristik wisatawan dan pelaku usaha dari pasar jarak dekat dinilai berbeda, terutama dari sisi daya beli dan besaran transaksi yang biasanya terjadi.

Baca juga:  ITLS 2024, Regeneratifkan Bali Melalui Tata Kelola, Penegakan Aturan Dan Konservasi Lingkungan

Menurut Putu Winastra, kondisi tersebut membuat potensi transaksi tahun ini diperkirakan tidak setinggi proyeksi awal maupun capaian yang diperoleh pada penyelenggaraan sebelumnya.

“Dari sisi jumlah memang melebihi target. Namun TO yang hadir tidak bisa disamakan dengan market long-haul, sehingga potensi transaksi yang akan terjadi pasti di bawah ekspektasi awal,” katanya.

Atas dasar perhitungan tersebut, panitia melakukan penyesuaian target transaksi BBTF 2026 menjadi Rp6,8 triliun. Angka ini lebih rendah dibanding target awal sebesar Rp7,6 triliun atau turun sekitar 12 persen.

Kendati demikian, tingginya antusiasme eksibitor dan buyer dari puluhan negara menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bali, tetap memiliki daya tarik kuat di mata pasar internasional. Kehadiran ratusan pelaku industri pariwisata dari berbagai kawasan menjadi sinyal positif bahwa sektor pariwisata nasional masih memiliki daya saing dan peluang pertumbuhan yang besar di tengah tantangan global. (red/ich)

Berita Terpopular

Scroll to Top