Undiknas Terjunkan Mahasiswa Bantu Pemulihan Korban Gempa di Manggarai Barat

Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) saat melaksanakan KKN Tematik Kebencanaan di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

MANGGARAI BARAT  | Dunia News Bali – Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) mengirimkan puluhan mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kebencanaan di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan yang berlangsung pada 20-22 September 2026 tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Program ini menyasar ratusan siswa sekolah dasar (SD) serta puluhan warga lanjut usia (lansia).

Selain menyalurkan bantuan, mahasiswa Undiknas juga menggelar sejumlah kegiatan pemulihan pascabencana. Warga diajak mengikuti trauma healing, permainan, senam, edukasi mengenai obat-obatan, hingga sosialisasi mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana.

Wakil Rektor I Undiknas, Prof. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si., mengatakan KKN Tematik Kebencanaan tersebut dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan bantuan secara langsung, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi dampak psikologis setelah mengalami gempa.

“Fokus utama dalam kegiatan ini untuk membantu masyarakat menyembuhkan rasa trauma akibat gempa dengan memberikan trauma healing, dan kegiatan-kegiatan seru di antaranya games, senam, sosialisasi tentang obat dan sosialisasi langkah menghadapi kebencanaan,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Baca juga:  Hangatnya Kebersamaan di Badung: Kejari Gelar Sholat Idul Adha dan Bagi Qurban Bareng Warga

Menurut Prof. Widhi, kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu bersama dosen pendamping. Setiap peserta memiliki tugas masing-masing selama menjalankan pengabdian di lokasi bencana.

Desa Golo Sepang dipilih sebagai lokasi KKN karena merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah akibat gempa. Kondisi tersebut membuat sebagian warga bahkan masih merasa takut untuk kembali menempati rumah masing-masing.

“Mereka terdampak cukup parah sampai masih ada yang belum berani balik ke rumahnya masing-masing,” katanya.

KKN Tematik Kebencanaan di Manggarai Barat juga menjadi pengalaman perdana bagi Undiknas dalam melaksanakan program KKN Tematik di luar daerah.

Prof. Widhi berharap keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman langsung dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pada aspek pengabdian kepada masyarakat.

Pengalaman selama berada di daerah terdampak bencana, lanjutnya, juga diharapkan dapat dikembangkan mahasiswa menjadi karya tulis maupun publikasi.

Di sisi lain, kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memberikan suasana baru bagi masyarakat setelah bencana. Antusiasme anak-anak dalam mengikuti berbagai kegiatan menjadi salah satu gambaran bahwa interaksi tersebut mampu menghadirkan kegembiraan di tengah kondisi pascabencana.

Baca juga:  SBA Bali Padukan Spiritualitas dan Finansial untuk Bangun Kehidupan Lebih Bernilai

“Tadi juga sampai enggak dikasih pulang karena mereka merasa bahwa kedatangan kami ini menimbulkan suasana kegembiraan, menghilangkan sedikit traumatik untuk mereka,” ujar Prof. Widhi.

Tak hanya memberikan pendampingan psikologis dan edukasi kebencanaan, Undiknas juga menyerahkan ratusan paket sembako serta obat-obatan untuk masyarakat yang terdampak gempa.

Mewakili Kepala Desa Golo Sepang, Suardin menyampaikan apresiasi kepada Undiknas atas kepedulian dan bantuan yang diberikan kepada warga. Ia secara khusus mengapresiasi kegiatan trauma healing yang dinilai dapat membantu masyarakat, terutama anak-anak, melewati masa pemulihan setelah bencana.

“Terima kasih kedatangan dengan jumlah banyak dan bawa trauma healing bagi warga kami. Kami harapkan kegiatan ini bisa memberikan kebahagiaan kepada warga kami,” ujarnya.

Suardin menjelaskan, bantuan yang disalurkan Undiknas selanjutnya akan didistribusikan kepada warga terdampak berdasarkan tingkat kerusakan rumah, mulai dari kategori rusak berat, rusak sedang hingga rusak ringan.

Ia menambahkan, sejumlah kebutuhan masyarakat masih tergolong mendesak, khususnya bagi warga yang sampai saat ini masih harus tinggal di tenda pengungsian.

Baca juga:  Gubernur Koster: Menteri LH Setujui Perpanjangan Operasional TPA Suwung hingga November 2026

“Kebutuhan yang masih diperlukan antara lain beras, terpal dan karpet,” katanya. (dnb13)

Berita Terpopular

Scroll to Top